Informasi Lagu
- Artis: Actor | Observer
- Judul Lagu: Pareidolia
- Album: Pareidolia
- Tahun Rilis Album: 2018
- Genre: Rock Progresif, Metal Progresif
- Trivia: Lagu ini dikenal karena struktur musiknya yang kompleks, ciri khas genre rock progresif/metal progresif, yang seringkali mencerminkan kedalaman lirik mereka.
Lirik dan Terjemahan
“Do you want to see the house?”
“Apakah kamu mau lihat rumah itu?”
My mother asked me
Ibuku bertanya padaku
Just a quarter mile
Hanya seperempat mil
Before the turn off 118
Sebelum belokan 118
She didn’t say “old”
Dia tidak bilang “tua”
Because it hadn’t been sold yet
Karena rumah itu belum terjual
But I noticed that she didn’t say “our house”
Tapi aku sadar dia tidak bilang “rumah kita”
Just “the”
Hanya “itu”
As if to imply some greater
Seolah menyiratkan makna yang lebih besar
Unspeakable meaning
Makna yang tak terkatakan
Like a place in history
Seperti sebuah tempat dalam sejarah
Or the scene of a crime
Atau tempat kejadian perkara
Or a haunted estate
Atau rumah angker
Where people only visit
Di mana orang hanya berkunjung
To feel some brief presence
Untuk merasakan kehadiran sesaat
Of a past life
Dari kehidupan masa lalu
Or the hope
Atau harapan
Of a life past this one
Akan kehidupan setelah yang ini
Maybe that’s why she asked
Mungkin itu sebabnya dia bertanya
Maybe that’s why I said “sure”
Mungkin itu sebabnya aku bilang “tentu saja”
Or maybe we both just wanted some closure
Atau mungkin kita berdua hanya ingin penutupan
Maybe that’s why she asked
Mungkin itu sebabnya dia bertanya
Maybe that’s why I said “sure”
Mungkin itu sebabnya aku bilang “tentu saja”
Or maybe we both just wanted it to be over
Atau mungkin kita berdua hanya ingin ini berakhir
So we turned and followed
Maka kami berbelok dan mengikuti
Familiar streets
Jalan-jalan yang familier
Past train tracks, houses
Melewati rel kereta, rumah-rumah
And memories
Dan kenangan
Of my only former life
Dari satu-satunya kehidupan lamaku
Not much had changed
Tidak banyak yang berubah
In that neighborhood
Di lingkungan itu
Not even the house
Bahkan rumah itu pun tidak
On the outside…
Di luarnya…
What did I expect?
Apa yang kuharapkan?
To see the rooms I knew so well
Melihat kamar-kamar yang kukenal begitu baik
All the patterns erased
Semua pola terhapus
Devoid of life
Hampa dari kehidupan
Covered up in
Tertutup oleh
Eggshell white
Putih cangkang telur
And in an instant
Dan dalam sekejap
The floor fell out beneath me
Lantai terasa runtuh di bawahku
And the walls drifted away
Dan dinding-dindingnya menjauh
Reminded how we’ve always been
Mengingatkanku bahwa kita selalu saja
Just floating through blank space
Hanya melayang melalui ruang kosong
Maybe that’s all we have
Mungkin hanya itu yang kita punya
Maybe I’ll never feel fine
Mungkin aku tidak akan pernah merasa baik-baik saja
Or maybe it will all just take me a lifetime
Atau mungkin ini semua hanya akan memakan seumur hidupku
Maybe that’s all we have
Mungkin hanya itu yang kita punya
Maybe that’s really just fine
Mungkin itu benar-benar baik-baik saja
Or maybe I just haven’t seen it in the right light
Atau mungkin aku hanya belum melihatnya dalam cahaya yang tepat
So that’s it
Jadi, hanya itu
A blank canvas we’re given
Kanvas kosong yang diberikan kepada kita
Upon which to cast whatever
Di mana kita bisa menuangkan apa pun
We choose to believe in
Yang kita pilih untuk percayai
Well, I feel love
Yah, aku merasakan cinta
And I feel loved
Dan aku merasa dicintai
I feel like this right here is true
Aku merasa ini benar adanya
So this is where I stake my claim
Jadi di sinilah aku menancapkan klaimku
A modest home
Sebuah rumah sederhana
With a modest view
Dengan pemandangan sederhana
I’ve built a house of cards
Aku telah membangun istana kartu
With a glass floor on a bottomless pit
Dengan lantai kaca di atas jurang tak berdasar
I’ll never take for granted
Yang tidak akan pernah kuanggap remeh
When I look down I can’t forget
Ketika aku melihat ke bawah aku tidak bisa lupa
Perception is reality
Persepsi adalah realitas
Life is truly what you make it
Hidup benar-benar apa yang kamu buat
So I’m taking stock of what’s around me
Jadi aku mencatat apa yang ada di sekitarku
And trying my hardest to embrace it
Dan berusaha sekeras mungkin untuk merangkulnya
The reasons I wanted to kill myself
Alasan-alasan aku ingin membunuh diriku
Have never truly gone away
Tidak pernah benar-benar hilang
I am just grateful to have found
Aku hanya bersyukur telah menemukan
Stronger reasons for me to stay
Alasan yang lebih kuat bagiku untuk tinggal
Makna Lagu “Pareidolia”
Lagu “Pareidolia” oleh Actor | Observer adalah sebuah eksplorasi mendalam tentang bagaimana kita menafsirkan realitas dan bagaimana pengalaman masa lalu membentuk pandangan kita terhadap dunia dan diri sendiri. Judul lagu ini sendiri, Pareidolia, merujuk pada kecenderungan psikologis untuk melihat pola atau makna yang dikenal (seperti wajah dalam objek acak) dalam data yang ambigu.
Lirik dimulai dengan adegan naratif yang puitis antara narator dan ibunya mengunjungi rumah lama mereka, yang kini sudah diubah dan dijual (“the house” bukan “our house”). Keraguan sang ibu untuk menyebutnya “rumah kita” memicu refleksi narator tentang makna yang lebih besar, seolah rumah itu adalah tempat bersejarah atau tempat kejahatan, tempat orang mencari “kehadiran sesaat dari kehidupan masa lalu”. Ini menunjukkan bahwa narator sedang bergulat dengan kenangan dan trauma yang terkait dengan tempat tersebut.
Saat melihat rumah itu yang kini dicat putih bersih, narator merasakan kehancuran internal (“The floor fell out beneath me”). Perubahan eksternal pada rumah mencerminkan perasaan bahwa kenangan dan identitas lama mereka telah terhapus atau ditutupi, menyadarkan mereka bahwa mereka selalu “melayang melalui ruang kosong”.
Bagian kedua lagu beralih menjadi afirmasi filosofis. Narator menyimpulkan bahwa hidup adalah kanvas kosong tempat kita melukis keyakinan kita sendiri. Meskipun narator mengakui bahwa alasan untuk bunuh diri (“reasons I wanted to kill myself”) belum sepenuhnya hilang, mereka telah menemukan “alasan yang lebih kuat untuk tinggal”. Ini adalah puncak dari lagu—sebuah penerimaan bahwa realitas adalah konstruksi subjektif (“Perception is reality”) dan bahwa memilih untuk melihat hal-hal baik (cinta, rasa dicintai) adalah tindakan sadar untuk bertahan hidup, membangun “rumah kartu dengan lantai kaca di atas jurang tak berdasar” yang harus dihargai setiap saat.








