Dunia tak selebar daun kelor. Itu adalah pepatah lama. Saat ini mungkin yang paling related di era sosial media adalah;

Dunia tak selebar layar smartphone.

Semua konten bisa kita tampilkan dalam smartphone kita. Baik atau buruk, bagaimana pengguna menfilternya.

Ponsel yang dulunya sebagai alat bantu komunikasi, sekarang telah berubah secara signifikan menjadi sebuah asupan adiktif, seperti narkoba.

Orang yang tiap hari, bahkan tiap menit disela-sela kegiatannya, tak bisa berhenti membuka smartphonenya ketika ada notifikasi. Itu sudah tersistemasi masuk ke syaraf motorik otak manusia.

Namun hal yang mungkin menyedihkan adalah ketika orang membuka ponselnya padahal tidak ada notifikasi apapun, disaat itu dia bingung aplikasi mana yang akan digunakan. Ini dilakukan sebagai tameng anti mati gaya.

Sebagai contoh, sebuah keluarga dengan ayah, ibu, dan anak remaja sedang berkunjung ke rumah saudara. Bertemu saling ngobrol, namun sang anak tidak tahu bagaimana untuk berbagi cerita dalam satu meja besar. Nah, disitu remaja tersebut mulai mengeluarkan smartphonenya, mencari notifikasi padahal nihil, buka whatapp namun semua sudah dibaca, dan akhirnya lari ke instagram. Scrolling, scrolling, dan terus scrolling, tak menemukan kepuasan, lari ke Tiktok, dan mulai detik itulah dia seperti zombie.

Apakah itu kesalahan?

Tidak.

Apakah itu sebuah hal yang benar?

Tidak juga.

Sosial media diciptakan oleh pendirinya berdasarkan kebutuhan masyarakan modern. Salah satu yang terbesar adalah Facebook. Didirikan oleh Mark Zuckerberg tahun 2004, kini menjadi kekuatan besar karena memiliki data mutakhir.

Ketika publik menpertanyakan kepada Mark tentang pengaruh sosial media yang menjurus pada kerusakan, sampai saat ini ia masih tetap mencoba membuat algoritma di arah yang benar.

Ini bisa diasumsikan, perancang algorithm telah mebuat teknologi yang tak terkontrol sempurna.

Disisi lain, ada kepentingan yang memanfaatkan keberadaan platform tersebut.

Tidak hanya sosial media, kita lihat saat ini hampir semua platform digital menggunakan algoritma: news, marketplace, search engine, bahkan joedi online yang membuat kaya sementara dan memiskinkan ending para usernya.

Model Bisnis AI

Model bisnis AI (Artificial Intelligence) baru ada di abad 21 dan berkembang pesat dalam 2 dekade terakhir.

Secara konvensional, bisnis mencakup penjualan produk dan jasa secara nyata. Sedangkan model bisnis AI lebih kepada pemanfaatan data.

Semua plaftorm digital mencoba untuk mengarahkan pengguna barunya untuk login. Dari situ data pengguna direkam dan diterjemahkan dalam algoritma yang mereka buat.

Ketika kita nonton Youtube dalam guest mode (tanpa login), akan muncul tampilan apa yang sedang ramai di negara kita (trending), karena algoritma membaca dari demografi dimana kita tinggal. Ketika kita login, maka disitu ada rekomendasi berdasarkan apa yang kita tonton sebelumnya, tontonan apa yang juga banyak ditonton orang lain berdasarkan usia, gender, minat kita dan masih banyak hal lain yang mempengaruhi algoritma tersebut bekerja.

Patform sosial media mengumpulkan data dari jutaan penggunanya dan mengelompokkan menjadi beberapa kategori. Mereka simpan dalam database mereka dan akan digunakan untuk mengukur berapa revenue yang akan dihasilkan jika data itu dijual kepada pengiklan.

Contoh sederhananya:

Jarwo adalah anak muda yang hobi memancing. Di dalam akun facebooknya ia berteman dengan beberapa rekan dengan hobi yang sama.

Saat Suryadi, teman Jarwo, memposting foto hasil tangkapan ikan di sungai dengan caption: “Mantabbb, hari ini strike dapat arapaima besar di pantai selatan.”

Jarwo berkomentar: “senar pancingnya kok nggak putus ya? keren”

Kemudian Suryadi membalas: “Yoi bro, pakai senar pancing Shimano”

Jarwo: “pasti mahal ya?”

Suryadi: “nggak bro, murah tapi berkualitas ini”

Ketika berinteraksi, baik komentar, atau private message, ada beberapa kata kunci yang ia gunakan. Maka data-data percakapan itu disimpan kedalam database facebook.

Dari keyword tersebut dikumpulkan, ada beberapa kata kunci yang memiliki nilai CPC (cost per click) dan CPM (cost per milion).

Facebook kemudian menawarkan kepada calon pengiklan. Misal, dalam satu bulan orang mengetik kata kunci:

“senar” “pancing” “murah” yang direkam di facebook ada 10juta interest (peminat) data dalam satu bulan.

Dari situlah perhitungan dimulai. Jarwo dan Suryadi adalah target market pengiklan.

Facebook menerapkan biaya CPC dan CPM dalam facebook-ads nya. Ini bisa dilakukan dengan cara manual menfilter kata kunci ataupun mengikuti rekomendasi facebook dengan algoritma canggih mereka.

Mahal atau tidaknya iklan tergantung nilai bid (lelang) yang mereka pasang.

Contoh:

Ketika Tukiyem, pedagang Shimano menjual senar pancing seharga 50.000, keuntungan per itemnya adalah Rp. 5.000 dari modal Rp. 45.000. Ia memasang iklan dengan biaya iklan Rp. 100.000 dengan mengatur CPC Rp. 100.

Dengan CPC tersebut, menghasilkan klik sebanyak 1000 orang. Dari banyaknya klik tersebut ia mendapatkan order 10 orang (konversi 1%). Itu artinya pengiklan mengeluarkan uang Rp. 100.000 dan mendapatkan profit Rp. 5.000 x 10 = Rp 50.000

Boncos?

Ya, itu adalah contoh kerugian cara CPC bekerja jika konversi tidak seperti yang diharapkan.

Ketika saldo pengiklan habis, maka akan diberitahu facebook akan ada bonus top up jika mereka beriklan lagi.

Tukiyem pasang lagi jebret, kemudian aktifkan CPC dan CPM Rp. 100.000 plus bonus toptup gratis Rp. 15.000

Tukiyem kali ini memasang sesuai rekomendasi facebook. Dan hasilnya konversi CPC naik menjadi 2%, break 0.

Tapi, CPM masih terus berjalan, ini disebut retargeting.

Jarwo yang sedang asyik menggulir beranda facebook. Kemudian ia melihat senar pancing shimano murah. Klik dan hanya nonton, karena Jarwo belum gajian maka ia menunda jajan. Besoknya ia melihat lagi iklan itu nongol. Ia penasaran kemudian menelusuri review baik itu di blog, ataupun youtube. Semakin tertanam di bawah sadarnya ia harus segera memiliki senar tersebut.

Saat hari itu tiba Jarwo gajian. Ia sedang asyik menggulir facebooknya mungkin nyaris lupa, lagi-lagi ia melihat iklan yang itu lagi untuk ke tiga kalinya. Karena algoritma sudah merekam apasaja kegiatan Jarwo, bahkan kapan kebiasaan Jarwo belanja online. Iklan jenis CPM tersebut membuntuti Jarwo berdasarkan interest based. Itu juga dialami banyak “Jarwo lain” diluar sana.

Duarrr… hasil penjualan Tukiyem mencapai 100 pcs.

Keuntungan Tukiyem; (Rp. 5.000 x 100 ) – 100.000 = Rp 400.000

Tukiyem adalah salah satu pengiklan dari jutaan pengliklan lain di seluruh dunia. Ada berbagai produk dan jasa yang diiklankan disana dengan nominal recehan sampai jutaan dolar.

Jadi, jika pertanyaan mengapa Mark Zuckerberg bisa menjadi salah satu orang terkaya dunia?

Salah satu jawabannya: Karena bisnis model AI dengan layanan yang menggunakan data user.

Kepentingan Internasional

Mungkin mindset orang miskin akan berkata “kalau saya punya 1 milyar, saya akan beli mobil, rumah, dan menikmati sisa hidup”.

Namun seandainya orang miskin tersebut mendapatkan uang tersebut apakah ia akan begitu?

Sebagian besar manusia memiliki ambisi untuk memiliki harta sebanyak-banyaknya. Jika itu sudah tercapai, seorang yang mempunyai ambisi besar akan melakukan banyak hal yang ia inginkan ditambah ego.

Klasiknya: Harta-tahta-wanita

Siapa yang tidak kenal Bill Gates, adalah pendiri Microsoft dengan kekayaan USD 126 milyar. Apakah kemudian ia berhenti membuat hal baru? tidak.

Ia justru memiliki ambisi selain berkutik di bidang technologi. Ia mulai mengejar tahta sebagai orang berpengaruh di dunia saat ini. Ia saat ini mungkin memiliki banyak kapasitas untuk terjun di dunia internasional.

Seperti kita ketahui, baru-baru Bill Gates telah bercerai dengan istrinya. Dari laman Washington Posts, rumor penyebab antara lain adalah mantan kekasihnya Ann Winblad, serta bergaul dengan Epstein juga dikenal dekat dengan banyak sosok berpengaruh di kalangan elit internasional, seperti Donald Trump, Bill Clinton, hingga Pangeran Andrew sejak dua tahun lalu.

Dari laman berita internasional kita tahu Bill Gates beberapa kali membuat pernyataan tentang covid dan tatanan dunia. Itu adalah tahta yang dikejar saat ini… dan wanita…

Kita pahami bahwa ketika orang berada di bawah, ingin sekali menaiki pohon yang tinggi supaya merasakan sejuk. Namun justru setelah di puncak pohon tersebut terpaan angin begitu kencang dan dingin.

Scooby-Doo, tidak ada kaitannya dengan pembahasan ini. Tapi setidaknya bisa buat acuan bahwa orang-orang barat sana, memiliki kecenderungan untuk berkata jujur ketika sadar apa yang dilakukannya salah.

Dalam serial kartun Scooby-Doo, seorang penjahat menyamar menjadi hantu untuk menakuti dan mengancam orang-orang disekitar. Namun ketika tertangkap dan tidak bisa berbuat apa-apa, kemudian ia mengatakan semuanya secara jelas.

Sama halnya seperti Tristan Harris, ia adalah mantan pengembang Google Inbox (2015-2019) yang sekarang menjadi technology ethicist. Menurutnya, orang-orang di linkungan technology tidak banyak, tapi dapat mempengaruhi hampir seluruh dunia.

 “Never before in history have 50 designers made decisions that would have an impact on two billion people.”

Tristan Harris

Apa yang dilakukan pengembang teknologi seperti Google, Facebook, Twitter, Tiktok, Snapchat sangat mudah untuk mendulang miliaran dolar dengan database yang mereka punya saat ini.

Segmen apapun, komersial sampai kepentingan politik. Sosial media menjadi alat yang luar biasa.

Sangat mudah bagi pemilik kepentingan untuk memunculkan hoax atau black campaign. Menurut Harris, contoh paling simple adalah mengelompokkan orang-orang yang meyakini bahwa bumi itu bulat, mereka semua mudah dihasut untuk menyebarkan kepalsuan-kepalsuan alinnya.

Platform sosial media bisa apa?

Mereka pengembang hanya menciptakan algoritma secara bertahap, canggih, tapi tidak menjamin sebuah kebenaran atau hoax. Karena sekali lagi agorithm berdasarkan AI. Untuk mengujinya, menggunakan A/B testing.

World War III

Amit-amit, semoga tidak terjadi. Namun, ada indikasi serius dalam hal ini.

Peperangan telah ada dan masih juga terjadi sampai saat ini. Perang dunia I dan II menyisakan sejarah kelam.

Sebanyak 850.000 tentara menjadi korban Perang Dunia I. Mereka meninggal akibat luka atau penyakit yang disebabkan oleh perang tersebut. Sekitar 13 juta rakyat sipil meninggal akibat kelaparan, penyakit, hingga agresi militer yang disebabkan oleh Perang Dunia I.

Perang Dunia II merupakan perang paling besar yang pernah terjadi sepanjang sejarah. Lebih dari 55 juta masyarakat menjadi korban dari perang ini. Termasuk diantaranya adalah 6 juta penduduk Yahudi yang tewas akibat di kamp konsentrasi milik Nazi.

Jika perang dunia 1 dan 2 menggunakan senjata perang seperti tank dan pesawat. Perang dunia 3 terjadi, hampir dipastikan cyber-weapon akan ikut terlibat.

Terdengar konyol dan mungkin menganggap hanya ada di film-film. Tapi sebenarnya itu sudah terjadi 10 tahun yang lalu.

Dalam dokumentasi yang terbongkar, mulai dari Wikileaks oleh Julian Assange, Snowden, dan seorang wanita Anonymous, mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.

WikiLeaks released a report disclosing a “serious nuclear accident” at the Iranian Natanz nuclear facility in 2009.[79] According to media reports, the accident may have been the direct result of a cyber-attack at Iran’s nuclear program, carried out with the Stuxnet computer worm, a cyber-weapon built jointly by the United States and Israel.

Dalam dokumentasi Zero Days (2016), Amerika Serikat meminta hacker untuk menyerang (cyber-attack) dengan targetnya adalah Iran.

Iran merupakan musuh utama Amerika Serikat, ketika itu Mahmoud Ahmadinejad sebagai presiden tidak takut untuk mendeklarasikan perang jika itu harus terjadi. Dan mereka sedang melakukan pengayaan uranium sebagai senjata perang.

Ketakutan ada di pihak Israel. Israel tergesa-gesa menggunakan malware yang dibuat hacker tadi yang disebut sebagai stuxnet. Malware ini ditanam pada sebuah PLC SIEMENS (controller) dan memanipulasinya sehingga menyebabkan ledakan.

Hacker awalnya hanya ingin melihat reaksi uranium setelah disusupi malware. Dan itu berhasil mengubah frekuensi tanpa ketahuan dengan tujuan membuat para insinyur frustasi.

Dari situlah hacker tersebut geram pada israel karena dinilai ceroboh. Dia mengaku kapan saja bisa melakukannya, bahkan sebelumnya saat invasi iraq, dia bisa menanamkan malware pada ponsel seseorang melalui satelit secara realtime. Membuat sms palsu seolah-olah dari temannya untuk berkumpul, kemudian, boooom, rata.

Nah, dari kejadian tersebut potensi cyber sebagai cyber-weapon semakin santer.

Mungkin ini adalah skala para petinggi negara, sedangkan kita sebagai masyarakat, perlu memahami bagaimana cara kerja smartphone yang kita gunakan sehari-hari.

Bagaimana peran platform sosial media di masa mendatang?

Sepertinya apapun data pengguna yang mereka simpan, akan memiliki nilai dan membuat polarisasi.

Bijak dalam menggunakan sosial media, pelajari dan pahami potensi hoax dan hasutan.

Sebagian besar pengembang teknologi, mereka sangat peduli kepada keluarganya terutama pada anak-anaknya.

Mereka membatasi bahkan tidak memberikan smartphone dengan aplikasi sosial media sebelum ia tahu bagaimana cara kerja platform sosial media.

Salah satu dampak buruk adiksi sosmed di lingkungan terdekat adalah; PERANG SAUDARA.

(ref. Jeff Orlowski; The Social Dillema 2020)