Ketika kita masuk ke sebuah pasar tradisional, toko tani atau toko bangunan, sangat mudah untuk mencari cangkul yang dibuat oleh pabrik di Indonesia atau dibuat secara tradisional oleh pande besi di berbagai pelosok tanah air. Namun, kabar beredar bahwa pemerintah membuka keran impor cangkul untuk memenuhi kebutuhan.  Indonesia ternyata telah mengimpor cangkul dari China. Impor cangkul menambah jumlah makin banyaknya barang-barang yang diimpor oleh Indonesia.

Dikutip dari laman Detikcom, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengakui adanya impor cangkul di Indonesia. Menurut Enggar, izin impor tersebut menindaklanjuti rekomendasi dari Kementerian Perindustrian.

Enggar mengatakan, pada pukul 12.00 WIB tadi jajaran Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian Perdagangan (Kemendag) membahas soal impor tersebut.

Enggar menyebut izin impor tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan industri.

“Jam 12 tadi ada rapat di Kemenperin, yang hasilnya pak Dirjen kita ada eselon I yang rapat karena pada April-Juni lalu sudah keluar izinnya atas dari rekomendasi Perindustrian,” ujar Enggar di Sarinah, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (31/10/2016).

Pada masa April-Juni tersebut, Menteri Perindustrian masih dipegang Saleh Husin, sementara Menteri Perdagangan dipegang Thomas Lembong.

Ia mengaku Kemendag mengeluarkan izin tersebut karena persyaratan pengajuan izin tersebut telah lengkap.

“Kenapa penyebabnya itu lagi dibahas sekarang. Apa langkah berikutnya itu Kemenperin yang mungkin tahu,” ungkap Enggar.

“Kita mengeluarkan positif online adalah cepat izin. Kalau persyaratan lengkap maka otomatis izin keluar, persyaratannya lengkap, rekomendasinya lengkap ada semua datanya, izin itu keluar. Ini kita bahas dengan Kemenperin melakukan kordinasi mebahas ini saya belum tahu hasilnya,” ungkapnya.

Ia mengatakan saat RI impor cangkul tersebut hanya kebutuhan sesaat. Kini izin selanjutnya tidak diberikan lagi.

“Nggak usah lagi itu kan kebutuhan sesaat, itu sudah stok lagi,” imbuh Enggar.

Perbedaan cangkul impor dari China dan cangkul buatan lokal

impor-cangkul-buatan-china-perbedaan-pacul-buatan-indonesia

Menurut Sujeni, salah seorang pedagang cangkul di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, mengatakan cangkul buatan pabrikan China bisa dikenali dari pelat mata cangkul yang halus dengan bekas pengecoran yang lebih rata dan halus. Hal ini berbeda dengan cangkul buatan lokal yang bagian sambungan lasnya terlihat kasar.

“Cangkulnya diambilnya dari pedagang grosir di Jatinegara, kalau China kan pabrikan, lasnya lebih bagus sambungannya. Kalau lokal agak kasar bagian bekas lasnya, yang lokal dibuat pengrajin besi di daerah Solo, pengelasannya lebih kasar,” ucap Sujeni kepada detikFinance ditemui di tokonya, Selasa (1/11/2016).

Selain dilihat dari bekas sambungan las, kualitas besi yang dipakai cangkul asal Negeri Tirai Bambu ini juga lebih berkualitas sehingga terasa lebih berat. Besi baja yang dipakai pabrikan China, membuat cangkulnya tak mudah berkarat.

“Besi yang dipakai kan berbeda. Kalau China punya lebih bagus kualitasnya, wajar lebih berat sedikit. Kalau China besinya kurang bagus, besinya dari besi bekas yang dilebur dan lasnya nggak rata,” ujar dia.

Sujeni melanjutkan, cangkul impor China juga bisa dikenali dari stiker yang menempel di mata cangkul. Dia pun memperlihatkan cangkul China dengan merk Scock Brand dengan tulisan made in China dan tulisan keterangan berbahasa Mandarin.

Namun demikian, kata Sujeni, pembeli cangkul tak pernah bertanya barang yang dibelinya merupakan buatan pengrajin lokal atau impor dari China.

“Beli ya beli saja, lihatnya kualitasnya sesuai apa nggak. Mana tahu mereka itu China apa bukan,” tuturnya.

Menurut Sujeni, cangkul yang dijual para pedagang di Pasar Minggu tersebut berasal dari pemasok yang sama. Cangkul China tersebut dijual tanpa gagang seharga Rp 60.000 per buahnya, sementara untuk cangkul buatan pengrajin lokal dibanderol Rp 35.000.

Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan menyayangkan impor cangkul tersebut. Sudah saatnya Indonesia mandiri dan berdaulat bukan terus-terusan impor.

“Kita ini harus berusaha keras untuk mandiri, bayangkan masak cangkul saja impor, daging impor, garam impor,” kata Zulkifli Hasan di LPP Yogyakarta, Sabtu (29/10/2016).

Menurutnya, sebenarnya Indonesia punya segalanya untuk bisa berdaulat. Apakah berdaulat di bidang pangan, atau berdaulat di bidang alat pertanian seperti cangkul yang bisa membuatnya sendiri.

Dia juga mengatakan, perlu dukungan dari berbagai pihak, dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi untuk mewujudkan Indonesia berdaulat. Selain itu, butuh dukungan teknologi untuk mewujudkan swasembada pangan.

“Kalau hanya cangkul saja kita impor, kan repot kita ya,” pungkasnya. (sumber: detik.com)