Fall Out Boy Sekarang vs Dulu

Saya akui, popularitas Fall Out Boy semakin menjamur di dunia setelah mereka merilis album American Beauty/American Psycho di tahun 2015. Kebanyakan orang di dunia bilang bahwa 3 album terakhir FOB lebih baik daripada 3 album FOB pertama. Tapi, saya yang udah keracunan musik rock, dan Fall Out Boy yang sekarang, menurut saya tak lebih dari sekedar lontong yang cepat basi di sore hari.

fall out boy band

3 Album pertama :

  • Take This to Your Grave (2003)
  • From Under the Cork Tree (2005)
  • Infinity on High (2007)

3 Album tarakhir

  • Folie à Deux (2008)
  • Save Rock and Roll (2013)
  • American Beauty/American Psycho (2015)

Mana yang lebih kalian favoritkan, itu terserah, namanya juga selera. Tak ada masalah. Namun disini, saya hanya memberikan opini bahwa lagu-lagu Fall Out Boy di 3 album pertama lah yang paling nendang.

Take This to Your Grave

Mungkin ini masih penyesuaian dari anggota FOB karena masih baru. Genrenya juga masih ‘softcore’ menuju pop-punk. Apalagi background sang frontman Pete Wentz sebelumnya merupakan vokalis post-hardcore band, Arma Angelus. Namun album ini dibuat dengan lirik yang menggabungkan rasa kecintaan, idealisme anak muda tanpa mempedulikan pop-culture.

Lagu “Grand Theft Autumn”, “Sending Postcards from a Plane Crash (Wish You Were Here)”, dan “Saturday” benar-benar menggambarkan band yang memiliki semangat muda.

From Under the Cork Tree

Perkembangan musik yang luar biasa. Album ini paling keren menurut saya, hampir semua lagu yang ada di album ini nggak ada yang mubazir. Sebagai backsong beberapa game dan film, lagu-lagu yang ada di From Under the Cork Tree sangat relevan.

  • Mulai “Snitches and Talkers get Stitches and Walkers”di videogame FlatOut 2.
  • “Our Lawyer Made Us Change the Name of This Song So We Wouldn’t Get Sued” juga memiliki cerita yang menarik didalamnya. Awalnya lagu ini berjudul “My Name Is David Ruffin and These Are The Temptations” namun tersandung masalah dengan pengacara dan label musiknya. Lagu ini pas banget buat video game NHL 06.
  • “Of All the Gin Joints in All the World” rock banget sebagai soundtrack di Saints Row
  • “Dance, Dance” nggak ada bosen-bosennya lagu ini diputar, nyatanya lagu ini digunakan di video game : Burnout Revenge, Juiced: Eliminator, Madden NFL 06, Rock Revolution dan Guitar Hero: Warriors of Rock. Tidak hanya itu, beberapa film seperti American Pie 6, sitkom 30 Rock, dan masih banyak lagi.
  • “Sugar, We’re Goin Down” the best song ever dari FOB. Lagu ini memang kurang cocok kalau buat game yang dengan adrenalin, karena lagu ini lebih slow. Tapi, untuk film, sudah ada puluhan movie atau tv series memakai lagu ini sebagai theme song.
  • “7 Minutes in Heaven (Atavan Halen)” pada tahun 2008, Pete mengakui bahwa dirinya sempat ingin bunuh diri gara-gara kecanduan atavan (obat terlarang) di tahun 2005. Kemudian ia tuliskan kedalam lirik lagu tersebut. 7 Minutes in Heaven digunakan sebagai ost FlatOut 2.

 

Infinity on High

Sudah mulai tercium kepopularitas mereka lewat album Infinity on High, terutama padu lagu “This Ain’t a Scene, It’s an Arms Race”  yang mengangkat album ini dikenal luas. Lagu tersebut ok juga, rock nya masih ada. Dan yang lebih keren lagi seperti ;

  • “The Take Over, the Breaks Over” mengadopsi classic rock style, nice one!
  • “I’m Like a Lawyer with the Way I’m Always Trying to Get You Off (Me & You)”  lagu ini benar-benar menginspirasi setiap pendengarnya (lagu paling sedih fall out boy), terlebih dalam music video yang mereka buat, yakni menggambarkan sebuah peperangan di Uganda, Africa. so touching.
  • “Golden” simple but good song.
  • “Thnks fr th Mmrs” rock dapet, punk ok, pop nya juga ngena. Lagu ini cocok diputar kapan saja.
  • “Don’t You Know Who I Think I Am?”  dibantu oleh Producer Butch Walker, lagu ini memiliki musik rock yang ok.

Take a break, ngopi dulu broo…

ngopi dulu break monyet

setengah main

 

Sampai mana tadi?

Oh ya, saya lupa, inilah awal dari FOB berubah ke mainstream music sejak lagu mereka “This Ain’t a Scene, It’s an Arms Race” disanjung oleh Kanye West, Lil Wayne, dan Jay-Z. Dan berikutnya :

Folie à Deux

Seperti bukan Fall Out Boy yang dulu. Ntah sudah terpengaruh musical style dari orang-orang tadi atau punya tujuan yang lain, album Folie a Deux jauh dari ekspektasi penikmat musik alternative rock.

Setelah dirilisnya album ini, mereka mengalami kekacauan. Album yang tidak laku, penjualan dibawah predecessor album mereka. Waktu yang sangat buruk bagi FOB.

Puncaknya, pada saat mempromosikan album ini dalam tour bertajuk “Believers Never Die Tour Part Deux” di USA dan Canada mengalami konflik. Dan dengan merilis album kompilasi yang dirilis tahun 2009 “Believers Never Die – Greatest Hits” mereka memutuskan untuk bubar.

Mark Hoppus menyindir Fall Out Boy : “symbolic cleansing of the past, but also the beginning of a very dark chapter for the band”

Save Rock and Roll

Bergabung dan Fall Out Boy seakan-akan bangkit kembali dengan merilis album Save Rock and Roll di tahun 2013, mereka menghilangkan musik yang dibilang ‘emo’ dan justru lebih memperkaya instrument. Variasi yang dibuat di album ini begitu banyak. Tentu saja, lagu seperti inilah yang ‘mungkin harus dibuat’ untuk meningkatkan popularitas mereka di dunia.

“The Phoenix”, “My Songs Know What You Did in the Dark (Light Em Up)”, dan  “Alone Together”  sukses nangkring di Billboard Hot 100 dan diputar di berbagai radio di seluruh dunia.

American Beauty/American Psycho

Jangan lagi ditanya, sudah banyak review dari album ini. Dan dengan sertifikat Gold dari Music Canada dan United Kingdom (BPI), serta Platinum dari United States (RIAA) menunjukkan bahwa Fall Out Boy bukanlah hanya untuk pecinta musik alternative rock, tapi telah menjadi bagian dari pesta nyanyian dunia yang akan cepat basi seperti lontong.

(Jimmy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *