Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Saya akui, popularitas Fall Out Boy semakin menjamur di dunia setelah mereka merilis album American Beauty/American Psycho di tahun 2015. Kebanyakan orang di dunia bilang bahwa 3 album terakhir FOB lebih baik daripada 3 album FOB pertama. Tapi, saya yang udah keracunan musik rock, dan Fall Out Boy yang sekarang, menurut saya tak lebih dari sekedar lontong yang cepat basi di sore hari.

3 Album pertama :
3 Album tarakhir
Mana yang lebih kalian favoritkan, itu terserah, namanya juga selera. Tak ada masalah. Namun disini, saya hanya memberikan opini bahwa lagu-lagu Fall Out Boy di 3 album pertama lah yang paling nendang.
Mungkin ini masih penyesuaian dari anggota FOB karena masih baru. Genrenya juga masih ‘softcore’ menuju pop-punk. Apalagi background sang frontman Pete Wentz sebelumnya merupakan vokalis post-hardcore band, Arma Angelus. Namun album ini dibuat dengan lirik yang menggabungkan rasa kecintaan, idealisme anak muda tanpa mempedulikan pop-culture.
Lagu “Grand Theft Autumn”, “Sending Postcards from a Plane Crash (Wish You Were Here)”, dan “Saturday” benar-benar menggambarkan band yang memiliki semangat muda.
Perkembangan musik yang luar biasa. Album ini paling keren menurut saya, hampir semua lagu yang ada di album ini nggak ada yang mubazir. Sebagai backsong beberapa game dan film, lagu-lagu yang ada di From Under the Cork Tree sangat relevan.
Sudah mulai tercium kepopularitas mereka lewat album Infinity on High, terutama padu lagu “This Ain’t a Scene, It’s an Arms Race” yang mengangkat album ini dikenal luas. Lagu tersebut ok juga, rock nya masih ada. Dan yang lebih keren lagi seperti ;
Take a break, ngopi dulu broo…


Sampai mana tadi?
Oh ya, saya lupa, inilah awal dari FOB berubah ke mainstream music sejak lagu mereka “This Ain’t a Scene, It’s an Arms Race” disanjung oleh Kanye West, Lil Wayne, dan Jay-Z. Dan berikutnya :
Seperti bukan Fall Out Boy yang dulu. Ntah sudah terpengaruh musical style dari orang-orang tadi atau punya tujuan yang lain, album Folie a Deux jauh dari ekspektasi penikmat musik alternative rock.
Setelah dirilisnya album ini, mereka mengalami kekacauan. Album yang tidak laku, penjualan dibawah predecessor album mereka. Waktu yang sangat buruk bagi FOB.
Puncaknya, pada saat mempromosikan album ini dalam tour bertajuk “Believers Never Die Tour Part Deux” di USA dan Canada mengalami konflik. Dan dengan merilis album kompilasi yang dirilis tahun 2009 “Believers Never Die – Greatest Hits” mereka memutuskan untuk bubar.
Mark Hoppus menyindir Fall Out Boy : “symbolic cleansing of the past, but also the beginning of a very dark chapter for the band”
Bergabung dan Fall Out Boy seakan-akan bangkit kembali dengan merilis album Save Rock and Roll di tahun 2013, mereka menghilangkan musik yang dibilang ‘emo’ dan justru lebih memperkaya instrument. Variasi yang dibuat di album ini begitu banyak. Tentu saja, lagu seperti inilah yang ‘mungkin harus dibuat’ untuk meningkatkan popularitas mereka di dunia.
“The Phoenix”, “My Songs Know What You Did in the Dark (Light Em Up)”, dan “Alone Together” sukses nangkring di Billboard Hot 100 dan diputar di berbagai radio di seluruh dunia.
Jangan lagi ditanya, sudah banyak review dari album ini. Dan dengan sertifikat Gold dari Music Canada dan United Kingdom (BPI), serta Platinum dari United States (RIAA) menunjukkan bahwa Fall Out Boy bukanlah hanya untuk pecinta musik alternative rock, tapi telah menjadi bagian dari pesta nyanyian dunia yang akan cepat basi seperti lontong.
(Jimmy)