Apa yang menjadikan seperti itu? Tentu saja ujung-ujungnya duit.

Menjadi penulis yang baik atau good writer memiliki tantangan tersendiri. Disamping harus memiliki skill menulis, tentu saja mempostingnya juga berlandaskan hati nurani.

Jumlah good writer sebenarnya banyak di Indonesia, namun yang membagikan tulisan secara cuma-cuma hanya segelintir saja. Biasanya akan menulis secara panjang lebar dan dikemas dalam sebuah buku, dan pembaca harus rela mengeluarkan uang untuk mendapatkannya.

Sedangkan menjadi buzzer, bisa menulis sesuka hati. Menggiring opini, menulis dengan gimmick, sudut pandang yang memancing emosi pembaca yang disebut dengan framing, serta jurus andalan klikbait.

Dari situlah trafik lebih banyak, invertori iklan tersedia, dan otomatis pundi-pundi revenue datang ke kantong mereka. Dan yang paling berbahaya adalah tulisan berdasarkan order dari oknum untuk menyebarkan hoaks.

Menjadi penulis yang baik akan susah mendapatkan pemasukan dari tulisan, baik itu di blog, news, atau mungkin membuat skrip untuk bahan video di Youtube. Itu realita. Namun susah bukan berarti mustahil.

Lantas, apakah fenomena buzzer ini akan mendominasi postingan di internet sampai akhir zaman? I don’t know.

Ini adalah intermezzo saja dari saya. Ini juga baru buka website karena tahun kemarin gak dirawat dan kena hacking. Saya akan mencoba menulis lagi sebisa saya yang masih noob ini, dan siapa tahu akan mengajak penulis lain yang berada di jalur good writer. Saya tak mengharapkan website ini mendulang pemasukan fantastis, ada yang baca aja saya sudah bersyukur.

Related posts: