Petter Buffet Kisah Seorang Anak Miliarder di Dunia

Bagaimana rasanya ya, menjadi anak orang terkaya di dunia? Hem,,, pasti yang kita pikirkan adalah hidup dengan bergelimang harta dan kemewahan. Mau minta apapun kita tinggal tunjuk tangan. Tapi hal itu tidak terjadi pada seorang anak yang bernama Petter Buffet.

Petter Buffet adalah anak bungsu dari investor sekaligus salah satu orang terkaya di dunia Warren Buffet, ia mengaku kalau hidup dengan cara sederhana.

“‘Tapi kamu sangat terlihat sangat normal` kata sebagian besar orang saat mengetahui diriku adalah putera orang terkaya ketiga dunia saat itu,” seperti dilansir dari Liputan6.com

anak miliarder dunia
Petter mengaku wajar kalu orang-orang tidak percaya kalau dirinya adalah anak seorang milyarder.

Petter sendiri tidak tahu apa pekerjaan sang ayah hingga ia menginjak usia dewasa.
“Tumbuh dewasa, kami tak pernah tahu apa pekerjaan ayah. Semuanya tampak misterius,” ceritanya.

Pertanyaan mengenai pekerjaan yang dilakukan sang ayah mualai muncul pada saat sang kakak perempuan harus mengisi sebuah formulir dari sekolah. Dia mengisinya dengan pekerjaan sebagai analisis keamanan, itu disebabkan karena ayahnya bekerja di depan computer dengan layar yang penuh angka-angka yang tidak ia pahami sama sekali.

“Bagi anak kecil seperti kami saat itu, kami tak pernah paham maksud angka-angka di komputer? dan apa itu Bursa Saham New York, menjual, membeli, semuanya tak kami pahami,” kata Petter.

Buffet dikenal sebagai miliarder yang hidup sederhana. Dia juga membangun rumahtangga dengan cara normal, bahkan para tetangganya pun tak percaya bahwa buffet adalah seorang miliarder.

“Saya jalan kaki ke sekolah negeri, bahkan guru bahasa Inggris saya sama dengan yang dimiliki ibu,” katanya.

Petter sendiri butuh 25 tahun untuk memahami pekerjaan sang ayah. Meski begitu, dengan hidup yang terbiasa normal, dia sangat bahagia tidak tumbuh menjadi orang yang manja karena kekayaan sang ayah.

Buffet yang terkenal sebagai miliarder itu bahakan masih tinggal dirumah lamanya. Tak hanya itu saja, iajuga memilih ponsel biasa dibanding menggunakan smartphone.

“Ayah kami sangat senang membaca. Jika Anda melintasi rumah kami, Anda tak akan menemukan perbedaan apapun dengan tempat tinggal kami pada 1965. Dia merupakan manusia yang konsisten dan itu sangat luar biasa,” tuturnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *