Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Males saya basa-basi, ntar kontenya malah basi. Langsung aja, kita bahas yang namanya karyawan. Apakah anda adalah salah satu karyawan di sebuah industri? gampangnya adalah buruh…
Habis ketemu temen lama, biasalah saling tanya, dan ketika saya tanya kerja dimana sekarang? dengan kurang percaya diri dan mata memandang jauh sambil menjawab “buruh masbro, kerja di pabrik”.

Diperankan Oleh Model
Bro, ngapain malu menyandang gelar jadi buruh. Buruh itu mulia, kalau mulyadi tuh tetangga gue.
Yang memalukan tuh kalau ngakunya orang kaya, tapi jajan aja ngumpet takut dimintain. Mau ngapel cewe, minjem duit ke temen yang lagi jomblo. Dan gue paling males ketemu orang hobi nabung, tapi buat biaya hidup jadi benalu orang lain.
Pernah ada opini dari seseorang, “cuman ngelem kardus aja bisa beli motor ninja, emang keren ya jadi buruh, tapi kerjaannya gitu-gitu aja?”
Dan gue katakan “gitu-gitu aja gimana? semua kerjaan sama aja brooo!”.
Iyalah, dengan sudut pandang mata ane, Tuhan sudah sangat adil memberikan jalan rezeki kepada setiap makhluk yang ada di dunia ini.
Nggak perlu mbanding-bandingin, apa lu sudah ngerasa keren jadi Teller Bank yang selalu rapi dan megang duit banyak? atau jadi administrasi di kantor tempat lu bekerja? sama aja, yang membedakan hanya berpenampilan menarik keringet nggak menetes sampai sempak.
Sekali lagi gue tekankan, sama! orang yang bekerja pada orang lain adalah buruh.
Prosesnya, siklusnya sama aja bro, sist… kadang suasana kerja ngangenin, kadang juga boring setengah mati. Jam kerja juga udah ada standarnya. Kalau secara generalisasi, semua orang yang bekerja adalah buruh, presiden aja juga buruh, dia bekerja untuk rakyat, jadi presiden adalah buruh rakyat. Tul nggak?
Akan tetapi, memang, terminologi buruh yang tadinya mengacu pada semua pekerjaan, maknanya menyempit dan lebih kepada karyawan industri padat karya seperti pabrik.
Sekarang nggak perlu deh malu jadi buruh. Entah itu kuli bangunan, tukang tambal ban, atau karyawan pabrik, semua profesi harus saling menghormati, dan tentunya saling membutuhkan satu sama lain.
Bahkan, temen ane yang lulusan S1, sebut saja Doni yang sudah memiliki dua anak, ia mengaku lebih nyaman kerja jadi buruh pabrik. Alasannya, gaji gede walaupun kerja monoton. Namanya juga karyawan tetap, di pabrik Jepang lagi.
“sementara gue nyaman disini bro, kalau ijazah, masih gue simpen di lemari, gue nggak gunain buat daftar kerja, yang penting ilmunya. ngapain juga resign nyari kerjaan lain. Lebih baik bikin rencana buka usaha sambil ngumpulin modal” kata Doni.
Setelah gue cari tahu, ternyata dalam pabrik tempat Doni berkerja sekarang, banyak yang telah lulusan universitas. Tapi mereka pada ngumpetin identitasnya, mungkin mereka malu kalau ketahuan sarjana tapi jadi buruh pabrik, tapi alasan pastinya, saya juga nggak tahu.
Dan sekarang, saatnya saya beri opini, mana yang lebih menyenangkan menjadi pengusaha atau karyawan.
Jawaban secara umum adalah ‘relatif’, tergantung subjek.
Saat ini saya sebagai ‘buruh untuk diri saya sendiri’ tidak memandang buruh pabrik secara apatis. Karena dulu saya juga buruh pabrik. Menjadi pelaku bisnis walaupun masih sebatas ‘kepala semut’, saya merasa lebih senang daripada menjadi ‘ekor gajah’ saat saya bekerja di sebuah pabrik jepang (satu kerjaan dengan Doni). Tapi disatu sisi, saya merasa kehilangan jiwa solidaritas dan beberapa hal yang saya dapatkan dalam pekerjaan, ‘something missing’ Duh.
Menjadi Wirausahawan vs Menjadi Karyawan / Buruh

Sepertinya tulisannya udah banyak, padahal saya udah gak pakai basa-basi. Mungkin tulisan ini bisa lebih banyak lagi dengan tambahan komentar pembaca yang nyasar disini.
(Onal – ngetik di pojokan sebelah jamban)