Kartun lucu kemacetan lalu lintas medan dan tumpukan durian

Medan: Kota Ketua, Durian Ucok, dan Aturan Jalanan yang Barbar

Kota ini punya aura yang sangat kuat. Sering disebut “Gotham City”-nya Indonesia oleh netizen karena kerasnya jalanan, tapi di saat yang sama adalah Surga Kuliner yang tiada tanding. Di sini, kalau kamu lembek, kamu bakal digilas (oleh angkot).

Medan: Kota Ketua, Di Mana Klakson Lebih Nyaring dari Suara Hati

Selamat datang di Medan, Bung! Ibu kota Sumatera Utara ini bukan tempat untuk orang yang baperan. Julukan lamanya cantik: Paris van Sumatera. Tapi julukan jalanannya lebih mengerikan: Kota Ketua atau Gotham City. Kenapa? Karena di sini semua orang merasa jadi ketua. Parkir sembarangan? Gayanya kayak yang punya jalan.

Analisis Julukan: “Ini Medan, Bung!”

Slogan “Ini Medan, Bung” bukan sekadar kata-kata mutiara, itu adalah *disclaimer*. Artinya: jangan harap standar kesopanan basa-basi ala Jawa berlaku di sini. Orang Medan bicaranya keras, volumenya *fortissimo*, dan to the point. Kalau baru kenal, mungkin dikira ngajak berantem. Padahal aslinya mereka peduli dan setia kawan banget. Hatinya selembut Bolu Meranti, cuma luarnya aja sekeras kulit Durian.

Ekspektasi vs Realita (Edisi Jalan Raya)

  • Ekspektasi: Lampu merah artinya berhenti, lampu hijau artinya jalan.
  • Realita: Lampu merah artinya “Gas Terus Sebelum Ketabrak”. Lampu kuning artinya “Ngebut Sekencang-kencangnya”. Di Medan, aturan lalu lintas itu lebih mirip “saran” daripada “hukum”. Skill menyetirmu belum teruji kalau belum pernah lolos dari kemacetan di Simpang Waspada tanpa lecet.

Fitur Unggulan: Durian & Istana Maimun

Di Medan, musim durian itu sepanjang tahun. Mau Januari atau Desember, mainlah ke kedai durian (kayak Ucok Durian). Kalau nggak enak, nggak usah bayar. Selain itu, ada Istana Maimun yang megah. Bukti bahwa dulu Kesultanan Deli itu kaya raya dan punya selera arsitektur yang tinggi.

Panduan Survival di Medan

Tips analis agar kamu selamat di tanah Deli:

  1. Kuasai Kosakata Lokal: “Kereta” itu artinya Sepeda Motor. “Motor” itu artinya Mobil. “Pajak” itu artinya Pasar. Jangan sampai salah, nanti ditertawakan satu kampung.
  2. Cara Menyeberang Jalan: Gunakan “The Hand of God”. Angkat tanganmu tinggi-tinggi dengan percaya diri ke arah datangnya kendaraan, lalu melangkah mantap. Jangan ragu. Kalau ragu, kamu bakal diklakson sampai gendang telinga pecah.
  3. Siapkan Perut Karet: Lontong Medan, Soto Medan, Mie Gomak, Bika Ambon… diet adalah hal yang mustahil di kota ini.

Kesimpulan: Medan itu keras, bung. Tapi justru kekerasannya itu yang bikin kangen. Kota yang jujur, makanannya enak gila, dan warganya punya solidaritas tinggi. Horas!

Medan