Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

Sebuah lagu tentang momen penentu, waktu yang berjalan, dan keinginan terakhir untuk memperbaiki kesalahan sebelum segalanya berakhir.
It’s a chance to fix mistakes
One more for the last time
Don’t you throw our dreams away
Don’t waste this chance with your smile
Ten seconds left on this dial
This could be the last time
Ini kesempatan untuk memperbaiki kesalahan
Satu kali lagi untuk yang terakhir kali
Jangan kau buang mimpi-mimpi kita
Jangan sia-siakan kesempatan ini dengan senyumanmu
Sepuluh detik tersisa pada penunjuk ini
Ini bisa jadi yang terakhir kali
It’s a chance to fix mistakes
One more for the last time
Does it throw our dreams away?
Don’t waste this chance with your smile
Ten seconds left on this dial
This could be the last time
Ini kesempatan untuk memperbaiki kesalahan
Satu kali lagi untuk yang terakhir kali
Apakah itu membuang mimpi-mimpi kita?
Jangan sia-siakan kesempatan ini dengan senyumanmu
Sepuluh detik tersisa pada penunjuk ini
Ini bisa jadi yang terakhir kali
Don’t waste this chance with your smile
(This could be, this could be)
Ten seconds left on this dial
(This could be, this could be)
This could be the last time
It’s only us, it’s only now
It’s only tonight
Jangan sia-siakan kesempatan ini dengan senyumanmu
(Ini bisa jadi, ini bisa jadi)
Sepuluh detik tersisa pada penunjuk ini
(Ini bisa jadi, ini bisa jadi)
Ini bisa jadi yang terakhir kali
Hanya kita, hanya sekarang
Hanya malam ini
“11:11 PM” memiliki struktur yang dibangun dengan ketegangan waktu, menggunakan dinamika musik yang mencerminkan detak jam dan tekanan emosional. Berikut analisis struktur dan perkiraan progresi chord:
Intro (Suara detak jam/tik-tok, atmosfer malam):
*tick-tock sound* dengan synth atau piano bernada rendah
Am F C G (progresi melankolis dengan ketukan seperti detak jam)
Verse 1 & 2 (Dinamika rendah, vokal penuh keraguan):
Am F
All the windows swear to miss you
C G
And the doors are cell block tight…
Chorus (Ketegangan meningkat, drum masuk dengan pola cepat):
F C
This could be, this could be the last time
G Am
It’s a chance to fix mistakes…
Bagian dengan hitungan mundur (lebih intens):
C G
Don’t waste this chance with your smile
Am F
Ten seconds left on this dial…
Bridge (Perubahan dinamika, lebih reflektif):
Dm Am
It’s only us, it’s only now
F C
A simple wish, it’s only tonight…
Final Chorus & Outro (Intensitas maksimal, lalu meredup):
F C
One more for the last time
G Am
(This could be, this could be)…
[Outro meredup dengan pengulangan “It’s only us, it’s only now”]
Lagu “11:11 PM” mengeksplorasi psikologi tekanan waktu dan penyesalan. Narator terjebak dalam momen genting di mana waktu hampir habis untuk memperbaiki kesalahan, menciptakan keadaan darurat emosional di tengah malam.
| Tema Utama | Bukti dari Lirik | Analisis Psikologis |
|---|---|---|
| Tekanan Waktu (Time Pressure) | “Ten seconds left on this dial”, “the clock’s about to strike”, “the only sound is a minute left” | Narator mengalami tekanan waktu yang ekstrem, di mana setiap detik terasa penting. Ini mencerminkan kecemasan akan batas waktu dalam hubungan atau kehidupan. |
| Penyesalan dan Keinginan untuk Memperbaiki | “It’s a chance to fix mistakes”, “Now I’ve made our last mistake” | Narator menyadari kesalahan-kesalahan yang telah dibuat dan memiliki kesempatan terakhir untuk memperbaikinya. Namun ada ironi: apakah “last mistake” sudah terjadi? |
| Isolasi dan Pengurungan | “The doors are cell block tight”, “whisper-quiet room”, “space for thinking, space to scream to” | Metafora penjara (“cell block tight”) menunjukkan perasaan terperangkap secara emosional. Ruang yang sepi memberikan tempat untuk refleksi tetapi juga memperkuat isolasi. |
| Momen 11:11 sebagai Simbol | Judul lagu dan tema waktu yang spesifik | 11:11 dalam budaya populer adalah waktu untuk membuat keinginan. Namun di sini, itu menjadi waktu untuk terakhir kalinya—ironi antara harapan (wish) dan keputusasaan (last chance). |
| Keinginan vs Realitas | “A simple wish, it’s only tonight”, “Does it throw our dreams away?” | Narator memiliki keinginan sederhana (untuk memperbaiki hubungan) tetapi dihadapkan pada realitas bahwa mimpi mungkin sudah hancur. Pertanyaan “Does it throw our dreams away?” menunjukkan keraguan. |
1. Pengaturan Adegan: Malam yang Terisolasi (Verse 1)
Lagu dibuka dengan atmosfer malam yang terisolasi: “All the windows swear to miss you / And the doors are cell block tight.” Jendela dan pintu menjadi simbol penghalang antara narator dan dunia luar (atau orang yang dirindukan). “Sweet sedation, sweep the issues” menunjukkan upaya untuk menenangkan diri atau menghindari masalah.
2. Tekanan Waktu yang Meningkat (Chorus 1)
Chorus memperkenalkan tema utama: “This could be the last time.” Pengulangan frase ini menciptakan rasa genting. “Ten seconds left on this dial” adalah hitungan mundur yang dramatis, mengubah momen 11:11 dari waktu keberuntungan menjadi batas waktu yang menakutkan.
3. Refleksi dan Kesepian (Verse 2)
“Along the staircase, I dream to hear you / In a whisper-quiet room” menunjukkan kesepian dan kerinduan. Tangga bisa menjadi metafora transisi atau hubungan antara tingkat yang berbeda (mungkin antara masa lalu dan sekarang, atau antara harapan dan kenyataan).
4. Perubahan dari Kepastian ke Keraguan (Chorus 2)
Perubahan kecil namun signifikan: dari “Don’t you throw our dreams away” (perintah/permintaan) menjadi “Does it throw our dreams away?” (pertanyaan/keraguan). Ini menunjukkan pergeseran dari keyakinan akan kemampuan untuk memengaruhi hasil menjadi keraguan apakah sudah terlambat.
5. Realisasi dan Resignasi (Bridge & Final Chorus)
Bridge menyederhanakan segalanya: “It’s only us, it’s only now / A simple wish, it’s only tonight.” Namun diikuti dengan “Now I’ve made our last mistake”—pengakuan yang pahit. Final chorus dengan vokal latar “This could be, this could be” menciptakan efek gema, seperti suara dalam pikiran narator yang tak bisa berhenti memikirkan kemungkinan ini adalah akhir.
Lagu “11:11 PM” dapat dibaca sebagai meditasi tentang sifat waktu dan penyesalan manusia:
Secara keseluruhan, “11:11 PM” adalah potret tentang momen genting dalam hubungan manusia—saat di mana segala sesuatu bisa berubah, tetapi waktu terus berjalan tanpa peduli. Narator berdiri di ambang antara penyesalan atas masa lalu dan ketakutan akan masa depan, terjebak dalam momen sekarang yang terasa seperti penjara waktu.
“11:11 PM” adalah lagu dari album The All-American Rejects yang berjudul “When The World Comes Down” (2008). Album ini menandai era ketiga band dengan sound yang lebih matang dan produksi yang lebih kompleks dibandingkan album-album sebelumnya.
“11:11 PM” berbagi tema dengan beberapa lagu lain dalam album ini, tetapi dengan fokus yang unik pada elemen waktu:
| Lagu | Tema Serupa | Perbedaan Pendekatan | Tone/Energi |
|---|---|---|---|
| “11:11 PM” | Waktu, penyesalan, momen genting | Fokus pada tekanan waktu dan momen spesifik (11:11) | Genting, introspektif, dengan ketegangan yang meningkat |
| “Gives You Hell” | Hubungan yang berakhir, penyesalan | Pendekatan konfrontatif dan marah vs. pendekatan genting dan penuh penyesalan | Agresif, catchy, dengan nada balas dendam |
| “Fallin’ Apart” | Hubungan yang rusak | Fokus pada proses kerusakan vs. momen genting sebelum kerusakan total | Melankolis, reflektif, dengan rasa penerimaan |
| “Mona Lisa (When The World Comes Down)” | Kecantikan yang sulit dipahami, ilusi | Metafora artistik vs. metafora temporal | Epik, dramatis, dengan produksi orkestral |
| “Another Heart Calls” | Kerinduan, hubungan yang rumit | Duet dengan vokal perempuan vs. perspektif tunggal yang terisolasi | Romantis, penuh harapan, dengan dinamika vokal |
Berdasarkan tema lagu, video musik “11:11 PM” mungkin akan menampilkan: