Tren Global Mingguan: Dunia Bergerak, Indonesia Merespons

Apa yang terjadi di luar negeri, jangan dianggap jauh—dampaknya bisa terasa sampai ke kantong dan kebijakan lokal. Minggu ini, dunia bisnis internasional lagi banyak gejolak. Kami rangkum buat kamu yang pengen tetap update tanpa pusing.

1. Tarif Impor AS Menggila: 32% untuk Produk RI
Donald Trump resmi menetapkan tarif baru untuk barang dari Indonesia mulai Agustus. Tekstil, furnitur, sampai mainan kena getahnya. UMKM dan ekspor bisa goyah, jadi pelaku lokal kudu siap adaptasi.

2. Indonesia Ngebut di Jalan Digital
Pemerintah lagi serius ngegas transformasi digital lewat Komdigi. Fokus ke AI, biotech, dan regulasi digital. Startup lokal punya peluang emas, tinggal pintar baca peta.

3. Bisnis Ramah Lingkungan Mulai Naik Kelas
ESG bukan cuma jargon—mulai jadi standar buat perusahaan besar. Investor makin cerewet soal transparansi dan dampak sosial. Buat yang punya brand berkelanjutan, ini saatnya unjuk gigi.

4. Dunia Lagi Panas: Perang Dagang vs. Keuangan Global
AS dan Tiongkok masih main adu kuat, efeknya sampai ke rantai pasok dan kurs rupiah. Eksportir dan pebisnis logistik kudu siap putar otak.

5. Skincare Masa Depan: Teknologi Synthetic Vesicles
Tren global soal estetika makin nyeleneh tapi laku. Indonesia mulai ikut main lewat AMUSE 2025, kongres medis yang nyambungin biotech dengan kecantikan. Bisnis skincare makin berdimensi sains.


Tarif Impor AS Menggila: 32% untuk Produk RI, Apa Dampaknya?

Mulai 1 Agustus 2025, semua produk Indonesia yang masuk ke Amerika Serikat bakal dikenai tarif impor sebesar 32%. Presiden Donald Trump resmi mengumumkan kebijakan ini lewat surat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto.

Katanya, hubungan dagang selama ini “jauh dari timbal balik” dan defisit perdagangan AS makin parah.

Barang Apa Saja yang Kena Imbas?

  • Tekstil & pakaian jadi
  • Alas kaki
  • Furnitur & produk kayu
  • Makanan olahan
  • Komponen otomotif & elektronik
  • Produk karet, plastik, dan kimia

Sektor padat karya seperti tekstil dan sepatu diprediksi bakal paling terpukul. Harga jual di pasar AS bisa naik, daya saing turun.

Respons Pemerintah RI

  • Menko Airlangga langsung terbang ke AS buat negosiasi
  • Kemenperin minta pelaku industri tetap tenang dan adaptif
  • Menlu Sugiono anggap ini sebagai “wake-up call” buat ekonomi mandiri

Pemerintah juga dorong kerja sama B2B antara perusahaan RI dan AS sebagai “pemanis” negosiasi.

Isi Surat Trump (Singkatnya)

  • Tarif 32% berlaku untuk semua produk, terpisah dari tarif sektoral
  • Jika Indonesia balas dengan tarif baru, AS akan tambahkan ke angka 32%
  • Produk yang dibuat langsung di AS bebas tarif—Trump ajak RI investasi di sana

Tarif ini bukan cuma soal angka, tapi soal arah. Indonesia perlu perkuat fondasi ekonomi, diversifikasi pasar ekspor, dan dorong industri lokal naik kelas. Kalau dulu kita cuma ekspor bahan mentah, sekarang saatnya ekspor nilai tambah.


Indonesia Ngebut di Jalan Digital: Startup, AI, dan Internet 100 Mbps

Transformasi digital bukan lagi wacana—Indonesia lagi ngegas di jalur cepat. Dari infrastruktur sampai regulasi, semuanya dibabat demi masa depan digital yang inklusif dan kompetitif.

Pemerintah Serius Bangun Jalan Digital.

Lewat program Komdigi, pemerintah targetkan kecepatan internet tembus 100 Mbps secara nasional. Teknologi 5G, satelit SATRIA-1, dan serat optik jadi tulang punggungnya.

Fokus utama: wilayah 3T dan backbone nasional.

Talenta Digital Jadi Prioritas
Program VID 2045 mendorong pelatihan digital massal, dari soft skill sampai riset teknologi.

Targetnya: masyarakat digital yang produktif dan siap bersaing global. Beasiswa, sertifikasi, dan makerspace mulai digulirkan.

AI & Bioteknologi Masuk Radar

Indonesia mulai adopsi teknologi AI dan biotech di sektor kesehatan, pertanian, dan industri. Startup lokal didorong masuk ke ekosistem digital berbasis inovasi.

Pemerintah juga siapkan pusat data nasional untuk e-Government.

E-commerce & Fintech Makin Menggila

Ekonomi digital Indonesia diproyeksikan tembus USD 124 miliar di 2025.

E-commerce, e-wallet, dan pinjaman online jadi tulang punggung transaksi digital. UX dan keamanan data jadi medan tempur utama.

Diplomasi Digital di Forum Dunia

Indonesia tampil di Sidang WIPO 2025, menegaskan komitmen jadi katalisator ekosistem kekayaan intelektual global.

Semua layanan KI kini digital, dari hak cipta sampai paten. Ini bukan cuma reformasi birokrasi, tapi strategi branding nasional.

Bisnis Ramah Lingkungan Mulai Naik Kelas: Dari Kampus ke Pasar Global

Bisnis hijau bukan lagi sekadar idealisme—sekarang jadi strategi nyata yang cuan dan berdaya saing. Dari kampus hingga UMKM, tren keberlanjutan makin meresap ke berbagai sektor.

Kampus ITPLN Jadi Pelopor Energi Hijau
Institut Teknologi PLN resmi menggunakan listrik dari sumber terbarukan (PLTA Cirata) dan mengantongi sertifikat energi hijau.

Program efisiensi ruang & suhu kelas

Instalasi pengolah limbah cair untuk penyiraman tanaman

Area hijau diperluas, kayu bekas dibersihkan Kampus ini bukan cuma bicara teori, tapi praktik langsung keberlanjutan.

Namira Ecoprint: Fesyen Lokal Tembus Pasar Internasional
UMKM asal Surabaya ini bikin produk handmade dari bahan alami tanpa bahan kimia.

Produksi: 500 item/bulan (kerudung, jaket kulit, dll)

Pasar: Thailand, Oman, Rusia, Kanada

Pendampingan: Pertamina UMK Academy 2025 Namira jadi bukti bahwa produk ramah lingkungan bisa tampil eksklusif dan global.

Produk Lokal Terbang Bareng Garuda & Pelita Air
Kilang Pertamina Plaju bawa produk UMKM binaan jadi suvenir penerbangan nasional4.

Produk: Teh herbal, keripik tempe, kopi lokal, ecoprint fashion

Forum G20 Bali 2022: Produk herbal jadi suvenir resmi Dari dapur UMKM ke kabin pesawat—bisnis hijau makin punya panggung.

Craftote: Kerajinan Serat Alam + Coffee Shop
Couplepreneur asal Jakarta bikin galeri kerajinan berbahan eceng gondok, purun, dan rotan.

Konsep: Kafe + galeri produk handmade

Pasar: Kanada, Jepang, target ekspansi ke Eropa

Sosial: Memberdayakan anak panti & pemuda NTT Craftote bukan cuma bisnis, tapi gerakan sosial yang berdampak.

Bisnis ramah lingkungan bukan cuma soal “hijau”, tapi soal naik kelas. Ketika keberlanjutan jadi nilai jual, UMKM bisa tampil beda, punya cerita, dan tembus pasar global. Yang penting: konsistensi, edukasi, dan kolaborasi.

Dunia Lagi Panas: Perang Dagang vs. Keuangan Global

Ketegangan ekonomi global makin memanas. Tarif tinggi, sanksi dagang, dan fragmentasi keuangan bikin dunia bisnis serasa jalan di atas bara. Indonesia pun tak luput dari imbasnya.

Tarif Trump & Efek Domino
Presiden AS Donald Trump menerapkan tarif resiprokal hingga 32% terhadap produk dari 57 negara, termasuk Indonesia.

Barang terdampak: tekstil, elektronik, makanan olahan

Uni Eropa balas dengan tarif 25% untuk produk AS

China ancam tarif tambahan 50% jika AS tak mundur

Pasar global pun goyah, nilai tukar rupiah melemah, dan investor mulai cari aset aman.

Risiko Resesi, Inflasi, dan Pengangguran
Menurut Wamenlu Arrmanatha Nasir, perang dagang memperbesar risiko resesi global, inflasi, dan pengangguran.

Laporan WEF 2025: perang dagang jadi ancaman ekonomi terbesar

Ketimpangan sosial dan krisis iklim makin memperburuk situasi

Teknologi seperti AI bisa jadi solusi, tapi juga ancaman

Gangguan Rantai Pasok & Investasi
Perang dagang bikin rantai pasok global terganggu:

Biaya produksi naik, waktu pengiriman molor

Permintaan ekspor turun, terutama dari negara berkembang

Investor tahan modal, pasar saham volatil

Indonesia sebagai negara berkembang harus siap dengan strategi diversifikasi dan kebijakan fiskal yang fleksibel.

Solusi: Diplomasi & Digitalisasi
Negosiasi multilateral lewat WTO dan G20 jadi kunci

Diversifikasi pasar ekspor dan sumber bahan baku

Penguatan sektor digital sebagai alternatif pendapatan ekspor

Perang dagang bukan cuma soal tarif, tapi soal arah dunia. Di tengah fragmentasi global, Indonesia harus jadi jangkar stabilitas dengan diplomasi cerdas, ekonomi digital yang tangguh, dan semangat kolaborasi. Karena kalau dunia lagi panas, kita nggak bisa cuma pakai kipas tapi harus punya strategi pendingin jangka panjang.

Skincare Masa Depan: Teknologi Synthetic Vesicles Buka Era Baru Estetika

Dunia estetika medis lagi mengalami revolusi. Bukan cuma soal glowing instan, tapi soal perawatan kulit yang berbasis riset, minim risiko, dan cocok untuk semua jenis kulit. Teknologi synthetic small extracellular vesicles (sEVs) jadi bintang utama.

Apa Itu sEVs Sintetis?
sEVs adalah partikel nano yang meniru komunikasi alami antar sel kulit.

Ukuran kecil → penetrasi lebih dalam

Stabil → minim risiko alergi atau kontaminasi

Bisa dikombinasikan dengan bahan aktif seperti peptida biomimetik, niacinamide, sodium hyaluronate, dan antioksidan2

Teknologi ini diperkenalkan secara luas di AMUSE 2025, kongres estetika medis internasional di ICE BSD, Tangerang Selatan.

Manfaat Utama Teknologi sEVs
Merangsang regenerasi kulit

Memperbaiki tekstur dan meratakan warna

Menjaga elastisitas lewat kolagen & elastin

Cocok untuk kulit sensitif karena bebas bahan biologis4

Produk seperti Neofound BIOS dari Pyfaesthetic jadi pelopor teknologi ini di Indonesia3.

Edukasi & Profesionalisme
Lebih dari 1.200 dokter hadir di AMUSE 2025 untuk pelatihan dan simposium ilmiah.

Fokus pada pendekatan berbasis anatomi wajah

Edukasi jadi kunci agar teknologi ini digunakan secara aman dan efektif5

Tren Global & Lokal
Konsumen makin cari skincare berbasis sains, bukan sekadar viral

Pergeseran dari bahan biologis ke formulasi sintetis yang lebih stabil

Indonesia mulai jadi pemain, bukan cuma pasar5

Skincare masa depan bukan cuma soal hasil cepat, tapi soal keberlanjutan dan keamanan. Teknologi sEVs menunjukkan bahwa estetika bisa jadi ilmiah, inklusif, dan personal. Kalau dulu skincare itu seni, sekarang jadi perpaduan seni dan sains.

Dunia bisnis terus bergerak, kadang cepat, kadang bikin deg-degan. Tapi satu yang pasti: kita nggak bisa cuma jadi penonton. Lewat rangkuman ini, semoga kamu bisa lebih siap, lebih peka, dan lebih berani ambil langkah. Tetap kritis, tetap kreatif, dan jangan lupa—masa depan itu bukan ditunggu, tapi dibentuk.

Sampai minggu depan di edisi selanjutnya. Kalau kamu punya insight, opini, atau saran topik yang menarik, langsung aja kirim lewat komentar atau email redaksi. Mediamuda, karena informasi bukan cuma soal tahu, tapi soal tumbuh.