Rojali oh Rojaliiii

Istilah ROJALI itu singkatan dari Rombongan Jarang Beli. Ini lagi viral karena menggambarkan fenomena di mana orang-orang ramai datang ke mal atau pusat perbelanjaan, tapi cuma lihat-lihat, nongkrong, atau foto-foto—jarang banget yang benar-benar belanja.

rojali pesan air putih saja
rojali pesan air putih saja

Kenapa bisa terjadi?

  • Daya beli masyarakat, terutama kelas menengah, lagi melemah.
  • Banyak yang datang ke mal buat cari hiburan murah, bukan belanja.
  • Diskon dan promo nggak cukup menarik kalau dompet lagi tipis.
  • Belanja online juga makin dominan karena lebih hemat.

Data terbaru bahkan nunjukin kalau frekuensi kunjungan ke mal naik, tapi nilai belanjanya justru turun. Jadi, ROJALI ini bukan sekadar gaya hidup, tapi cerminan tekanan ekonomi yang bikin orang harus pintar-pintar ngatur pengeluaran.

Lucunya, meski cuma “jalan-jalan”, mereka tetap tampil kece dan upload foto di medsos. Jadi, ROJALI itu juga bentuk perlawanan kecil terhadap realitas hidup yang makin mahal.

Fenomena ROJALI bukan cuma soal belanja yang seret—dampak sosialnya jauh lebih dalam dan kompleks. Yuk kita bedah:

1. Ilusi Kemakmuran

  • Mal tetap ramai, musik berdentum, outfit kece berseliweran—tapi itu bukan cerminan daya beli yang sehat.
  • Banyak orang hadir untuk “merasakan” gaya hidup kelas menengah, meski secara finansial mereka sedang tertekan.

2. Konsumsi Menurun, Ekonomi Terguncang

  • Kelas menengah menyumbang sekitar 70% konsumsi nasional. Ketika mereka menahan belanja, efeknya terasa ke seluruh sektor ekonomi.
  • Penurunan belanja menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi dan turunnya pendapatan pelaku usaha kecil hingga ritel besar.

3. Ketimpangan Sosial Meningkat

  • Masyarakat berpenghasilan rendah mulai “makan tabungan” demi bertahan hidup.
  • Sementara itu, kelompok mampu justru memarkir uangnya di instrumen investasi, memperlebar jurang antara aspirasi dan kemampuan konsumsi.

4. Tekanan pada UMKM dan Kafe Lokal

  • Banyak pengusaha kecil, seperti pemilik kafe di Jogja, mengeluh karena pengunjung datang beramai-ramai tapi tidak membeli apa pun.
  • Dampaknya: omzet turun, karyawan dikurangi, bahkan fasilitas rusak karena pengunjung tidak bertanggung jawab.

5. Psikologi Kolektif: Pelarian dan Perlawanan

  • ROJALI bukan sekadar gaya hidup hemat, tapi bentuk pelarian dari tekanan hidup dan simbol perlawanan kecil terhadap realitas ekonomi.
  • Senyum di media sosial bukan kebohongan, tapi cara bertahan agar tetap merasa “terhubung” dengan ruang publik dan harapan.

Fenomena seperti ROJALI—orang datang ke pusat perbelanjaan tapi jarang belanja—memang punya padanan di luar negeri, meski istilahnya beda dan konteksnya bisa lebih kompleks.

Di negara lain, tren serupa muncul dengan nama berbeda:

  • “Window shopping” di Amerika dan Eropa: orang datang ke mal atau toko hanya untuk melihat-lihat, tanpa niat membeli.
  • “Retailtainment” di Korea Selatan dan Jepang: mal jadi tempat hiburan, bukan belanja. Pengunjung datang untuk event, selfie, atau nongkrong.
  • “Downtrading” di banyak negara: konsumen memilih produk lebih murah atau menunda pembelian karena tekanan ekonomi.

Penyebabnya mirip:

  • Inflasi tinggi dan stagnasi upah.
  • Peralihan ke belanja online yang lebih hemat.
  • Gaya hidup urban yang tetap ingin tampil, meski dompet menipis.

Dampaknya juga serupa:

  • Penurunan pendapatan ritel fisik.
  • UMKM dan toko lokal kesulitan bertahan.
  • Munculnya “ilusi kemakmuran”—mal tetap ramai, tapi kasir sepi.

Jadi, ROJALI bukan cuma fenomena khas Indonesia, tapi bagian dari pola konsumsi global yang sedang bergeser. Bedanya, di sini istilahnya lebih nyeleneh dan viral

Kalau kamu mau, Matt, kita bisa bikin galeri atau campaign yang nyentil fenomena ini secara global—misalnya “Window Shopping Warriors” atau “Retail Rebels”—dengan storytelling absurd tapi relatable. Mau kita gas ke sana?

Fenomena ROJALI (Rombongan Jarang Beli) memang kompleks, tapi bukan tanpa solusi. Untuk mengurangi dampak sosialnya, kita perlu pendekatan yang sistemik dan kreatif. Berikut beberapa strategi yang bisa diterapkan:

1. Kebijakan Pemerintah yang Pro-Rakyat

  • Stabilitas pekerjaan dan upah layak agar masyarakat punya daya beli yang berkelanjutan.
  • Pajak progresif dan subsidi tepat sasaran, seperti bantuan langsung tunai (BLT) dan program Kartu Prakerja.
  • Dukungan terhadap UMKM, termasuk pelatihan digital dan akses modal agar mereka bisa bertahan menghadapi perilaku konsumsi baru.

2. Edukasi Konsumen dan Literasi Finansial

  • Kampanye publik tentang pentingnya belanja bertanggung jawab dan mendukung ekonomi lokal.
  • Literasi keuangan agar masyarakat bisa mengelola pengeluaran tanpa harus “makan tabungan”.

3. Inovasi dari Pelaku Usaha

  • Kafe dan toko bisa menerapkan program loyalitas, diskon komunitas, atau sistem poin untuk mendorong pembelian.
  • Penataan ruang: misalnya, meja khusus untuk pelanggan yang membeli, agar ada insentif nyata.
  • Kolaborasi dengan komunitas lokal untuk menciptakan acara yang mendorong interaksi dan transaksi.

4. Branding dan Storytelling yang Menggugah

  • Produk bisa dikemas dengan narasi yang menyentuh realitas ROJALI—misalnya, “Beli satu, bantu satu” atau “Ngopi sambil bantu ekonomi rakyat.”
  • Galeri atau toko online bisa mengangkat tema “Belanja Bermakna” sebagai bentuk empati dan solidaritas.

5. Peran Komunitas dan Filantropi

  • Zakat, wakaf, dan donasi komunitas bisa diarahkan untuk mendukung pelaku usaha kecil dan pendidikan masyarakat.
  • Komunitas kampus atau kreatif bisa bikin gerakan “Belanja Bijak” yang viral dan berdampak.