Seller Menangis Sad Mediamuda

Dominasi Seller Indonesia di ASEAN: Kenapa Malaysia–Filipina–Singapura Kalah Harga?

Saya punya teman dari Malaysia dan Filipina, mereka menjual barang mainan. Ketika mereka jual di marketplace seperti Shopee, semakin kesini makin sepi. Karena invasi harga murah dari Indonesia?

Disarankan minum es kobokan dulu. Artikel ini pedasnya level “ayam geprek sambal setan dicampur inflasi”.


Saat Seller Negara Tetangga Mulai Bingung…

Dari Malaysia sampai Filipina, bahkan Singapura yang katanya “negara paling siap digital”, tiba-tiba heboh dengan satu pertanyaan:

“Kenapa seller Indonesia makin hari makin mendominasi marketplace kami?”

Orderan mereka makin sepi, rating makin kering, dan sisi psikologis mereka mulai goyang ketika melihat:

  • harga gila murah dari Indonesia,
  • foto katalog rapi,
  • stok 10.000+,
  • ongkir murah,
  • dan pembeli lokal mereka sendiri yang komentar: “Saya beli yang Indonesia saja ya, murah banyak.”

Kalau dulu barang dari China yang bikin pedagang lokal stres,
sekarang malah Indonesia yang jadi “China versi Asia Tenggara”.

Mari kita bedah satu per satu. Bersiaplah, karena ini versi savage.


1. Indonesia Punya Pabrik Mainan dan Aksesoris Sebanyak Jumlah Mode Coloring Rambut Anime

Malaysia dan Filipina bilang:

“Kenapa mainan dari Indonesia murah sangat?”

Jawabannya simpel:

Karena di Indonesia pabrik mainan bukan hal spesial — itu hal normal.

Dari Cikarang sampai Cikupa, dari Bandung sampai Ungaran,
pabrik-pabrik kecil bertebaran seperti minimarket.

Bahkan pabrik rumahan di Tangerang bisa produksi:

  • squishy,
  • slime,
  • PVC figure,
  • clay kit,
  • plushie,
  • mainan KW lucu-lucu yang entah terinspirasi dari siapa.

Ini hal yang negara tetangga tidak punya dalam jumlah besar.
Mereka masih mengandalkan impor dari China…

Sementara Indonesia:

“Kenapa harus impor kalau bisa bikin KW Premium Lokal kualitas supranatural?”


2. Logistik Indonesia Sekarang Murahnya Tidak Ada Akhlak

Kalau dulu kirim barang ke Malaysia harus Anda pertimbangkan:

  • ongkir mahal,
  • proses bea cukai lambat,
  • risiko barang hilang.

Sekarang?

Shopee, TikTok, dan kawan-kawan sudah membuat jalur neraka kapitalisme yang sangat efisien:

  • J&T Cargo lintas tiga negara
  • Ninja Van crossborder
  • Shopee Global Logistics
  • TikTok Forwarder Indonesia

Akibatnya ongkir Indonesia → Malaysia bisa lebih murah daripada ongkir Malaysia → Malaysia (ya, benar).

Singapura lebih parah:
Pembeli Singapura melihat harga Indonesia + ongkir = masih lebih murah daripada harga seller Singapura sendiri.


3. Seller Indonesia: Spesies Pedagang Paling Barbar di Asia Tenggara

Ini fakta objektif.

Seller Indonesia bukan hanya pedagang.
Mereka adalah kombinasi pedagang + pasukan tempur + psikopat margin tipis.

Karakter khas seller Indonesia:

  • Untung Rp 500? → Hajar.
  • Untung Rp 0 tapi naik ranking? → Gaspol.
  • Untung minus Rp 2.000 tapi dapet badge “Top Seller”? → WORTH IT BRO.

Bandingkan dengan seller Malaysia:

“Margin kurang RM3, saya tak jadi jual lah…”

Dengan seller Filipina:

“I need at least PHP 40 profit…”

Dengan seller Singapura:

“$2 profit is not worth my time.”

Seller Indonesia jawab:

“Bro… kita dari Indonesia. Kita hidup dengan COD barbar dan pembeli yang tanya jam 2 pagi. Ini bukan apa-apa.”

Pasar Indonesia melatih mental pedagang sampai level final boss.


4. Algoritma Marketplace Itu Materialistis: Siapa Paling Murah, Dia Yang Naik

Semua marketplace besar punya prinsip:

“Kalau bisa dapat harga murah, buat apa promosi yang mahal?”

Dan siapa yang menyediakan harga paling rendah?

Ya, tetangga kalian: Indonesia.

Tidak peduli pembeli ada di:

  • Kuala Lumpur
  • Manila
  • Cebu
  • Johor
  • bahkan Orchard Road (Singapura punya gaya elit tapi tetap cari murah)

Kalau ada opsi:

Produk Malaysia = RM 18
Produk Indonesia = RM 8
Free ongkir pula…

Pembeli:

“Saya pilih Indonesia ah.”


5. Singapura: Negara Kaya Tapi Tetap Suka Barang Murah

Singapura masuk daftar karena satu hal:

Konsumen kaya, tapi mental bargain hunter tetap melekat.

Dan seller Singapura sering kaget:

“How come Indonesia seller sells this at $1.20? My cost price already $1.40.”

Jawabannya sederhana:

Karena cost Indonesia itu $0.30, bro.

Bahkan dengan ongkir:

Indonesia → Singapore = tetap murah.
Singapore → Singapore = masih mahal.

Ironi kapitalisme modern.


6. Malaysia & Filipina Masih Bergantung Impor China → Harga Dasar Sudah Tinggi

Di Malaysia/Filipina, banyak seller mainan:

  • belanja di 1688/Alibaba,
  • bayar forwarder,
  • kena bea cukai,
  • masuk gudang,
  • baru bisa jual.

Sementara Indonesia:

  • sebagian barang diproduksi lokal,
  • impor besar-besaran dengan biaya rendah,
  • persaingan forwarder sengit,
  • ada jutaan reseller.

Akhirnya harga barang di Indonesia bisa:

  • 30—60% lebih murah,
  • bahkan setelah masuk marketplace luar negeri.

Seller Filipina mengeluh:

“Indonesian sellers are like… impossible to compete with.”

Betul.
Karena Anda melawan ekosistem ekonomi dari negara dengan:

  • penduduk 280 juta,
  • produksi masif,
  • mental jualan ala “harga teman tapi tetap untung entah dari mana”.

7. Konsumen Malaysia, Filipina, Singapura Kini Pindah ke “Produk Indonesia” Tanpa Rasa Bersalah

Yang terjadi sebenarnya sederhana:

Konsumen ingin yang termurah.

Dan Indonesia menyediakan itu.

Dulu Malaysia selalu bangga:

“Saya beli from Malaysian seller, support local.”

Sekarang:

“Support local tapi kalau selisih RM 6… sorry ya.”

Filipina pun begitu:

“Same product but Indonesian is PHP 120 cheaper? Bye local.”

Singapura lebih savage:

“Cheap is good. Who cares where it comes from?”

Kenyataan kapitalisme:
Pembeli tidak punya nasionalisme ketika harga beda jauh.


8. Apakah Indonesia Sedang Menginvasi Pasar Asia Tenggara?

Tidak.
Indonesia tidak melakukan invasi.
Indonesia hanya melakukan hal yang sama yang China lakukan 15 tahun lalu:

  • produksi massal,
  • harga murah,
  • supply chain kuat,
  • logistik efisien,
  • kompetisi tinggi,
  • scaling cepat.

Kalau negara lain tidak ikut berkembang?
Ya tenggelam.

Ini bukan invasi.
Ini evolusi.


9. Singapura vs Indonesia: Pertarungan Tidak Seimbang

Seller Singapura itu kuat, tapi sangat berbeda kultur:

  • biaya operasional tinggi
  • gaji tinggi
  • sewa gudang mahal
  • ongkir domestik aja Rp 60.000 ke atas

Sementara Indonesia:

  • gudang murah
  • tenaga kerja murah
  • pabrik lokal bejibun
  • ongkir lintas pulau aja bisa Rp 7.000

Jadi ketika sama-sama masuk marketplace yang sama?

Singapura: $8
Indonesia: $2
Pembeli: “Huh?”

Apa mau bilang apa lagi?


10. Strategi Bertahan untuk Seller Malaysia, Filipina, dan Singapura

Kalau mau jujur, tiga negara ini TIDAK BISA menang melawan Indonesia di:

  • mainan murah,
  • aksesoris kecil,
  • home living low-tier,
  • fashion murah,
  • barang dekor sederhana.

Karena ini kategori yang pabriknya paling banyak di Indonesia.

Strategi realistis:

1. Hindari mainan harga low-end

Area ini sudah jadi “tanah kekuasaan Indonesia”.

2. Masuk ke produk premium / niche

Indonesia unggul harga, bukan lisensi.

3. Branding, bukan komoditas

Seller Singapura paling bisa ini.
Malaysia & Filipina bisa belajar dari pengalaman mereka.

4. Fokus pengalaman pelanggan

Seller lokal selalu unggul di aftersales.

5. Live shopping (ini Indonesia susah saingi crossborder)

Indonesia kuat di harga,
tapi lemah di personal live interaction untuk pasar luar negeri.


11. Kesimpulan Paling Savage

Mengapa seller Indonesia menguasai marketplace Malaysia, Filipina, dan Singapura?

Karena:

  • pabrik Indonesia banyak,
  • supply chain kuat,
  • ongkir murah,
  • seller Indonesiannya barbar,
  • konsumen mancanegara suka murah,
  • algoritma marketplace gila harga rendah,
  • negara lain masih nyaman dengan model bisnis lama.

Indonesia sekarang ibarat “China mini versi Asia Tenggara”
dan tiga negara tetangga mau tak mau harus menyesuaikan diri.

Siapa yang adaptif → aman.
Siapa yang baca artikel ini tapi tetap ngeluh → wassalam.