crimson day a7x mediamuda.com

Lagu Crimson Day, Harta Karun Avenged Sevenfold

Crimson Day itu semacam harta karun kecil di album Hail to the King. Bukan single besar, bukan lagu yang biasa dibahas orang, tapi banyak fans ngerasa ini salah satu balada paling enak yang pernah Avenged Sevenfold bikin. Musiknya lembut, liriknya jujur, dan vibe nya beda banget dari sisa album yang isinya dominan riff tebal dan groove yang simpel.

Yang bikin menarik, lagu ini tidak pernah muncul di panggung. Tidak pernah jadi kejutan setlist. Tidak pernah jadi momen “ayo keluarkan flashlight kalian”. Padahal fans sudah bertahun tahun nunggu. Pertanyaannya, kenapa?

Pertama, karakter lagunya memang bukan tipe lagu konser besar. A7X punya banyak lagu pelan yang kuat secara emosional seperti So Far Away atau Seize the Day. Dua lagu itu punya beban cerita yang sangat pribadi, terutama soal The Rev. Wajar kalau mereka sering masuk setlist. Sementara Crimson Day lebih ke balada mellow yang tenang. Enak didengar, tapi tidak punya simbolisme besar yang bikin band “harus” membawakannya.

Kedua, faktor energi panggung. A7X adalah band yang live nya selalu nendang. Mereka bangun alur konser yang naik turun, tapi tetap intens. Begitu mereka masuk lagu yang terlalu lembut, energi penonton bisa jatuh terlalu jauh. M Shadows juga tipe vokalis yang lebih cocok untuk panggung ketika suaranya dipakai sedikit “nyerang”. Di Crimson Day, dia harus nyanyi lembut dan stabil. Tidak sulit secara teknik, tapi rawan goyah di kondisi konser yang ribut.

Ketiga, masalah prioritas. Katalog A7X sudah kebanyakan lagu yang wajib mereka mainkan. Dari Bat Country sampai Nightmare, dari Afterlife sampai Hail to the King. Bahkan untuk lagu pelan saja mereka sudah kelebihan stok. Mau tidak mau ada lagu yang harus tersingkir, dan Crimson Day jatuh ke kategori “bagus, tapi bukan prioritas”.

Tapi jauh di luar alasan teknis, ada satu hal yang sering dilupakan. Tidak semua lagu dibuat untuk panggung. Ada lagu yang memang lebih cocok hidup di headphone tengah malam. Crimson Day punya vibe itu. Nadanya tenang, penyampaiannya halus, dan pesan lagunya lebih ke momen pribadi. Lagu ini seperti bisikan, bukan teriakan. Bisa jadi band merasa lagu ini lebih kuat dibiarkan sebagai karya studio, bukan sebagai pertunjukan.

Dan anehnya, justru karena tidak pernah dimainkan live, lagu ini makin dapat aura spesial. Fans merasa seperti menemukan sesuatu yang tersembunyi. Lagu yang tidak dipaksa masuk setlist, tidak dijual sebagai highlight, tapi tetap nyantol karena kualitasnya.

Alasannya menurut wawancara M. Shadows & Synyster Gates:

  • Lagu ini terlalu “rapuh” secara emosional buat mereka mainkan di panggung besar. Tema tentang kehilangan orang tua (terinspirasi ayah M. Shadows yang meninggal) bikin terlalu personal.
  • Syn bilang solo gitar di bagian akhir itu dibuat “sempurna” di studio dengan banyak take dan editing, jadi dia takut kalau live malah gak bisa nyampein feel yang sama.
  • Setlist tur Hail to the King waktu itu lebih fokus ke lagu-lagu heavy & anthem biar crowd gila (Hail to the King, Shepherd of Fire, This Means War, dll), jadi ballad lambat kayak Crimson Day dikorbankan.

Fakta menyedihkan:

  • Sampai hari ini (November 2025), di setlist.fm tercatat 0 kali Crimson Day pernah dimainkan live.
  • Fans udah bikin petisi, spam komen di Instagram tiap tur diumumin, tapi tetap belum kesampaian.
  • Bahkan di konser-konser kecil atau acoustic session pun gak pernah disentuh.

Kalau suatu hari A7X tiba tiba memutuskan membawanya ke panggung, itu akan jadi kejutan besar. Tapi kalau itu tidak pernah terjadi, lagu ini tetap akan punya tempat sendiri. Tidak semua lagu harus mengguncang arena konser untuk jadi berharga. Ada lagu yang lahir untuk ruang sunyi. Crimson Day adalah salah satunya.