lancia mobil mediamuda.com

Lancia Indonesia 2026: Masih Langka, Harga Delta Integrale Tembus 2 Miliar

Lancia, salah satu merek otomotif paling berprestasi dalam sejarah balap dunia, memiliki posisi yang sangat unik di Indonesia: dihormati, diidamkan, namun secara resmi tidak pernah hadir.

Di tengah gempuran merek Jepang, Korea, dan Eropa yang memiliki jaringan dealer kuat, Lancia tetap menjadi simbol eksklusivitas ekstrem di Tanah Air.Sejarah Singkat Kehadiran Lancia di IndonesiaPada era 1970–1980-an, Lancia sempat masuk secara terbatas melalui importir umum (non-ATP M).

Model yang paling dikenal saat itu adalah Beta Coupe, Beta HPE, dan beberapa unit Fulvia. Pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an, gelombang Delta HF Integrale (baik Evoluzione I maupun II) masuk dalam jumlah sangat kecil, sebagian besar melalui jalur diplomat dan kolektor.

Setelah itu, pintu resmi benar-benar tertutup. Sejak 1995, tidak ada lagi importir umum yang membawa Lancia secara reguler.

Kondisi Terkini (2025)

  1. Tidak ada Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) resmi.
  2. Tidak ada jaringan servis resmi.
  3. Model baru (Ypsilon generasi 2024, Gamma 2026, Delta 2028) hanya tersedia melalui impor pribadi (CBU) dengan biaya sangat tinggi karena pajak barang mewah (PPnBM) hingga 200 % untuk mesin di atas 3.000 cc atau teknologi listrik premium.
  4. Populasi Lancia yang masih terdaftar di Samsat diperkirakan kurang dari 150 unit di seluruh Indonesia, didominasi Delta HF Integrale (sekitar 60–70 unit), Fulvia, Beta series, dan segelintir Thema serta Ypsilon generasi kedua.

Harga Pasar Sekunder (November 2025)

  • Lancia Delta HF Integrale Evo I (1991–1992): Rp 850 juta – Rp 1,4 miliar
  • Lancia Delta HF Integrale Evo II (1993–1994): Rp 1,3 miliar – Rp 2,2 miliar (khususnya edisi Giallo Ginestra atau Blu Lagos)
  • Lancia Fulvia Coupe 1.3 S: Rp 350–650 juta
  • Lancia Beta Coupe/HPE: Rp 180–450 juta
  • Lancia Ypsilon Hybrid 2024 (import pribadi): estimasi landed Rp 1,3–1,6 miliar

Tantangan Kepemilikan

  • Ketersediaan suku cadang sangat terbatas; sebagian besar harus diindent dari Italia atau Inggris (lead time 2–6 bulan).
  • Bengkel spesialis hanya ada di Jakarta (2–3 tempat), Bandung, dan Surabaya (1 tempat).
  • Nilai asuransi all-risk tinggi karena klasifikasi “exotic classic”.
  • Regulasi emisi Euro 4 (berlaku 2023) menyulitkan legalisasi unit klasik tanpa modifikasi katalisator.

Komunitas dan Masa DepanLancia Club Indonesia yang berdiri sejak 2009 tetap aktif dengan jumlah anggota sekitar 80 orang (2025). Komunitas ini menjadi penyangga utama pengetahuan teknis dan jaringan suku cadang. Mereka rutin mengadakan touring dan mengikuti event klasik seperti Indonesia International Motor Show (GIIAS) dan Jogja Vintage Rally.

Di sisi lain, rencana renaissance Stellantis untuk Lancia (2024–2034) yang berfokus pada pasar Eropa belum mencantumkan Asia Tenggara sebagai target ekspansi tahap pertama. Namun, ada sinyal kecil bahwa jika regulasi pajak kendaraan listrik di Indonesia terus dilonggarkan (seperti insentif PPnBM 0 % untuk BEV di bawah €50.000), importir independen besar berpotensi membawa Ypsilon BEV atau Gamma dalam jumlah terbatas mulai 2027–2028.

Kesimpulan

Di Indonesia, memiliki Lancia bukan sekadar soal mobilitas, melainkan pernyataan gaya hidup dan dedikasi terhadap sejarah otomotif. Statusnya yang langka justru memperkuat daya tarik bagi segmen kolektor dan enthusiast yang mengutamakan nilai historis serta pengalaman berkendara analog. Selama belum ada perubahan kebijakan impor atau masuknya ATPM resmi, Lancia akan tetap menjadi “holy grail” yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang—orang yang rela membayar premium untuk kebanggaan mengendarai salah satu merek paling berprestasi dalam sejarah rally dunia.

Forza Lancia—di Indonesia, legenda ini hidup melalui komunitas, bukan melalui brosur dealer.