Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

Sebuah balada tragis tentang Impian Amerika yang berakhir dengan kematian—kisah cinta kelas, kekerasan, dan nasib yang tak terelakkan di jalanan Philadelphia.
“Goodnight, C’est La Vie” kemungkinan memiliki struktur musik yang lebih minimalis dan akustik dibandingkan lagu All Time Low pada umumnya, menekankan pada narasi lirik yang kuat. Berikut adalah rekonstruksi progresi yang sesuai dengan nada balada tragis lagu ini.
Intro (Akustik minimalis):
Am C G D
Verse 1 (Narasi sederhana):
Am C
Baby’s getting married at the Taco Bell
G D
She don’t like her daddy, he can go to hell
Am C
‘Cause he don’t like who he sees
G D
But she loves that boy ‘cause he dreams about her
Verse 2 (Tegangan mulai terbangun):
Am C
Running through the streets of Philadelphia
G D
Never thought he’d see the day he’d marry her
Am C
‘Cause he drives a limousine
G D
And she was the hometown pageant queen
Climax/Chorus (Intensitas emosional memuncak):
F C
So Daddy shot him in the streets
G D
He died at seventeen
Am F
Goodnight, c’est la vie
C G
Goodnight, that’s when the American Dream
D Am
Died on Easy Street
F C G D
Singing, “Goodnight, c’est la vie”
Am F C G (berulang dengan fade out)
Goodnight, c’est la vie
Lagu “Goodnight, C’est La Vie” adalah sebuah balada tragis modern yang menceritakan kisah cinta yang dipotong oleh kekerasan, sekaligus kritik sosial terhadap Impian Amerika yang hancur. Dalam hanya beberapa baris, All Time Low menciptakan narasi epik miniatur tentang kelas, harapan, dan nasib yang kejam.
Pengenalan & Konflik: “Baby’s getting married at the Taco Bell” — setting yang segera menunjukkan latar kelas pekerja/rendah. Pernikahan di rantai makanan cepat saji adalah gambaran nyata dari keterbatasan ekonomi namun juga kemurnian cinta yang sederhana. Konflik dengan ayah (“he can go to hell”) mengisyaratkan perseteruan generasi dan mungkin prasangka kelas.
Perkembangan & Kontras: “He drives a limousine / And she was the hometown pageant queen” — menunjukkan perbedaan status atau aspirasi. Pria dari kelas bawah (meski “dreams about her”) vs. wanita yang mungkin berasal dari latar belakang yang lebih mapan atau memiliki harapan yang lebih tinggi. Philadelphia sebagai setting memberikan nuansa urban yang keras.
Klimaks & Resolusi: “Daddy shot him in the streets / He died at seventeen” — kekerasan yang tiba-tiba dan final. Kematian di usia sangat muda memotong semua impian dan kemungkinan. Klimaks ini adalah penghancuran total dari narasi cinta yang sederhana di awal.
1. Impian Amerika yang Mati
“That’s when the American Dream died on Easy Street” adalah baris kunci yang penuh ironi. “Easy Street” secara tradisional berarti kehidupan yang mudah dan makmur, tetapi di sini justru menjadi tempat kematian Impian Amerika. Impian tentang mobilitas sosial, cinta yang menang, dan kebahagiaan—semuanya hancur oleh kekerasan. Impian Amerika berubah menjadi mimpi buruk Amerika.
2. Kekerasan dan Nasib yang Tak Terelakkan
Judul lagu sendiri mengandung penerimaan nasib yang tragis. “C’est la vie” (begitulah hidup) diucapkan sebagai pengantar tidur terakhir (“Goodnight”) kepada korban. Ini menyiratkan bahwa tragedi semacam ini adalah bagian dari kehidupan yang tak terelakkan dalam konteks tertentu—sebuah pernyataan yang muram tentang siklus kekerasan dan keputusasaan.
3. Konflik Kelas dan Generasi
Ayah yang tidak menyetujui (“he don’t like who he sees”) mungkin mewakili prasangka kelas atau ketakutan akan penurunan status. Sang putri memberontak terhadap otoritas ayah, mencari kebahagiaannya sendiri, tetapi pemberontakan ini berakhir dengan tragedi yang jauh lebih besar daripada yang dia atau kekasihnya bayangkan.
4. Ironi Lokasi dan Simbolisme
• Taco Bell: Simbol Amerika kontemporer—murah, mudah diakses, biasa. Tempat yang tidak romantis untuk pernikahan, namun justru itulah yang membuatnya tulus.
• Philadelphia: Kota dengan sejarah Amerika yang dalam, dikenal sebagai tempat Penandatanganan Deklarasi Kemerdekaan, tetapi juga kota dengan masalah urban dan kekerasan.
• Limusin vs. Ratu Kontes Kecantikan: Kontras antara simbol status rendah (sopir limusin) dan tinggi (ratu kecantikan) yang tidak dapat didamaikan dalam kisah ini.
Secara keseluruhan, “Goodnight, C’est La Vie” adalah lagu yang lebih dekat dengan tradisi balada folk yang bercerita daripada pop punk biasa All Time Low. Lagu ini menggunakan ekonomi kata-kata yang luar biasa—setiap baris mengembangkan karakter, konflik, dan plot—untuk menceritakan kisah yang lengkap dengan awal, tengah, dan akhir yang tragis.
Motivasi: Mencari kebebasan dari ayahnya dan mengejar cintanya sendiri meskipun ada penolakan.
Konflik: Memberontak terhadap otoritas ayah, mencintai seseorang dari latar belakang yang berbeda.
Simbol: Ratu kontes kecantikan kampung halaman—simbol kesucian, keindahan, dan harapan masyarakat kecil.
Motivasi: Mencintai “Baby” dan bermimpi tentangnya, mungkin melihatnya sebagai jalan keluar dari kehidupannya.
Konflik: Perbedaan kelas (sopir limusin vs. ratu kecantikan), penolakan dari calon mertua.
Tragedi: Dibunuh di usia 17—semua potensi dan mimpinya dipotong secara brutal.
Motivasi: Melindungi putrinya (dari perspektifnya) atau mempertahankan status/keluarga.
Konflik: Tidak menyetujui pilihan putrinya, mungkin karena prasangka kelas atau kecemasan status.
Tindakan Ekstrem: Pembunuhan—mengubah dirinya dari figur otoritas menjadi penjahat kekerasan.
“Goodnight, C’est La Vie” adalah penyimpangan signifikan dari suara khas All Time Low, menunjukkan kedewasaan artistik dan keberanian untuk bereksperimen:
Meskipun tampaknya narasi literal, ada kemungkinan interpretasi lain:
Metafora untuk Hubungan Band dengan Genre/Masa Lalu: “Baby” bisa mewakili musik pop punk/emo masa lalu All Time Low, “Daddy” mewakili harapan fans atau industri, dan “the boy” mewakili arah artistik baru mereka. “Kematian” di jalanan Philadelphia (tempat band ini berasal dari Maryland) bisa melambangkan meninggalkan akar mereka.
Kritik terhadap Budaya Kekerasan Amerika: Lagu ini bisa dibaca sebagai komentar tentang bagaimana kekerasan senjata dan konflik kelas secara rutin menghancurkan kehidupan muda di Amerika, dengan “c’est la vie” yang sinis mencerminkan kebiasaan masyarakat terhadap tragedi semacam ini.