Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

All Time Low | Lagu pembuka dari album Future Hearts (2015)
Lirik asli dari Genius.com. Makna lagu berdasarkan penjelasan Alex Gaskarth di Kerrang!.
Konteks Utama: “Satellite” adalah lagu pembuka dari album Future Hearts (2015). Dalam wawancara dengan Kerrang!, vokalis Alex Gaskarth menjelaskan bahwa lagu ini adalah “a nod to our humble beginnings” (anggukan pada awal mula kami yang sederhana) dan tentang “being stupid kids, sneaking out at night and sleeping in parking lots” (menjadi anak-anak bodoh, menyelinap di malam hari dan tidur di tempat parkir). Lagu ini dengan sempurna memulai perjalanan album tentang nostalgia, pertumbuhan, dan masa depan.
Wishing on a star that’s just a satellite
Berharap pada bintang yang ternyata hanya satelit
Driving in a car with broken tail lights
Mengendarai mobil dengan lampu rem rusak
Growing up with eyes glued shut
Berkembang dengan mata tertutup rapat
Strip club in a strip mall, a million ways to die
Klub striptis di pusat perbelanjaan, sejuta cara untuk mati
All the things we lost in the back seat of the sky
Semua hal yang hilang di kursi belakang langit
Growing up with eyes glued shut
Berkembang dengan mata tertutup rapat
Wishing on a star that’s just a satellite…
Berharap pada bintang yang ternyata hanya satelit…
We were just kids, we were just kids singing
Kami hanya anak-anak, kami hanya anak-anak bernyanyi
We were just kids, we were just kids…
Kami hanya anak-anak, kami hanya anak-anak…
(Pengulangan frasa “We were just kids” sebanyak 8 kali menciptakan atmosfer nostalgia yang kuat)
*Terjemahan dibuat untuk menangkap makna dan nuansa lirik. Sumber lirik: Genius.com.
Vokalis Alex Gaskarth menjelaskan kepada Kerrang! bahwa “Satellite” adalah “a nod to our humble beginnings” (anggukan untuk awal mula kami yang sederhana). Dia menyebutkan konteks spesifik: “being stupid kids, sneaking out at night and sleeping in parking lots” (menjadi anak-anak bodoh, menyelinap di malam hari dan tidur di tempat parkir). Penjelasan ini mengkonfirmasi bahwa lagu ini adalah **refleksi autobiografis** tentang masa-masa awal band—sebuah periode yang kacau, tidak pasti, tapi penuh dengan semangat muda dan mimpi. Sebagai lagu pembuka, “Satellite” berfungsi untuk menetapkan fondasi emosional dan naratif untuk seluruh album Future Hearts.
Metafora “Wishing on a star that’s just a satellite” adalah inti dari pesan lagu. Ini menggambarkan **kekecewaan dan realitas yang pahit** dari tumbuh dewasa. Sebagai anak-anak, kita memandang ke langit dan melihat bintang sebagai simbol keajaiban dan harapan. Namun, seiring bertambahnya usia, kita menyadari bahwa banyak dari “bintang” itu hanyalah satelit buatan manusia—sesuatu yang biasa, fungsional, dan kehilangan sihirnya. Ini paralel dengan menyadari bahwa mimpi masa kecil kita lebih rumit dan kurang magis daripada yang kita bayangkan. “Growing up with eyes glued shut” (Berkembang dengan mata tertutup rapat) memperkuat tema ini: kita tumbuh, tetapi sering kali buta terhadap arah atau konsekuensinya, atau mungkin sengaja menutup mata dari kenyataan yang tidak menyenangkan.
Lirik “Driving in a car with broken tail lights” dan “Strip club in a strip mall, a million ways to die” menciptakan suasana yang sangat visual. Ini adalah gambaran **kehidupan di pinggiran kota (suburban)** yang muram, berbahaya, dan monoton. Mobil dengan lampu rem rusak melambangkan perjalanan yang ceroboh dan penuh risiko. “Sejuta cara untuk mati” di tempat yang biasa (strip mall) menyoroti absurditas dan potensi bahaya dalam kehidupan sehari-hari yang membosankan. “All the things we lost in the back seat of the sky” adalah metafora puitis untuk **kenangan, kepolosan, dan kemungkinan yang hilang** di sepanjang perjalanan ini—hal-hal yang tertinggal di suatu tempat di antara bintang-bintang (atau satelit) dan bumi.
Struktur lagu ini disengaja sangat repetitif, mencerminkan **siklus dan kebiasaan** yang dialami sang narator. Pengulangan frasa yang sama (“Wishing on a star…”) menciptakan perasaan terperangkap dalam pola pikir atau lingkungan yang sama. Namun, klimaks lagu ini adalah pada outro yang panjang dan menghantui, di mana frasa “We were just kids” diulang delapan kali. Repetisi ini bukan hanya penegasan, tetapi sebuah **mantra atau pengakuan**. Ini adalah cara narator (dan band) untuk memahami dan memproses masa lalu mereka. Dengan terus-menerus mengucapkannya, mereka akhirnya menerima identitas mereka yang lalu—”hanya anak-anak”—sebagai bagian penting dari siapa mereka sekarang. Ini adalah momen nostalgia yang pahit-manis sekaligus pembebasan.