Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

“Wake Up, Sunshine” bukan sekadar lagu judul album, melainkan pernyataan filosofis dan semangat dari seluruh proyek ini. Vokalis Alex Gaskarth menggambarkannya sebagai “lagu kebangsaan yang optimis” yang keluar dari nuansa gelap album sebelumnya, Last Young Renegade. Lagu ini adalah seruan untuk “bangun”, sebuah pengingat bahwa meskipun dunia terasa kacau, ada harapan, cinta, dan penerimaan diri yang menanti—sebuah pesan yang sangat relevan di era media sosial dan “kemarahan” (outrage) yang digambarkan dalam liriknya .
| LIRIK ASLI (ENGLISH) | TERJEMAHAN (BAHASA INDONESIA) |
|---|---|
|
INTRO
|
|
| Are you livin’ well? | Apakah kamu hidup dengan baik? |
| Are you livin’ well? | Apakah kamu hidup dengan baik? |
| Are you livin’ well? | Apakah kamu hidup dengan baik? |
|
VERSE 1
|
|
| Alive in the age of outrage and outrageous behavior, they say it’s a callin’ | Hidup di era kemarahan dan perilaku keterlaluan, mereka bilang itu panggilan |
| Are you livin’ well in a livin’ hell? | Apakah kamu hidup dengan baik dalam neraka hidup? |
| (Are you livin’ well? Are you livin’ well?) | (Apakah kamu hidup dengan baik? Apakah kamu hidup dengan baik?) |
| So smile for the cameras and say that your life | Jadi tersenyumlah untuk kamera dan katakan bahwa hidupmu |
| Ain’t as tame as the ones you’re shit talkin’ | Tidak sesederhana yang kamu bicarakan buruk |
| Are you livin’ well? Are you livin’ well? | Apakah kamu hidup dengan baik? Apakah kamu hidup dengan baik? |
|
CHORUS
|
|
| Wake up, sunshine | Bangunlah, sinar matahari |
| Somebody loves you for yourself | Seseorang mencintaimu apa adanya |
| Wake up, sunshine | Bangunlah, sinar matahari |
| ‘Cause somebody loves you, somebody loves you | Karena seseorang mencintaimu, seseorang mencintaimu |
|
VERSE 2
|
|
| You’re pissin’ away, every day’s a cliché | Kamu menyia-nyiakannya, setiap hari adalah klise |
| And they say if you’re bored, then you’re borin’ | Dan mereka bilang jika kamu bosan, maka kamu membosankan |
| Are you livin’ well in a livin’ hell? | Apakah kamu hidup dengan baik dalam neraka hidup? |
| (Are you livin’ well? Are you livin’ well?) | (Apakah kamu hidup dengan baik? Apakah kamu hidup dengan baik?) |
| Are you livin’ well? Are you livin’ well? | Apakah kamu hidup dengan baik? Apakah kamu hidup dengan baik? |
|
CHORUS (ULANG)
|
|
| Wake up, sunshine… | Bangunlah, sinar matahari… |
|
BRIDGE
|
|
| Everyone wants to be somebody | Semua orang ingin menjadi seseorang |
| I just want you to see how good you are | Aku hanya ingin kamu melihat betapa baiknya dirimu |
| You don’t have to lean on the crutch of a daydream | Kamu tidak harus bersandar pada penopang lamunan |
| To see that you shine like a star | Untuk melihat bahwa kamu bersinar seperti bintang |
|
CHORUS & OUTRO
|
|
| Wake up, sunshine… | Bangunlah, sinar matahari… |
| Are you livin’ well? | Apakah kamu hidup dengan baik? |
| Are you livin’ well? | Apakah kamu hidup dengan baik? |
| Are you livin’ well? Are you livin’ for yourself? | Apakah kamu hidup dengan baik? Apakah kamu hidup untuk dirimu sendiri? |
*Lirik asli dari Genius . Terjemahan Bahasa Indonesia dibuat berdasarkan makna kontekstual dan struktur lirik.
“…in a world that feels like it’s falling apart, and in a situation where it’s very easy to self-doubt and become your own worst enemy, hanging on to the idea that someone out there is all about you is something that can really help pull you through. Knowing that all it really takes is just a connection with one other person out there can sometimes be the thing that gets you moving in the right direction again. And I think that sentiment echoes throughout the entire album.”
Alex Gaskarth menjelaskan bahwa lagu ini terasa seperti dia “membangunkan diri sendiri” dari nuansa gelap dan seperti mimpi dari album sebelumnya, Last Young Renegade . “Wake Up, Sunshine” adalah deklarasi bahwa era baru telah tiba—era yang lebih cerah, optimis, dan sadar. Ini bukan hanya untuk band, tetapi juga seruan kepada pendengar untuk bangun dari sikap apatis, keraguan diri, atau siklus negatif mereka sendiri.
Lirik lagu ini secara khusus mengkritik budaya zaman sekarang: “era kemarahan” (age of outrage) di media sosial, di mana orang sering membandingkan hidup mereka dan mencari validasi dari “ruang gema” (echo chamber) online . Pertanyaan berulang “Are you livin’ well?” (Apakah kamu hidup dengan baik?) adalah tantangan terhadap kepura-puraan ini. Pesan lagu menawarkan solusi: alih-alih mencari persetujuan luar, temukan kekuatan dalam mengetahui bahwa “somebody loves you for yourself” (seseorang mencintaimu apa adanya).
Di intinya, lagu ini adalah pengingat yang sangat manusiawi dan hangat. Saat segala sesuatu terasa seperti “neraka hidup” (livin’ hell), terkadang yang kita butuhkan hanyalah kesadaran bahwa ada seseorang yang peduli. Bridge lagu memperkuat ini: “You don’t have to lean on the crutch of a daydream / To see that you shine like a star” (Kamu tidak harus bersandar pada lamunan / Untuk melihat bahwa kamu bersinar seperti bintang). Pesannya adalah bahwa nilai dan potensi terangmu sudah ada di dalam dirimu, menunggu untuk diakui .
Merupakan track ke-6 dan lagu judul dari album studio kedelapan All Time Low, Wake Up, Sunshine (2020) . Lagu ini berfungsi sebagai lagu tema dan filosofi sentral yang mengikat nuansa optimisme album.
Gaskarth secara eksplisit menyebut lagu ini sebagai respon terhadap album sebelumnya, Last Young Renegade (2017), yang memiliki nuansa yang lebih gelap, atmosferik, dan seperti mimpi. “Wake Up, Sunshine” menandai kembalinya energi positif dan cerah yang menjadi ciri khas band .
Lagu ini ditulis oleh Alex Gaskarth bersama Phil Gornell dan produser Zakk Cervini .
Sebagai lagu yang mewakili inti pesan album, “Wake Up, Sunshine” terhubung erat dengan semangat lagu-lagu lain. Untuk merasakan narasi yang kohesif, dengarkan perjalanan dari introspeksi di “Some Kind of Disaster” (pembuka), melalui momen pelarian seperti “Getaway Green“, menuju pesan penerimaan diri di “Glitter & Crimson“, dan diakhiri dengan nostalgia penuh harapan di “Basement Noise“.