Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

Dunia saat ini sedang mengalami fenomena “”obesitas administratif””. Berdasarkan analisis dari Predictive History, institusi-institusi besar—terutama di Barat—tidak lagi berfungsi untuk tujuan aslinya. Universitas tidak lagi fokus pada pengajaran, rumah sakit tidak lagi fokus pada penyembuhan, dan militer tidak lagi fokus pada pertahanan. Semuanya telah berubah menjadi mesin birokrasi yang eksis hanya untuk memuaskan kebutuhan para manajernya.
Fenomena ini disebut sebagai Rent-Seeking Behavior, di mana individu di posisi puncak mengeksploitasi sumber daya organisasi demi kenyamanan pribadi, sambil menciptakan lapisan-lapisan jabatan baru untuk rekan-rekan mereka. Hasilnya? Efisiensi menurun, biaya melonjak, dan mereka yang melakukan kerja riil (dosen, dokter, prajurit) justru semakin terpinggirkan.
Salah satu sinyal keruntuhan intelektual dimulai dari hilangnya keberanian untuk berdebat. Di Yale University, terjadi konflik antara ideologi “”Safe Space”” (ruang aman dari perasaan tersinggung) dan “”Free Space”” (ruang bebas untuk bereksperimen dan melakukan kesalahan). Para birokrat universitas kini lebih berpihak pada kenyamanan emosional mahasiswa sebagai “”konsumen”” daripada pertumbuhan intelektual mereka.
Ketika pendidikan dianggap sebagai produk konsumsi, dosen tidak lagi dilihat sebagai mentor, melainkan pelayan. Jika pelayan menyinggung perasaan pelanggan, birokrasi akan turun tangan untuk memecatnya. Inilah awal dari kematian pemikiran kritis: ketika rasa takut menyinggung lebih besar daripada keinginan mencari kebenaran.
Data menunjukkan tren yang mengerikan. Sejak tahun 1980-an, jumlah administrator di universitas dan rumah sakit tumbuh berkali-kali lipat dibandingkan jumlah pengajar atau dokter. Di Illinois, misalnya, jumlah manajer melonjak drastis meskipun jumlah pendaftar mahasiswa menurun.
Para manajer ini seringkali tidak memiliki tugas produktif, sehingga mereka menciptakan pekerjaan fiktif berupa “”evaluasi””, “”paperwork””, dan “”prosedur baru”” yang wajib diisi oleh staf pelaksana. Akibatnya, dosen menghabiskan 20% waktu mereka hanya untuk mengisi berkas yang sebenarnya tidak berguna. Birokrasi menciptakan masalah agar mereka bisa menjual solusi.
Merujuk pada konsep James Scott, negara dan birokrasi besar selalu ingin menyederhanakan realitas agar mudah dikontrol (legibility). Seperti mengganti hutan yang beragam dengan perkebunan pohon homogen demi industri kayu, birokrasi mencoba mengubah manusia yang unik menjadi sekadar angka dalam kategori administratif.
Bagi birokrasi, individu bukanlah pribadi dengan sejarah, melainkan unit yang bisa dipajaki atau dikirim ke medan perang. Diversitas dan spontanitas dianggap sebagai musuh karena sulit dipetakan. Inilah alasan mengapa hidup terasa semakin kaku dan robotik: kita sedang dipaksa masuk ke dalam kotak-kotak administratif yang sempit.
Dampak dari sistem yang parasit ini adalah munculnya apatisme massal. Fenomena Quiet Quitting atau Lying Flat (rebahan) adalah bentuk pemberontakan pasif terhadap sistem birokrasi yang tidak lagi memberi ruang bagi pertumbuhan. Orang berhenti bekerja keras karena mereka sadar bahwa hasil keringat mereka hanya akan berakhir sebagai gaji besar bagi para administrator di puncak.
Selain itu, kekayaan yang kita lihat di pasar saham seringkali hanyalah ilusi. Jika diukur dengan nilai emas, harga saham sebenarnya menurun. Kita hidup di dalam “tanah dongeng” yang diciptakan oleh para birokrat untuk menutupi kenyataan bahwa daya beli masyarakat sedang dihancurkan oleh inflasi administratif.
Satu-satunya cara untuk bertahan di tengah sistem yang membusuk adalah dengan mengambil alih tanggung jawab atas pendidikan diri sendiri. Jangan bergantung sepenuhnya pada sertifikasi institusional yang kini semakin kehilangan nilainya. Pelajari keahlian nyata, baca buku di luar kurikulum resmi, dan bangun jaringan organik yang tidak bergantung pada birokrasi. Kemerdekaan sejati dimulai dari kemampuan untuk berpikir di luar kotak yang telah mereka sediakan.
Dunia ini sedang dikepung tumpukan angka,
Para manajer duduk manis di atas kursi tahta,
Kertas-kertas kerja kini menjadi berhala,
Padahal isinya seringkali hanyalah hampa.
Kampus pun berubah menjadi pasar belanja,
Mahasiswa bertingkah layaknya raja yang manja,
Dosen-dosen tersungkur dalam beban berkas kerja,
Birokrasi menghisap habis saripati semesta.
Tak perlu heran jika pemuda memilih rebahan saja,
Menolak menjadi sekadar baut dalam mesin raksasa.
Namun tenanglah wahai pencari makna yang nyata,
Kecerdasan hakiki takkan pernah bisa disandera.
Tertawalah pada komedi sistem yang gila,
Pupuklah jiwa dengan ilmu di luar kurikulum biasa,
Karena kedaulatan berpikir adalah senjata utama.