Liriknya Ngena Banget! Arti, Terjemahan & Chord Dial Tones – As It Is





As It Is – “Dial Tones” | Analisis Lengkap


🎵 “Dial Tones” – As It Is

Lirik Lengkap, Terjemahan, Analisis Makna & Informasi Lagu

📋 Informasi Lagu & Band

“Dial Tones” adalah single utama dan lagu pembuka dari album debut As It Is, “Never Happy, Ever After” (2015). Lagu ini merupakan lagu terobosan (breakthrough) bagi band dan menjadi salah satu lagu paling terkenal mereka, mencapai posisi #20 di chart rock AS. Seperti yang dicatat oleh Songfacts, lagu ini adalah tentang sebuah hubungan yang gagal dan menghadapi konsekuensi dari tindakan seseorang.

🎵 Identitas Lagu

Judul: Dial Tones
Artis: As It Is
Album: Never Happy, Ever After (2015)
Posisi: Track #1, Single Utama
Prestasi: #20 di chart Rock AS
Penulis: Alistair Ian Testo, Andrew Fletcher Westhead, Benjamin Izzy Biss, Patrick Michael Foley, Patrick Thomas Walters

🎙️ Tentang Band: As It Is

Asal: Brighton, Inggris
Genre: Pop-Punk, Emo, Alternative Rock
Aktif sejak: 2012
Ciri Khas: Lirik jujur tentang hubungan dan kesehatan mental, dinamika vokal Patty Walters dan Benjamin Biss, serta sound pop-punk yang enerjik namun emosional.

🎭 Tema Utama

• Hubungan yang rusak dan penyesalan
• Rasa bersalah dan tanggung jawab atas rasa sakit orang lain
• Komunikasi yang gagal dan jarak emosional (“dial tones”)
• Identitas diri yang hilang akibat tindakan sendiri
• Pertanyaan tentang kepercayaan dan rekonsiliasi

📈 Signifikansi “Dial Tones”: Lagu ini adalah single utama yang meluncurkan karier As It Is. Ini adalah lagu pertama mereka yang masuk chart AS (#20 di chart Rock) dan membantu mereka mendapatkan perhatian internasional. Musik video resminya telah ditonton jutaan kali di YouTube. Lagu ini sering menjadi pembuka setlist konser mereka dan dianggap sebagai lagu klasik dalam katalog mereka.

🎸 Kunci Gitar & Struktur Musik

Berdasarkan analisis musik dan karakteristik pop-punk As It Is, berikut adalah estimasi kunci gitar untuk “Dial Tones”.

🎶 Perkiraan Kunci & Progresi Chord

Estimasi Kunci Dasar: Lagu-lagu pop-punk dengan energi tinggi seperti “Dial Tones” sering menggunakan kunci mayor. Lagu ini kemungkinan besar dimainkan di G Mayor atau A Mayor.

Progresi Akor yang Direkomendasikan:

Untuk menangkap energi dan emosi lagu, coba progresi pop-punk klasik ini:

Verse (Emosional): GDEmC (I – V – vi – IV)

Chorus (“Am I all that you never wanted…”): CGDEm (IV – I – V – vi) dengan power chords dan energi tinggi.

Karakter Bermain:

• **Intro** dimulai dengan riff gitar yang catchy dan langsung menarik perhatian.

• **Verse** memiliki energi yang lebih terkendali dengan vokal yang jelas menceritakan kisah.

• **Chorus** adalah bagian paling kuat dan mudah diingat, dengan vokal yang lebih keras dan musik yang lebih penuh.

• **Bridge (“Forget me like you know you want to…”)** adalah bagian yang lebih intens sebelum kembali ke chorus terakhir.

💡 Tips Mempelajari & Mencari Versi Akurat

1. Dengarkan dan Analisis: Putar lagu aslinya dan coba identifikasi nada dasarnya dengan gitar. Mulailah dari kunci G Mayor.

2. Perhatikan Dua Versi Resmi: Ada versi album (lebih rock) dan versi akustik. Chord dasarnya sama, tetapi pendekatan bermainnya berbeda.

3. Cari Tutorial Resmi: As It Is kadang membagikan tutorial gitar di media sosial atau wawancara. Cari juga tutorial dari penggemar di YouTube dengan kata kunci “As It Is Dial Tones guitar tutorial”.

4. Eksplorasi Platform Chord: Situs seperti Ultimate Guitar mungkin memiliki transkripsi chord yang dibuat pengguna.

5. Gunakan Capo untuk Kemudahan: Jika perlu, gunakan capo untuk menyesuaikan kunci dengan vokal Anda.

📜 Lirik Lengkap & Terjemahan Baris per Baris

Lirik berikut diverifikasi dari sumber resmi Genius Lyrics dan SongMeanings. Terjemahan dibuat untuk memahami konteks dan nuansa setiap baris.

🔊 Perbedaan Versi: Terdapat perbedaan lirik yang signifikan antara versi album dan versi akustik pada baris tertentu. Kedua versi tersebut dicantumkan di bawah ini.

[Verse 1]

It really hurts to know that I’m why your bed’s half empty
(Sangat menyakitkan mengetahui bahwa akulah alasan tempat tidurmu setengah kosong)

Why you sleep alone or just stare up at your ceiling
(Mengapa kau tidur sendirian atau hanya menatap langit-langitmu)

And if you’re a mess, God knows what that makes me
(Dan jika kau berantakan, Tuhan tahu apa jadinya aku)

‘Cause the weight from all my guilt is all too much for me to carry
(Karena beban dari semua rasa bersalahku terlalu berat untuk kubawa)

I’m sorry
(Aku minta maaf)

[Chorus]

Am I all that you never wanted?
(Apakah aku semua yang tidak pernah kau inginkan?)

Or has it been so long that you’ve forgotten?
(Atau sudah begitu lama sehingga kau lupa?)

All we ever share are dial tones, dial tones
(Yang pernah kita bagi hanyalah nada panggil, nada panggil)

Take your caution or take your chances
(Ambil kewaspadaanmu atau ambil kesempatanmu)

[Album version:] I’ll make you run and break in the same breath
(Aku akan membuatmu lari dan hancur dalam napas yang sama)

[Acoustic version:] I’ll mend your heart and break it in the same breath
(Aku akan memperbaiki hatimu dan menghancurkannya dalam napas yang sama)

All we ever share were dial tones, dial tones
(Yang pernah kita bagi hanyalah nada panggil, nada panggil)

[Verse 2]

I’m getting more of what I’ve always wanted
(Aku mendapatkan lebih dari apa yang selalu kuinginkan)

But becoming less of who I’ve ever been
(Tapi menjadi kurang dari siapa yang pernah kujadi)

‘Cause I promised myself I’d never hurt you and I did
(Karena aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan pernah menyakitiimu dan aku melakukannya)

If you can’t trust a liar, how can you trust me again?
(Jika kau tidak bisa mempercayai pembohong, bagaimana kau bisa mempercayaiku lagi?)

I’m running out of ways to say I’m sorry
(Aku kehabisan cara untuk mengatakan aku minta maaf)


[Chorus]

Am I all that you never wanted?…
(Apakah aku semua yang tidak pernah kau inginkan?…)

[Bridge]

Forget me like you know you want to
(Lupakan aku seperti yang kau tahu kau inginkan)

Forget me like you know you have to
(Lupakan aku seperti yang kau tahu harus kau lakukan)

It really hurts to know that I’m why your bed’s half empty
(Sangat menyakitkan mengetahui bahwa akulah alasan tempat tidurmu setengah kosong)

Why you sleep alone or just stare up at your ceiling
(Mengapa kau tidur sendirian atau hanya menatap langit-langitmu)


[Chorus – Final]

Am I all that you never wanted?…
(Apakah aku semua yang tidak pernah kau inginkan?…)

All we ever share are dial tones, dial tones
(Yang pernah kita bagi hanyalah nada panggil, nada panggil)

All we ever share are dial tones
(Yang pernah kita bagi hanyalah nada panggil)

All we ever share are dial tones
(Yang pernah kita bagi hanyalah nada panggil)

💡 Analisis Makna & Tema Lagu

Seperti yang dijelaskan di Songfacts, “Dial Tones” adalah lagu tentang sebuah hubungan yang gagal dan menghadapi konsekuensi dari tindakan seseorang. Lagu ini menggali kompleksitas rasa bersalah, penyesalan, dan komunikasi yang rusak.

🧠 Inti Konflik: Rasa Bersalah, Komunikasi yang Rusak, dan Identitas yang Hilang

1. Rasa Bersalah yang Melumpuhkan dan Tanggung Jawab:

Lagu ini dimulai dengan pengakuan rasa sakit karena mengetahui bahwa narator adalah penyebab penderitaan orang lain: “It really hurts to know that I’m why your bed’s half empty.” Narator tidak hanya menyesali tindakannya, tetapi juga memikul beban rasa bersalah yang hampir tidak tertahankan (“the weight from all my guilt is all too much for me to carry”). Ini menunjukkan tingkat tanggung jawab dan penyesalan yang mendalam.

2. Metafora “Dial Tones” sebagai Komunikasi yang Mati:

Judul dan pengulangan frasa “dial tones” adalah metafora inti lagu ini. Nada panggil (dial tone) adalah suara yang terdengar saat telepon diangkat tetapi tidak ada panggilan yang dilakukan—simbol komunikasi yang gagal, koneksi yang terputus, dan kesunyian. “All we ever share are dial tones” berarti satu-satunya hal yang tersisa dalam hubungan ini adalah keheningan dan ketidakmampuan untuk terhubung. Ini mewakili jarak emosional yang tak teratasi.

3. Pertanyaan Eksistensial tentang Nilai Diri:

Pertanyaan berulang “Am I all that you never wanted?” mengungkapkan keraguan mendalam tentang nilai diri narator. Dia bertanya-tanya apakah dia pada dasarnya adalah kekecewaan atau ketidakinginanannya. Pertanyaan berikutnya, “Or has it been so long that you’ve forgotten?” menambah lapisan lain—mungkin hubungan itu sudah lama rusak hingga pasangannya bahkan tidak lagi mengingat mengapa mereka bersama.

4. Kontradiksi Diri dan Hilangnya Identitas:

Baris “I’m getting more of what I’ve always wanted / But becoming less of who I’ve ever been” adalah paradoks yang kuat. Narator mungkin mencapai tujuan eksternal (kesuksesan, kebebasan, dll.), tetapi dengan mengorbankan integritas dan identitasnya. Dengan melanggar janji untuk tidak menyakiti pasangannya, dia telah menjadi versi dirinya yang tidak dikenali—seseorang yang tidak dihormatinya.

5. Perbedaan Versi yang Signifikan:

Perbedaan lirik antara versi album dan akustik pada baris “I’ll make you run and break” vs “I’ll mend your heart and break it” mengungkapkan dua sisi narator yang sama-sama merusak:

Versi Album menunjukkan agresi dan pengusiran (“make you run”).

Versi Akustik menunjukkan manipulasi dan siklus harapan/penghancuran yang lebih halus (“mend your heart and break it”).

Kedua versi berakhir dengan hasil yang sama—kehancuran—tetapi versi akustik mungkin lebih berbahaya karena dimulai dengan kepura-puraan perbaikan.

6. Penerimaan Akhir dan Permintaan untuk Dilupakan:

Di bridge, narator berkata, “Forget me like you know you want to / Forget me like you know you have to.” Ini adalah pengakuan akhir bahwa hubungan ini tidak dapat diselamatkan dan yang terbaik bagi pasangannya adalah melupakannya. Dia memahami bahwa dirinya adalah racun dalam hidup pasangannya dan yang terbaik adalah menghilang.

Singkatnya, “Dial Tones” adalah studi mendalam tentang bagaimana rasa bersalah dan tindakan merusak dapat mengikis identitas seseorang dan menghancurkan koneksi manusia. Lagu ini tidak menawarkan penebusan atau rekonsiliasi yang mudah—hanya pengakuan pahit atas kerusakan yang telah dilakukan dan penerimaan bahwa beberapa hubungan hanya bisa berakhir dengan keheningan.