Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

Lirik lagu ini secara terbuka membahas perjuangan kesehatan mental, depresi, dan perasaan putus asa yang mendalam. Konten ditujukan untuk analisis artistik dan dapat memicu emosi yang kuat. Disarankan untuk pendengaran dengan kesadaran penuh.
Dinamika Emosional: Struktur lagu mencerminkan isi lirik. Bagian verse dan chorus cenderung memiliki melodi yang dapat dinyanyikan namun dibalut dengan kesedihan, sementara aransemen instrumental menciptakan ruang untuk vokal Patty Walters yang penuh perasaan. Intro dan interlude yang repetitif dengan suara latar memperkuat perasaan terobsesi dan putus asa.
Aransemen: Dibandingkan dengan karya awal mereka yang lebih ceria, album ini menandai pergeseran ke suara yang lebih dewasa, introspektif, dan terkadang lebih berat. Musiknya dirancang untuk mendukung tema mental health yang jujur dan tanpa filter.
| Tema Utama | Penjelasan | Contoh Baris Lirik |
|---|---|---|
| Kenyamanan dalam Penderitaan | Paradoks di mana perasaan depresi dan kesendirian justru terasa “seperti rumah”. Ini menunjukkan betapa akrab dan dalamnya perjuangan mental tersebut, hingga kondisi negatif itu sendiri yang memberikan rasa kenormalan palsu. | “I feel at home when I feel lower than I would like to say” “I feel at home when I feel lonely, when I feel cold and grey” |
| Perjalanan Melalui “Neraka” Mental | Judul lagu menggunakan idiom “to hell and back” yang berarti melalui pengalaman yang sangat sulit dan melelahkan. Di sini, “neraka” adalah metafora untuk depresi atau krisis kesehatan mental yang mendalam, dan “kembali” mengisyaratkan usaha bertahan hidup. | “Yeah, I went to hell and back ‘cause heaven was just too far away” |
| Janji yang Terpatahkan & Kebutuhan akan Kepastian | Narator merasa dikhianati oleh janji kosong bahwa “besok akan lebih baik”. Akibatnya, mereka merindukan kepastian apa pun — bahkan sebuah kebohongan — asalkan dapat memberikan kenyamanan sesaat dan meredakan kekacauan batin. | “‘Cause you said tomorrow would be better but that was yesterday” “I’ll let you break your promise, you can tell me lies… Just tell me everything’s gonna be alright” |
| Kehilangan Identitas & Penghindaran Diri | Rasa malu dan kebencian terhadap diri sendiri begitu kuat hingga narator tidak mampu lagi mengenali atau menghadapi bayangannya sendiri di cermin. Ini melambangkan keterputusan total dari identitas dan harga diri. | “I’ll cover my mirror ‘til it shows me someone that I can face” |
Konteks Album: “I WENT TO HELL AND BACK” adalah lagu utama dari album studio keempat As It Is dengan judul yang sama, dirilis pada 4 Februari 2022. Album ini menandai babak baru bagi band sebagai trio setelah kepergian dua anggota lama.
Pesan dari Band: Vokalis Patty Walters menggambarkan album ini, meski terkesimisme di permukaan, sebagai upaya untuk menjadi teman bagi pendengar yang berjuang. Ia berharap musik ini mengingatkan orang bahwa mereka tidak sendirian dalam perasaan “buruk atau tidak mampu”.
Evolusi Musik: Album ini dipuji karena konsistensi dan perkembangan band, menggabungkan daya tarik melodi pop-punk dengan eksplorasi tema kesehatan mental yang lebih gelap, tulus, dan terkadang marah. Lagu-lagunya disebut “membenamkan diri di telinga dan menanam ide yang menetas di otak”.
Tema Utama Album: Seperti judulnya, seluruh album membahas perjalanan melalui kesulitan mental. Walters menyatakan bahwa musik sedih mengingatkan pendengar bahwa mereka tidak sendirian, dan ia berharap album ini terasa seperti “bertemu dengan teman lama” untuk membicarakan pengalaman tumbuh dari masa-masa sulit.