Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

Sebuah lagu nostalgia yang penuh energi, merayakan kenangan masa muda yang liar dan bebas—tentang persahabatan, pemberontakan kecil, dan perasaan tak terkalahkan di bawah lampu jalan kota.
We used to laugh, we used to cry
Live and die by the forty-five
Take me back, I’ll go there
Who could stop us, and who would care?
Always keep, to the kids in the street
Dulu kita tertawa, dulu kita menangis
Hidup dan mati oleh empat puluh lima
Bawa aku kembali, aku akan ke sana
Siapa yang bisa menghentikan kita, dan siapa yang peduli?
Selalu setia, pada anak-anak di jalanan
We used to laugh, we used to cry
Say goodbye to I-35
Take me back, down a dirty road
Where it went, we didn’t care to know
A glory night is a story saved
Mark the chapter, but turn the page
Always keep, to kids in the street
When we were kids in the street
Just kids in the street
Dulu kita tertawa, dulu kita menangis
Mengucapkan selamat tinggal pada I-35
Bawa aku kembali, menyusuri jalan kotor
Ke mana arahnya, kami tak peduli untuk tahu
Malam yang gemilang adalah kisah yang disimpan
Tandai babnya, tapi balik halamannya
Selalu setia, pada anak-anak di jalanan
Saat kami masih anak-anak di jalanan
Hanya anak-anak di jalanan
“Kids In The Street” adalah lagu dengan energi tinggi yang khas anthemic pop-punk. Dibandingkan dengan materi demo yang lebih gelap, lagu ini memiliki produksi yang lebih polished, hook yang besar, dan dinamika yang dirancang untuk diteriakkan bersama di konser atau di dalam mobil.
Analisis Dinamika dan Emosi:
Intro & Verse (Pengantar Energik & Setting Adegan):
– Musik: Diawali dengan riff gitar yang catchy dan upbeat, drum yang energetic dengan snare yang tajam. Segera menetapkan tempo yang cepat dan semangat yang tinggi.
– Vokal: Masuk dengan percaya diri, menceritakan dengan nada yang seperti berkisah. “In the night, in the beat, city alight” langsung membawa pendengar ke dalam adegan.
– Suasana: Terasa seperti pembukaan film tentang masa remaja, penuh kemungkinan.
Chorus (Anthem Kebersamaan & Nostalgia):
– Musik: Power chord yang lebih penuh, vokal harmonisasi (mungkin gang vocal), dan melodi yang sangat mudah diingat. Bagian “Remember when we” adalah jeda yang sempurna sebelum ledakan emosi.
– Lirik: Pengulangan “kids in the street” menjadi hook dan identitas. “Live and die by the forty-five” adalah baris misterius yang menjadi pusat interpretasi.
– Energi: Sangat cocok untuk bernyanyi bersama, mencerminkan tema kebersamaan dalam lirik.
Bridge (Puncak Emosional & Euforia):
– Musik: Mungkin ada penurunan dinamika sebelum membangun kembali ke klimaks. Bagian “and we never felt so alive” bisa dinyanyikan dengan vokal yang lebih luas dan lapisan instrument yang padat.
– Vokal: Interaksi vokal utama dan backing vocal (“so alive”, “under the sky”) menciptakan perasaan euforia kolektif.
– Klimaks: “when the world stood still for you and I” adalah momen pemberhentian yang romantis, sebelum musik meledak kembali.
Outro (Refleksi & Penerimaan):
– Musik: Beralih ke bagian yang lebih reflektif (“Candles burn…”) sebelum kembali ke versi chorus yang lebih besar dan epik. Mungkin diakhiri dengan fade out yang panjang pada riff gitar atau vokal yang mengulang “kids in the street”.
– Lirik: Bagian akhir menunjukkan kedewasaan baru. “Mark the chapter, but turn the page” adalah penerimaan bahwa masa itu telah berakhir, tetapi kenangannya tetap dipegang erat.
Progresi Chord (Khas Pop-Punk Anthem):
Verse: G – D – Em – C (progresi energik dan optimis)
Chorus: C – G – D – Em (perubahan urutan untuk nuansa yang lebih heroik)
Bridge: Am – F – C – G (pergeseran emosional, lebih intim sebelum meledak)
Lagu “Kids In The Street” adalah sebuah time capsule emosional yang menangkap esensi masa remaja yang universal: perasaan kebebasan yang tak tertahankan, ikatan persahabatan yang kuat, dan keyakinan naif bahwa momen-momen itu akan berlangsung selamanya. Ini adalah lagu tentang melihat ke belakang dengan penuh kasih dan kerinduan, sambil mengakui bahwa waktu terus berjalan.
| Tema Utama | Bukti dari Lirik | Analisis Psikologis / Budaya |
|---|---|---|
| Kebebasan & Pelarian | “We’d steal ourselves away and hold on tight” “Too much for this one town” |
Jalanan (“the street”) mewakili ruang di luar kendali orang tua dan institusi. “Mencuri diri sendiri” menyiratkan bahwa kebebasan ini adalah tindakan pemberontakan kecil yang intim dan berharga. Mereka merasa terlalu besar untuk kota mereka, sebuah perasaan umum di masa remaja yang mendorong keinginan untuk menjelajah. |
| Persahabatan & Kebersamaan | “You were there, yeah, we were all there” “Just us” |
Bukan tentang seorang kekasih, tapi tentang sebuah geng, sebuah kelompok. Kata ganti “we” dan “us” mendominasi. Pengalaman kolektif inilah yang membuat kenangan itu kuat. Dalam kesendirian masa dewasa, mereka merindukan kebersamaan itu. |
| Ambiguity Masa Remaja | “No war, no peace, no hope, no means” | Ini menggambarkan liminal space masa remaja. Mereka tidak lagi anak-anak (“no peace”) tetapi belum sepenuhnya dewasa dengan tanggung jawab dan tujuan yang jelas (“no hope, no means”). Hidup mereka bukan tentang pencapaian besar, tapi tentang keberadaan murni dan pengalaman langsung (“just us”). |
| Mitos & Romantisisme Diri Masa Lalu | “We were dreams, we were American graffiti scenes” | Mereka memandang diri masa lalu mereka melalui lensa mitos budaya pop. “American graffiti scenes” mengacu pada film George Lucas 1973 tentang kehidupan remaja, menyiratkan bahwa pengalaman mereka terasa seperti film—epik, penuh gaya, dan abadi. Ini adalah cara meromantiskan kenangan biasa menjadi sesuatu yang legendaris. |
| Simbolisme “The Forty-Five” | “Live and die by the forty-five” | Ini adalah simbol multi-lapis yang cerdik. Bisa merujuk pada:
Ambiguity ini memperkaya lagu, memungkinkan setiap pendengar mengisinya dengan makna mereka sendiri. |
| Nostalgia Bittersweet & Penerimaan | “Candles burn, ‘cause the world will always turn” “Mark the chapter, but turn the page” |
Ini adalah bagian yang paling dewasa. Narator memahami hukum waktu (“dunia akan selalu berputar”). “Membakar kedua ujungnya” adalah metafora untuk hidup dengan intensitas, seperti di masa muda. “Tandai babnya, tapi balik halamannya” adalah keseimbangan yang sempurna: akui dan hargai masa lalu (“mark”), tetapi jangan terjebak di dalamnya (“turn the page”). Nostalgia bukan untuk hidup di dalamnya, tapi untuk memberi kekuatan pada masa kini. |
Nostalgia dalam “Kids In The Street” tidak hanya berupa kerinduan pasif. Ia memiliki beberapa fungsi:
Secara keseluruhan, “Kids In The Street” adalah sebuah anthem untuk jiwa muda yang abadi. Lagu ini memahami bahwa inti dari nostalgia bukanlah keinginan untuk hidup di masa lalu, tetapi pengakuan bahwa momen-momen itu—dengan semua kebebasan, persahabatan, dan perasaan tak terkalahkannya—selamanya menjadi bagian dari diri kita. Lagu ini bukan sekadar mengenang; ini adalah janji untuk “selalu setia” pada semangat anak-anak di jalanan itu, betapapun tuanya kita nanti.
“Kids In The Street” kemungkinan besar merupakan judul lagu dari album studio keempat mereka yang dirilis pada tahun 2012. Album ini menandai periode refleksi dan kedewasaan bagi band, setelah melalui kesuksesan besar dengan Move Along (2005) dan When the World Comes Down (2008).
Menarik untuk membandingkan semangat lagu ini dengan tema-tema yang dieksplorasi dalam materi demo mereka yang juga sering menyebut “kids” atau remaja, tetapi dengan sudut pandang yang sangat berbeda.
| Aspek | Materi Demo (2000-2001) Perspektif “Inside” |
“Kids In The Street” (2012) Perspektif “Looking Back” |
|---|---|---|
| Sudut Pandang Waktu | Berada di dalam momen, mengalami gejolak emosi (marah, sedih, terperangkap) secara real-time. | Melihat ke belakang dari jarak bertahun-tahun, dengan kejelasan dan kelembutan nostalgia. |
| Fokus Emosional | Drama hubungan romantis, fantasi, penderitaan, kehancuran. Sangat personal dan intens. | Kebahagiaan kolektif, kebebasan, persahabatan. Lebih universal dan celebratory. |
| Representasi Masa Muda | Masa muda sebagai periode yang menyakitkan, membingungkan, penuh dengan hubungan toksik dan pelarian yang putus asa. | Masa muda sebagai periode keemasan kebebasan, petualangan, dan ikatan murni. |
| Tone & Suasana | Gelap, eksperimental, raw, emosional, terkadang mengancam. | Terang, energik, polished, pahit-manis, penuh harapan. |
| Kata Kunci | Alone, need, gone, dream (illusion), hurt, wrecked. | We, alive, dance, laugh, remember, back, keep. |
| Resolusi | Seringkali tidak ada resolusi, hanya pengakuan akan rasa sakit atau keputusasaan. | Resolusi melalui penerimaan: masa lalu adalah bab yang indah, tapi hidup harus berlanjut. |
Lagu ini bisa dilihat sebagai titik akhir dari sebuah perjalanan tematik panjang: