Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

Sebuah lagu tentang pelarian dari iblis batin, krisis identitas, dan perjuangan untuk tetap waras di tengah pertempuran internal yang tak terlihat.
“Demons” memiliki struktur yang intens dengan pengulangan chorus yang mencerminkan siklus pelarian dan pengejaran yang tak berujung. Berikut analisis struktur dan perkiraan progresi chord:
Intro (Gitar dengan distorsi, atmosfer gelap dan menegangkan):
Em C G D (progresi emosional dengan nuansa minor)
Verse 1 & 2 (Vokal dengan sedikit efek echo, drum minimalis):
Em C
Driving a car with both eyes closed
G D
Got a broken heart and a busted nose…
Chorus (Energi meningkat dengan distorsi penuh, vokal intens):
C G
Because I’m running from my demons
D Em
They keep on chasing, but no one can see them…
Bagian “museum/mausoleum” (mungkin dengan perubahan dinamika):
Am C
Is this the real life? Feels like a museum
G D
That’s where my head’s at, there’s no turning back…
Verse 2 (Dinamika lebih introspektif):
Em C
Am I even here? Is it still even me?
G D
Am I some of the man that I still claim to be?…
Bridge (Pengulangan mantra-like, mungkin dengan efek vokal):
C G
That’s where my head’s at (Where my head’s at)
D Em
That’s where my head’s at (Where my head’s at)…
Final Chorus & Outro (Intensitas maksimal dengan variasi lirik):
C G
I’m running from my demons
D Em
They keep on chasing, no one can see ‘em…
[Outro dengan pengulangan “That’s where my head’s at” yang meredup]
Lagu “Demons” mengeksplorasi psikologi penderitaan mental yang tak terlihat dan krisis identitas. Narator menggambarkan pertempuran internal dengan “iblis-iblis” yang mengejarnya – metafora untuk masalah mental seperti depresi, kecemasan, trauma, atau kecanduan.
| Tema Utama | Bukti dari Lirik | Analisis Psikologis |
|---|---|---|
| Penderitaan Mental yang Tak Terlihat | “They keep on chasing, but no one can see them” | Narator menekankan isolasi dari mengalami masalah mental yang tidak terlihat oleh orang lain. Ini adalah pengalaman umum dari mereka yang berjuang dengan depresi atau kecemasan – penderitaan mereka tidak tampak secara eksternal. |
| Krisis Identitas dan Depersonalisasi | “Am I even here? Is it still even me?”, “Am I some of the man that I still claim to be?” | Narator mengalami depersonalisasi – perasaan terlepas dari diri sendiri. Dia mempertanyakan keberadaan dan identitasnya, menunjukkan disosiasi antara diri yang diproyeksikan dan diri yang dirasakan. |
| Metafora Pelarian yang Sia-sia | “I’m running from my demons”, “there’s no turning back” | Pelarian dari masalah mental seringkali sia-sia karena “iblis” adalah bagian dari diri sendiri. “No turning back” bisa berarti titik tanpa kembali atau penerimaan bahwa pertempuran ini permanen. |
| Kehidupan sebagai Ruang Mati | “Feels like a museum”, “or a mausoleum” | Museum adalah tempat benda mati yang diawetkan; mausoleum adalah makam. Keduanya menggambarkan perasaan mati secara emosional, terasing dari kehidupan, atau terjebak dalam masa lalu. |
| Ketidakmampuan untuk Terhubung | “You think you know me, nobody knows”, “You come to fix me / Would you believe… you need me?” | Narator merasa tidak dapat dikenal sepenuhnya oleh orang lain, namun paradoxically mempertanyakan apakah seseorang bisa “membutuhkannya” meski dalam keadaan rusak. |
1. Penggambaran Kehidupan yang Berbahaya (Verse 1)
Lagu dibuka dengan metafora berbahaya: “Driving a car with both eyes closed.” Ini mewakili kehidupan yang dijalani tanpa kesadaran penuh, mungkin karena depresi, kecemasan, atau disosiasi. “Broken heart and a busted nose” menunjukkan penderitaan emosional dan fisik. “You think you know me, nobody knows” menekankan kesenjangan antara persepsi orang lain dan realitas internal narator.
2. Deklarasi Pelarian (Chorus 1)
Chorus memperkenalkan tema utama: “I’m running from my demons.” Pengakuan bahwa “no one can see them” menekankan isolasi penderitaan mental. “Feels like a museum” adalah metafora pertama untuk perasaan terasing dan tidak hidup. “There’s no turning back” bisa berarti titik tanpa kembali atau penerimaan bahwa pertempuran ini permanen.
3. Krisis Identitas yang Mendalam (Verse 2)
“Am I even here? Is it still even me?” adalah pertanyaan eksistensial yang mencerminkan depersonalisasi – perasaan terlepas dari diri sendiri. “Am I some of the man that I still claim to be?” menunjukkan disonansi antara identitas yang diproyeksikan dan realitas internal. “It’s like losing a fight, I’m alone in the ring” adalah metafora untuk pertempuran internal yang kesepian.
4. Permintaan yang Paradoks (Verse 2 Lanjutan)
“You come to fix me / Would you believe, could you believe you need me?” adalah permintaan yang kompleks. Narator mengakui kebutuhan untuk “diperbaiki” tetapi juga mempertanyakan apakah seseorang bisa “membutuhkannya” dalam keadaan rusak. Ini mencerminkan perasaan tidak layak yang umum dalam depresi.
5. Eskalasi Metafora Kematian (Chorus 2)
Perubahan dari “museum” ke “mausoleum” menunjukkan perkembangan yang lebih gelap. Mausoleum adalah tempat kematian, bukan sekadar pengawetan. Ini mencerminkan bagaimana penderitaan mental dapat berkembang dari perasaan terasing menjadi perasaan mati secara emosional.
6> Mantra dan Resignasi (Bridge & Final Chorus)
Pengulangan “That’s where my head’s at” berfungsi seperti mantra, menunjukkan pikiran yang terjebak dalam loop. Pengulangan tanpa akhir dari chorus mencerminkan siklus pelarian yang tak berujung dari “iblis”. Outro yang meredup menciptakan kesan pelarian yang berlanjut tanpa resolusi.
Lagu ini secara akurat menangkap beberapa aspek pengalaman penderitaan mental:
Secara keseluruhan, “Demons” adalah potret yang jujur tentang pengalaman penderitaan mental yang tak terlihat. Narator tidak hanya menggambarkan pertempuran dengan “iblis” tetapi juga kompleksitas pengalaman tersebut: isolasi, krisis identitas, dan paradoks mencoba melarikan diri dari sesuatu yang merupakan bagian dari diri sendiri. Lagu ini mengeksplorasi bagaimana penderitaan mental dapat mengaburkan batas antara diri dan “iblis”, antara kehidupan dan kematian emosional, dan antara kenyataan dan perasaan terasing darinya.
“Demons” adalah lagu dari album The All-American Rejects yang berjudul “Kids In The Street” (2012). Album ini menandai era ketiga band dengan eksplorasi tema-tema yang lebih dewasa dan kompleks, termasuk kesehatan mental dan identitas.
“Demons” berbagi tema dengan beberapa lagu lain dalam album ini, tetapi dengan fokus khusus pada kesehatan mental:
| Lagu | Tema Serupa | Perbedaan Pendekatan | Tone/Energi |
|---|---|---|---|
| “Demons” | Penderitaan mental, krisis identitas | Metafora “iblis” dan pelarian, fokus pada pengalaman internal | Intens, gelap, dengan energi tertekan |
| “Bleed Into Your Mind” | Pikiran, kontrol, hubungan toksik | Perspektif manipulator vs. perspektif korban penderitaan mental | Agresif, mengancam, dengan energi gelap |
| “Heartbeat Slowing Down” | Kehilangan, penyesalan, akhir | Fokus pada hubungan yang berakhir vs. pertempuran internal | Melankolis, reflektif, dengan tempo lambat |
| “Gonzo” | Perilaku self-destructive, pelarian | Pelarian eksternal melalui kenakalan vs. pelarian internal dari “iblis” | Kacau, energik, rebellious |
| “Kids In The Street” (judul lagu) | Nostalgia, masa lalu, identitas | Nostalgia masa kecil vs. krisis identitas dewasa | Bittersweet, optimistik, dengan suasana retro |
Berdasarkan tema lagu, video musik “Demons” mungkin akan menampilkan: