Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

Sebuah lagu tentang alienasi sosial, kesehatan mental, dan kritik terhadap masyarakat kontemporer – awalnya oleh Harvey Danger (1997), dibawakan kembali dengan energi pop punk oleh The All-American Rejects.
“Flagpole Sitta” awalnya direkam oleh band Harvey Danger pada tahun 1997 untuk album mereka “Where Have All the Merrymakers Gone?”. The All-American Rejects membuat cover lagu ini dengan pendekatan pop punk yang lebih energik, sambil mempertahankan lirik asli yang jenius dan penuh sindiran sosial.
Fingertips have memories
I can’t forget the curves of your body
And when I feel a bit naughty
I run it up the flagpole and see
Who salutes but no one ever does
Ujung jari memiliki ingatan
Aku tak bisa melupakan lekuk tubuhmu
Dan ketika aku merasa agak nakal
Aku menjalankannya ke tiang bendera dan melihat
Siapa yang memberi hormat tapi tak pernah ada yang melakukannya
Put me in the hospital for nerves
And then they had to commit me
You told them all I was crazy
They cut off my legs, now I’m an amputee
God damn you
Masukkan aku ke rumah sakit untuk saraf
Dan kemudian mereka harus memasukkanku
Kau memberi tahu mereka semua bahwa aku gila
Mereka memotong kakiku, sekarang aku seorang amputee
Terkutuklah kau
Hear the voices in my head
I swear to God it sounds like they’re snoring
But if you’re bored then you’re boring
The agony and the irony, they’re killing me, ah
Dengar suara-suara di kepalaku
Aku bersumpah kepada Tuhan terdengar seperti mereka mendengkur
Tapi jika kau bosan maka kau membosankan
Penderitaan dan ironinya, mereka membunuhku, ah
The All-American Rejects membawakan “Flagpole Sitta” dengan energi pop punk yang lebih tinggi, tempo lebih cepat, dan produksi yang lebih “polished” dibanding versi asli Harvey Danger yang lebih raw dan bergaya 90s alternative rock. Namun, mereka mempertahankan struktur dan lirik asli yang jenius.
Intro (Gitar energik dengan power chords):
E5 G#5 C#5 A5 (riff cepat dan catchy)
Verse (Vokal cepat dengan energi tinggi):
E G#
I had visions, I was in them
C# A
I was looking into the mirror…
Chorus (Hook yang sangat catchy):
E G# C# A
And I’m not sick but I’m not well…
Bridge (Perubahan dinamika, lebih reflektif):
B C#
I wanna publish zines and rage against machines…
G# A
I’d like to turn off time and kill my mind…
Outro (Energi tinggi, pengulangan dengan vokal grup):
E G# C# A (berulang dengan “One, two, three, go!”)
| Element | Versi Harvey Danger (1997) | Versi The All-American Rejects | Analisis Perbedaan |
|---|---|---|---|
| Tempo | Sedang (sekitar 140 BPM) | Cepat (sekitar 160 BPM) | Versi TAAR lebih energik dan cocok untuk panggung live |
| Produksi | Raw, 90s alternative rock | Polished, pop punk modern | Produksi lebih bersih dengan mixing yang lebih modern |
| Vokal | Sean Nelson: lebih sarkastik, deadpan | Tyson Ritter: lebih energik, penuh emosi | Pendekatan vokal yang berbeda meski lirik sama |
| Instrumentasi | Gitar lebih jernih, arrangement minimalis | Power chords, drum lebih agresif | Energi pop punk vs. alternatif rock 90s |
| Durasi | 4:01 | 3:45 (perkiraan) | Versi TAAR lebih singkat dan padat |
The All-American Rejects membawakan cover ini dengan signature sound pop punk mereka:
“Flagpole Sitta” dirilis pada tahun 1997, di puncak era grunge dan alternative rock. Lagu ini menangkap semangat sinis dan alienasi generasi Gen-X, serta kritik terhadap media dan masyarakat konsumeris akhir 90-an. Meskipun The All-American Rejects membawakannya di era yang berbeda (2000-an/2010-an), tema-temanya tetap relevan.
Lagu “Flagpole Sitta” adalah studi tentang alienasi, kesehatan mental, dan kritik sosial yang dibungkus dalam paket musik yang catchy. Meskipun dibawakan dengan energi pop punk oleh The All-American Rejects, lirik asli Harvey Danger tetap mempertahankan kecerdasan dan kedalaman sarkasme sosialnya.
| Tema Utama | Bukti dari Lirik | Analisis Psikologis/Sosial |
|---|---|---|
| Krisis Identitas dan Pencarian Diri | “I was looking into the mirror to see a little bit clearer the rottenness and evil in me” | Pencarian jujur akan diri sendiri yang mengungkap aspek-aspek yang tidak menyenangkan. Ini mencerminkan introspeksi eksistensial yang umum pada usia muda dewasa. |
| Kondisi Mental “Liman” (Neither Sick Nor Well) | “I’m not sick but I’m not well” (diulang berkali-kali) | Penggambaran sempurna tentang kondisi mental di mana seseorang tidak cukup sakit untuk diagnosis formal, tetapi juga tidak cukup sehat untuk berfungsi optimal. Ini mencerminkan pengalaman banyak orang dengan kesehatan mental “subklinis”. |
| Kritik Eugenika dan Stupiditas Massal | “Only stupid people are breeding, the cretins cloning and feeding” | Komentar sinis tentang kecenderungan populasi (idiotocracy) di mana orang yang kurang cerdas dianggap bereproduksi lebih banyak. Ini juga kritik terhadap budaya pop dan media massa (“I don’t even own a TV”). |
| Pengalaman dengan Sistem Kesehatan Mental | “Put me in the hospital for nerves and then they had to commit me” | Penggambaran pengalaman traumatis dengan institusi kesehatan mental, termasuk stigma (“You told them all I was crazy”) dan perasaan dimutilasi secara metaforis (“They cut off my legs, now I’m an amputee”). |
| Ekspresi Counterculture dan Pemberontakan | “I wanna publish zines and rage against machines” | Referensi langsung terhadap budaya DIY (zines) dan gerakan anti-establishment (“rage against machines” – juga referensi band Rage Against the Machine). Ini menempatkan narator dalam tradisi pemberontakan budaya. |
| Paranoia dan Alienasi Sosial | “Paranoia, paranoia, everybody’s coming to get me” | Pengalaman paranoid yang umum dalam kondisi kesehatan mental tertentu, tetapi juga metafora untuk perasaan terus-menerus dihakimi atau diancam oleh masyarakat. |
1. “I’m not sick but I’m not well” – Antara Sakit dan Sehat
Frasa ini mungkin adalah kontribusi terbesar lagu ini terhadap leksikon budaya pop. Ini menangkap pengalaman banyak orang dengan kesehatan mental: tidak cukup “sakit” untuk memerlukan intervensi medis serius, tetapi juga tidak cukup “sehat” untuk berfungsi dengan bahagia. Ini adalah liminal space (ruang ambang) yang semakin diakui dalam diskusi kesehatan mental kontemporer.
2. “Run it up the flagpole and see who salutes” – Pencarian Validasi
Frasa bisnis ini digunakan secara ironis untuk menggambarkan pencarian validasi atas ide atau identitas seseorang. “But no one ever does” menunjukkan bahwa narator tidak pernah mendapat validasi yang dicari, memperdalam perasaan alienasi.
3. “The trivial sublime” – Paradox Kehidupan Modern
Oxymoron yang brilian ini menangkap esensi pengalaman modern: menemukan yang sublim (agung, mendalam) dalam hal-hal trivial (remeh). Ini bisa merujuk pada menemukan makna dalam budaya pop, media, atau pengalaman sehari-hari yang tampaknya tidak penting.
4. “And it’s a sin to live so well” – Rasa Bersalah karena Sehat
Baris ini menambahkan lapisan kompleksitas: ketika narator akhirnya merasa “well” (sehat/bahagia), dia merasa bersalah. Ini mencerminkan fenomena di mana orang dengan masalah kesehatan mental kadang merasa tidak layak untuk bahagia, atau merasa bahwa kebahagiaan mereka adalah bentuk pengkhianatan terhadap identitas “sakit” mereka.
Gejala dan Kondisi yang Disarankan:
Mekanisme Coping yang Digambarkan:
1. Kritik terhadap Media dan Konsumerisme:
“And I don’t even own a TV” adalah pernyataan penolakan terhadap budaya media massa. Di era 1997 saat lagu ini dirilis, ini adalah pernyataan counterculture yang signifikan. Di era digital sekarang, penolakan terhadap media mainstream bahkan lebih relevan.
2. Kritik terhadap Sistem Kesehatan Mental:
Penggambaran pengalaman dengan rumah sakit jiwa (“put me in the hospital for nerves”) dan stigma (“you told them all I was crazy”) adalah kritik terhadap bagaimana masyarakat menangani kesehatan mental. Metafora amputasi (“cut off my legs”) menyiratkan bahwa perawatan kadang merampas bagian diri seseorang.
3. Kritik terhadap Reproduksi dan Pendidikan:
“Only stupid people are breeding” adalah komentar sinis tentang kecenderungan populasi dan kualitas pendidikan. Meskipun berlebihan dan provokatif, ini mencerminkan kekhawatiran tentang masa depan masyarakat.
4. Komentar tentang Kebosanan dan Makna:
“But if you’re bored then you’re boring” adalah kritik terhadap budaya yang mengagungkan stimulasi konstan. Ini menyarankan bahwa kemampuan menemukan makna dalam yang biasa adalah tanda kecerdasan atau kedalaman.
Secara keseluruhan, “Flagpole Sitta” adalah potret kompleks tentang kesehatan mental dan alienasi dalam masyarakat modern. Meskipun dibawakan dengan energi catchy oleh The All-American Rejects, kedalaman lirik asli Harvey Danger tetap intact, menawarkan baik katarsis emosional bagi yang berjuang dengan kesehatan mental maupun kritik sosial yang tajam bagi yang mengamati masyarakat. Lagu ini berhasil menjadi anthem baik untuk penderitaan individu maupun kritik kolektif, sebuah pencapaian yang jarang dalam musik populer.
Versi asli Harvey Danger (1997) awalnya tidak sukses secara komersial sampai digunakan dalam film “Disturbing Behavior” (1998) dan kemudian menjadi hits internasional di tahun 1998-1999. Lagu ini menjadi anthem generasi Gen-X dan tetap populer dalam budaya alternatif. Cover oleh The All-American Rejects memperkenalkan lagu ini ke generasi baru penggemar pop punk/emo.
The All-American Rejects dikenal karena cover-cover mereka yang energik:
| Lagu (Artis Asli) | Tahun Cover | Pendekatan | Signifikansi |
|---|---|---|---|
| “Flagpole Sitta” (Harvey Danger) | 2005-2006 | Pop punk energik dengan tempo lebih cepat | Memperkenalkan lagu 90s alt rock ke audiens pop punk 2000-an |
| “The Last Song” (The All-American Rejects) – versi akustik | 2002 | Akustik, lebih intim | Menunjukkan range vokal dan kemampuan akustik band |
| “Mona Lisa” (versi live berbagai artis) | Various | Improvisasi live dengan elemen pop punk | Menunjukkan kemampuan improvisasi dan engagement dengan penggemar |
| “Woman” (John Lennon) – sesekali | Occasional | Penghormatan dengan sentuhan pop punk | Menunjukkan pengaruh musik klasik rock pada band |
“Flagpole Sitta” memiliki dampak budaya yang signifikan:
Ada beberapa alasan mengapa The All-American Rejects mungkin memilih untuk meng-cover “Flagpole Sitta”:
Cover “Flagpole Sitta” menempati posisi menarik dalam evolusi band:
Lebih dari dua dekade setelah rilis aslinya, “Flagpole Sitta” tetap relevan: