Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

Sebuah eksplorasi sonic tentang kecemasan yang melumpuhkan, di mana individu merasa kehilangan kendali atas takdirnya di tengah kebisingan dunia modern.
Lagu ini menonjolkan penggunaan synthesizer yang agresif dan ritme drum yang konstan, mencerminkan detak jantung yang cepat saat serangan panik.
[Intro/Verse]:
Bm – G – D – A
[Chorus]:
Bm A
Don’t pressure us
G D
Anxiety, I’m a passenger
Bm A
So serious
G D
Anxiety, just a passenger
| Simbol / Frasa | Penjelasan Analitis |
|---|---|
| “Passenger” (Penumpang) | Salah satu simbol terpenting. Narator merasa ia tidak lagi memegang kemudi hidupnya; kecemasanlah yang menyetir, sementara ia hanya duduk pasif melihat hidupnya berlalu. |
| “Speeds of ashes” | Gambaran tentang sesuatu yang hancur dengan sangat cepat. Mimpi yang berubah menjadi abu melambangkan harapan yang hangus terbakar oleh tekanan mental. |
| “Crude washed up” | Minyak mentah yang terdampar melambangkan polusi emosional atau sampah pikiran yang mengotori kejernihan jiwa narator akibat lingkungan urban yang “tak berperasaan”. |
| “Crawl home safe inside” | Menunjukkan keinginan untuk regresi atau kembali ke tempat perlindungan internal (pikiran) karena dunia luar dirasa terlalu berbahaya untuk dihadapi dengan berdiri tegak. |
Anxiety menandai pergeseran Angels & Airwaves ke arah yang lebih “gelap” dan “mentah” dibandingkan *Love: Part One*. Tom DeLonge menyebutkan bahwa ia ingin lagu ini terdengar seperti perpaduan antara The Cure dan energi Blink-182 namun dibalut dalam synthesizer industri. Suara synth yang berdengung di sepanjang lagu sengaja dirancang untuk menciptakan ketidaknyamanan auditif yang meniru perasaan gelisah penderita kecemasan.
Video musik Anxiety menampilkan Tom DeLonge yang berakting sangat ekspresif, hampir seperti penderita gangguan saraf, di depan layar yang memproyeksikan visual abstrak. William Eubank, sutradara langganan AVA, menggunakan teknik kamera yang tidak stabil (handheld) untuk memperkuat rasa disorientasi. Video ini bertujuan menunjukkan bahwa kecemasan adalah “monster tidak terlihat” yang membuat penderitanya tampak aneh bagi orang luar.
Dalam proses penulisan, Tom sedang banyak melakukan riset mengenai tekanan sosial pada generasi muda. Kalimat “Don’t pressure us” adalah seruan kolektif kepada sistem pendidikan, pekerjaan, dan ekspektasi sosial yang dianggap sebagai pemicu utama gangguan mental. Tom ingin lagu ini menjadi anthem bagi siapa saja yang merasa tercekik oleh tuntutan untuk selalu menjadi “sempurna” di mata dunia.
Sebagai pembuka album *Love: Part Two*, lagu ini dirilis secara mandiri melalui jaringan MODLIFE. Tom DeLonge menggunakan lagu ini untuk membuktikan bahwa band independen dapat memproduksi kualitas audio stadium-rock tanpa bantuan label besar. Drum oleh Ilan Rubin di lagu ini memberikan fondasi yang sangat dinamis, menggabungkan ketukan mekanis elektronik dengan pukulan drum fisik yang bertenaga.