Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

Sebuah prolog menghantui yang mengeksplorasi kondisi manusia melalui lensa distopia, di mana kekacauan dan penderitaan dianggap sebagai rutinitas yang lazim.
| Simbol / Frasa | Penjelasan Analitis |
|---|---|
| “Parasomnia” | Gangguan tidur yang melibatkan gerakan atau perilaku tidak biasa (seperti tidur berjalan). Melambangkan manusia yang hidup namun tidak sadar sepenuhnya akan realitas di sekelilingnya. |
| “Passengers” | Representasi manusia sebagai sosok pasif yang hanya “menumpang” pada arus takdir tanpa kendali, seringkali membawa beban penderitaan yang terlihat di wajah mereka. |
| “Caliber / Gun” | Metafora untuk potensi destruktif manusia. Tom DeLonge menyoroti bagaimana setiap orang memiliki kapasitas untuk menyakiti, menjadikannya bagian dari “keindahan” distopia yang ia amati. |
| “Wonderful place” | Sarkasme tingkat tinggi. Deskripsi tempat yang menyedihkan sebagai tempat yang “indah” menunjukkan disorientasi moral atau penerimaan pahit terhadap dunia yang rusak. |
Judul lagu ini merujuk langsung pada kategori gangguan tidur yang luas. Dalam mitologi Poet Anderson, parasomnia adalah celah di mana dunia mimpi buruk mulai merembes ke dalam realitas. Lagu ini secara musikal dirancang untuk terdengar seperti transisi antara terjaga dan bermimpi, menggunakan lapisan synthesizer yang kabur dan vokal yang terdistorsi lembut.
Bersama Ilan Rubin, Tom DeLonge sengaja membuang struktur lagu pop tradisional untuk “Parasomnia”. Lagu ini lebih condong ke arah soundscape sinematik. Penekanan pada suara “klik” dan tekstur elektronik yang dingin bertujuan untuk membangun rasa cemas (anxiety) pada pendengar sebelum masuk ke trek berikutnya yang lebih dinamis.
Meskipun liriknya sangat singkat, “Parasomnia” menangkap kegelisahan Tom terhadap masyarakat modern. Pengamatan tentang “penumpang yang kesakitan” mencerminkan pandangannya bahwa banyak individu terjebak dalam sistem yang menekan namun mereka sudah terlalu mati rasa untuk melawan, sebuah tema yang ia eksplorasi lebih lanjut dalam novel grafis pendampingnya.