Lirik & Terjemahan
Dinamika Vokal Kembali
Lagu ini menandai kembalinya formasi klasik Tom, Mark, dan Travis. Verse dinyanyikan oleh Mark Hoppus dengan nada naratif yang gelap, sementara Chorus yang meledak dinyanyikan oleh Tom DeLonge, menciptakan kontras yang powerful[citation:5].
Verse 1 (Mark Hoppus)
Metafora Kekerasan: Gambaran “medan perang” dan “senjata nuklir” mengangkat konflik hubungan ke tingkat kehancuran total, jauh dari metafora cinta remaja khas Blink era awal[citation:1].
Your bed is the last battlefield, a nuclear weapon
Tempat tidurmu adalah medan perang terakhir, sebuah senjata nuklir
Let’s search and destroy all the innocent throats we can step on
Mari kita cari dan hancurkan semua tenggorokan tak bersalah yang bisa kita injak
You bury your face underneath, half-hearted confessions
Kau kubur wajahmu, di balik pengakuan setengah hati
You poison yourself with the thought I won’t love you to death
Kau racuni dirimu sendiri dengan pikiran bahwa aku tak akan mencintaimu sampai mati
Pre-Chorus (Tom DeLonge)
Black lights across my face
Cahaya hitam menyapu wajahku
Words that we’ll never write
Kata-kata yang takkan pernah kita tulis
Wait for the phone to ring
Tunggu telepon berbunyi
Back to the starting line, go!
Kembali ke garis start, ayo!
Chorus (Tom DeLonge)
Paradoks Inti: Pengulangan “I don’t feel pain, but I feel more than you’d ever know” adalah jantung lagu ini—sebuah pengakuan tentang mati rasa yang justru menyimpan lautan perasaan[citation:1].
I don’t feel pain, but I feel more than you’d ever know
Aku tak merasakan sakit, tapi aku merasakan lebih dari yang kau tahu
I don’t feel shame, I don’t have highs, but I’ve got some lows
Aku tak merasa malu, aku tak punya euforia, tapi aku punya beberapa masa sulit
I feel a bit cursed, I’ve been numb and sinking down like a stone
Aku merasa sedikit terkutuk, aku mati rasa dan tenggelam seperti batu
I don’t feel pain, but I feel more than you’d ever know
Aku tak merasakan sakit, tapi aku merasakan lebih dari yang kau tahu
More than you’d know
Lebih dari yang kau tahu
Verse 2 (Mark Hoppus)
I shook all the leaves from your tree and left you with nothing
Aku guncang semua daun dari pohonmu dan tinggalkanmu tanpa apa-apa
I can’t see the colors you see, they won’t see me coming
Aku tak bisa melihat warna yang kau lihat, mereka takkan melihatku datang
The ivy is starting to creep, it grows through the awnings
Si ivy mulai merayap, tumbuh melalui kanopi
It’s dawning on me that I shouldn’t be trying at all
Aku mulai sadar bahwa seharusnya aku tak berusaha sama sekali
Bridge & Outro (Tom & Mark)
Harmoni Putus Asa: Bagian bridge dinyanyikan bersama oleh Tom dan Mark, dengan vokal latar “We’re lonely, wherever, too tongue-tied forever” yang menciptakan suasana keterasingan yang menyeluruh[citation:5].
It goes on and on, I swear we don’t belong
Ini terus berlanjut, aku bersumpah kita tak seharusnya ada
On and on, I swear we don’t belong (We’re lonely, wherever, too tongue-tied forever)
Terus berlanjut, aku bersumpah kita tak seharusnya ada (Kita kesepian, di mana pun, terlalu terikat kata selamanya)
It goes on and on, I swear it don’t belong (We’re lonely, wherever, too tongue-tied forever)
Ini terus berlanjut, aku bersumpah ini tak seharusnya ada (Kita kesepian, di mana pun, terlalu terikat kata selamanya)
“I’ve been numb and sinking down like a stone” – Beban Emosional yang Tak Terlihat dan Sensasi Tenggelam
Paradoks “More Than You Know”
Penyangkalan Perasaan
“I don’t feel pain” (Penyangkalan)
“I don’t feel shame” (Ketidakhadiran)
“I’ve been numb” (Mati Rasa)
Permukaan yang Dingin
Realitas Batin
“I feel more than you’d ever know” (Kedalaman)
“I’ve got some lows” (Penderitaan)
“Sinking down like a stone” (Tenggelam)
Lautan Emosi Tersembunyi
Struktur & Chord
Energi dan Teknik Drum Travis
Tom DeLonge menyebut “More Than You Know” sebagai lagu favoritnya di album karena bagian drum double bass yang “rad” yang dibuat Travis Barker, yang menurutnya “lagu ini membutuhkannya”[citation:5].
STRUKTUR: Intro – Verse 1 – Pre-Chorus – Chorus – Verse 2 – Pre-Chorus – Chorus – Bridge – Chorus
Tuning: Standar (E A D G B e) dengan distorsi berat dan tuning drop mungkin
Intro & Verses (Progressi Gelap):
[Am] [G/B]
Your bed is the last battlefield, a nuclear weapon
[C] [F]
Let’s search and destroy all the innocent throats…
Pre-Chorus (Bangunan Ketegangan):
[C]
Black lights across my face
[C]
Words that we’ll never write…
Chorus (Ledakan Penuh – Progresi Power):
[Em] [D]
I don’t feel pain, but I feel more than you’d ever know
[G] [C]
I don’t feel shame, I don’t have highs…[citation:3]
Bridge (Atmosfer Berat):
[Em] [D]
It goes on and on, I swear it don’t belong
[C]
On and on (We’re lonely)…
Produksi dan Mix: Lagu ini diproduksi oleh Travis Barker sendiri[citation:4]. Mix oleh Adam Hawkins memberikan sound yang masif namun jelas, memungkinkan setiap elemen—dari piano intro yang sedih hingga distorsi gitar yang mengamuk—untuk bersinar[citation:4][citation:5].
Karakteristik Musik & Perbandingan
- Intro Piano: Dimulai dengan intro piano yang “sedih” sebelum berubah menjadi “fast-paced punk rock jam”[citation:4].
- Sound Berat: Banyak kritikus yang menyebut lagu ini mengingatkan pada era album self-titled 2003 dan “Neighborhoods” (2011), dengan fusi pop-punk/post-hardcore yang lebih berat[citation:4].
- Energi Agresif: Digambarkan sebagai “fist-pumping pop-punk banger” yang “energized and aggressive”[citation:4].
- Dinamika Ekstrem: Kontras antara bagian verse yang lebih atmosferik dan chorus yang meledak dengan double bass drum.
Analisis Makna
Penderitaan yang Tak Terlihat
“More Than You Know” adalah studi tentang bagaimana penderitaan emosional yang paling dalam justru sering kali tak terlihat dari luar—sebuah “kutukan” privat yang disembunyikan di balik permukaan yang “mati rasa”[citation:1].
Lagu “More Than You Know” adalah eksplorasi tentang paradoks penderitaan emosional: bagaimana perasaan yang paling intens justru bisa termanifestasi sebagai mati rasa, dan bagaimana seseorang bisa merasa “lebih dari yang kamu tahu” sementara secara lahiriah menyangkal merasakan sakit sama sekali. Ini adalah lagu tentang keterputusan antara pengalaman internal dan penampilan eksternal.
| Aspek Psikologis |
Manifestasi dalam Lirik |
Analisis |
Alexithymia (Kesulitan Mengidentifikasi Perasaan) |
“I don’t feel pain, but I feel more than you’d ever know” |
Narator mengalami kesulitan mendasar dalam mengidentifikasi dan menamai emosi mereka. Mereka tahu “merasakan” sesuatu yang dalam, tetapi tidak dapat mengkategorikannya sebagai “sakit” yang spesifik. |
Emotional Numbing (Mati Rasa Emosional) |
“I’ve been numb and sinking down like a stone” |
Respons terhadap trauma atau depresi yang berkepanjangan di mana sistem emosional “shutdown” sebagai mekanisme pertahanan. “Tenggelam seperti batu” adalah metafora yang sempurna untuk depresi yang berat dan tak tertahankan. |
Anhedonia (Ketidakmampuan Merasakan Kesenangan) |
“I don’t have highs, but I’ve got some lows” |
Gejala klasik depresi di mana kemampuan untuk mengalami kebahagiaan atau kesenangan hilang, sementara penderitaan tetap ada. Dunia menjadi datar, hanya diwarnai oleh “lows”. |
| Self-Sabotage dalam Hubungan |
“I shook all the leaves from your tree and left you with nothing” |
Narator mengakui peran mereka dalam menghancurkan hubungan, merusak sumber kebahagiaan pasangan (“pohon”) hingga tidak bersisa. Ini menunjukkan kesadaran akan pola destruktif diri sendiri. |
Metafora Alam: Pohon, Daun, dan Ivy
Lagu ini kaya akan metafora alam yang mencerminkan kondisi psikologis:
- “I shook all the leaves from your tree”: Daun mewakili kehidupan, vitalitas, dan kebahagiaan. Mengguncangnya hingga habis adalah tindakan penghancuran total terhadap sesuatu yang hidup dan tumbuh.
- “The ivy is starting to creep”: Ivy (tanaman rambat) sering kali mewakili sesuatu yang secara perlahan mengambil alih dan mencekik. Dalam konteks ini, bisa berupa depresi, kecemasan, atau pola pikir negatif yang secara bertahap menyelimuti segalanya.
- “It grows through the awnings”: Bahkan struktur pelindung (“awnings”/kanopi) tidak dapat menghentikan pertumbuhan ivy ini, menunjukkan bahwa penderitaan ini menembus semua pertahanan.
- “Sinking down like a stone”: Batu yang tenggelam tidak melawan, tidak mengapung—ia pasrah terhadap tarikan gravitasi yang tak terhindarkan, seperti narator yang pasrah terhadap depresi mereka.
Konteks Album “One More Time…”: Dalam konteks album yang sebagian besar berfokus pada rekonsiliasi, persahabatan, dan kematangan (setelah Mark Hoppus bertarung melawan kanker), “More Than You Know” menyajikan sisi gelap yang kontras. Ini mengakui bahwa bahkan setelah penyembuhan dan reuni, luka emosional yang dalam dan pola destruktif tetap ada dan harus dihadapi[citation:4].
Konteks & Analisis
Reuni Formasi Klasik
Dirilis pada 21 September 2023, “More Than You Know” adalah salah satu dari dua singel yang mengumumkan kembalinya formasi klasik Blink-182 (Tom, Mark, Travis) dan album reuni mereka “One More Time…”[citation:4].
Rilis
21 September 2023[citation:4]
Album
One More Time…[citation:4]
Produser
Travis Barker[citation:4]
Perjalanan Rilis dan Antisipasi
Lagu ini memiliki sejarah rilis yang menarik yang membangun antisipasi besar[citation:5]:
- Teaser Pertama: Travis Barker membagikan klip 5 detik lagu ini via Instagram story pada 19 Januari 2023[citation:5].
- “Stall Page” Misterius: Pada 4 Mei 2023, Blink meluncurkan “stall page” di website mereka yang penuh dengan tulisan di dinding, termasuk lirik “I don’t feel pain, but I feel more than you’d ever know” dan “MORE THAN YOU’LL EVER KNOW 6/2” (tanggal yang akhirnya tidak terbukti)[citation:5].
- Snippet Tersembunyi: Pengunjung “stall page” bisa mendengar snippet lagu pada 5 September 2023 saat karakter pembersih memainkannya di headphone, dan snippet intro piano pada 12 September saat menyiram toilet[citation:5].
- Rilis Double Single: Lagu ini akhirnya dirilis sebagai “double single” bersama dengan “One More Time” pada 21 September 2023, mengejutkan penggemar[citation:5].
Penerimaan dan Signifikansi
- Pujian Kritis: Jon Blistein dari Rolling Stone menulis bahwa lagu ini “menemukan Blink mengeraskan gitarnya sambil mempertahankan tingkat kerentanan dan kecemasan emosional yang tinggi”[citation:4].
- Favorit Anggota Band: Tom DeLonge menyebut ini lagu favoritnya di album karena elemen drum double bass yang “rad” dan cara lagu menggabungkan elemen metal dan punk rock[citation:5].
- Peringkat Chart: Lagu ini debut di berbagai chart internasional, termasuk #7 di UK Rock & Metal Chart dan #41 di US Hot Rock & Alternative Songs[citation:4].
- Penanda Arah Musical: Lagu ini, bersama dengan album “One More Time…”, menunjukkan Blink-182 yang lebih matang dan reflektif namun tetap mempertahankan intensitas dan energi yang menjadi ciri khas mereka.
“Lagu ini menemukan Blink mengeraskan gitarnya sambil mempertahankan tingkat kerentanan dan kecemasan emosional yang tinggi.” — Jon Blistein, Rolling Stone, tentang bagaimana “More Than You Know” menyeimbangkan intensitas musik dengan kedalaman emosional[citation:4].