Cerita Absurd tema Insomnia

Bro lu tau nggak insomnia?

Insomnia itu gangguan tidur yang bikin orang susah tidur, sering kebangun tengah malam, atau bangun terlalu pagi dan nggak bisa tidur lagi.

Akibatnya, badan jadi lelah, mood berantakan, dan otak susah fokus pas siang hari.

Kayaknya lo sudah tahu ya, tapi ga ada salahnya ane ngasih tambahan info sedikit sebelum to the content.

Penyebabnya bisa macem-macem, kayak:

  • Stres atau overthinking sebelum tidur
  • Kebiasaan begadang atau main HP di kasur
  • Konsumsi kafein atau alkohol malam-malam
  • Gangguan kesehatan kayak GERD, nyeri kronis, atau sleep apnea
  • Perubahan hormon, terutama pas menstruasi atau menopause

Kalau udah kronis, bisa berlangsung lebih dari 3 bulan dan ngaruh ke kualitas hidup. Tapi tenang, insomnia bisa diatasi kok:

  • Terapin sleep hygiene (jam tidur konsisten, hindari layar sebelum tidur)
  • Teknik relaksasi atau terapi CBT-I
  • Kadang perlu bantuan obat, tapi harus sesuai resep dokter2

Ok, are you ready… kita mulai dari

Konspirasi Merpati

Suatu malam, ada anak Jaksel, sebut aja namanya Kevin. Dia udah siap tidur: aromatherapy nyala, playlist “deep chill with a splash of lo-fi” udah muter, dan mata udah 50% merem. Tapi otaknya tiba-tiba ngeluarin pertanyaan random:

“Bro, kenapa kita nggak pernah lihat bayi merpati?”

Langsung dia buka HP, cari jawabannya. Satu jam kemudian dia nyasar ke artikel teori konspirasi soal merpati adalah drone pemerintah.

Jam 3 pagi, dia udah bikin thread Twitter panjang: “Guys, literally I’ve cracked it. Merpati tuh bukan burung beneran. They’re literally watching us. #InsomniacThoughts”

Besok paginya, dia join meeting Zoom, lupa matiin filter TikTok yang bikin mukanya jadi alien. Bosnya cuman bilang:

“I love the enthusiasm… tapi kamu kenapa glowing hijau?”

Moral of the story? Jangan ngasih otak kamu WiFi jam 2 pagi.

Ketika Ngantuk Dikhianati

Jam 2 pagi. Si Dika, anak komplek sebelah yang baru mulai meditasi dan hidup sehat, lagi rebahan sambil pake face mask yang katanya “infused with Himalayan serenity.” Tapi belum sempat tidur, dia kepikiran:

“Bro, kenapa kipas angin punya tiga mode tapi semua tetap bikin angin?”

Bukannya tidur, dia malah ngulik perbedaan mode kipas angin—“low, medium, high… tapi hati ini tetap hampa.”

Jam 3:15, dia buka kulkas. Nemu es batu bentuk hati, langsung mikir:

“Apakah semesta mau bilang, cinta itu dingin dan sementara?”

Sambil ngemil es batu, dia buka laptop dan bikin puisi:

Angin malam berbisik lirih,
Kipas hanya memutar luka yang tak bisa kualih.
Es batu di genggaman retak tak bersuara,
Seperti harapan yang cuma pendingin rasa.

Jam 5 pagi, mata udah merah, jiwa udah makin “artsy.” Dia masuk grup WA keluarga dan kirim puisi tadi. Emaknya cuma reply:

“Mau dibikinin teh jahe gak?”

Bro, ini insomnia-nya udah bukan begadang—ini udah full episode festival keresahan dalam diam.

Kucing dan Telepati Tengah Malam

Jam 1:48 pagi. Si Adit, anak Pak RT yang punya kucing bernama “Chico”, lagi rebahan sambil dengerin playlist “lo-fi but emotionally unavailable”. Tiba-tiba Chico duduk depan dia, mantengin tajam.

Adit panik.

“Bro, dia kayak tahu gue baru stalk IG mantan sampe post tahun 2017…”

Chico nggak berkedip, tatapan tajamnya makin dalam. Adit ngomong:

“Lo gak bisa judge gue, lo CUMA KUCING.”

Tapi Chico tiba-tiba jalan ke rak buku, dorong jatuh buku berjudul “Let That Sht Go”*.

Adit langsung bengong:

“INI KUCING PUNYA AGENDA DETOX EMOSI?”

Jam 3 pagi, Adit tanya Google: “Apakah hewan peliharaan bisa telepati?” Jawabannya ambigu, tapi dia udah yakin:

“Chico bukan sekadar kucing. Dia literally life coach berbulumu.”

Jam 4:17, Chico tidur nyenyak. Sementara Adit masih ngelamun, sambil ngetik caption:

“Kadang yang paling ngerti kita bukan manusia, tapi makhluk yang suka tidur 18 jam sehari.”

Bro, insomnia tuh emang suka bikin hidup jadi versi existential Netflix original.

Ngorok Tak Terjawab (Thriller)

Jam 2:21 pagi. Si Reza baru aja naruh HP-nya setelah scroll video mukbang ASMR selama 57 menit. Mata capek, tapi otak masih ngebahas teori warna buat feed IG-nya.

Dia akhirnya tidur… atau setidaknya, dia pikir begitu.

Tiba-tiba, dari kamar sebelah terdengar suara ngorok—bukan ngorok biasa. Ini ngorok yang kayak beat lo-fi dark trap:

“Krrrrghhh…ssshh…tap tap tap…”

Reza mikir:

“Bro, siapa yang ngorok sambil beatbox?!”

Dia nyamperin kamar sebelah. Kosong. Cuma ada mug bergambar “Find Your Flow” dan satu kipas angin mode mystery. Kipasnya gerak pelan, tapi anginnya kayak berbisik:

“Bukan semua suara bisa dijelaskan, bro…”

Reza balik ke kamar. Di kasur, tiba-tiba ada sticky note nempel di bantalnya:

“Kau hanya akan tidur jika kau menghadapi suara itu…”

Jam 3:33, dia bawa mug ke luar kamar, ngadep ke kipas, nyalain mode ketiga. Tiba-tiba kipas berhenti. Suara ngorok pun… hilang. Tapi di dinding muncul tulisan embun:

“Sleep well, insomniac. Tapi jangan lupa, suara itu akan datang saat lo ngerasa udah tenang.”

Besok paginya, Reza bangun dengan mata panda. Dia buka laptop dan bikin branding baru:

“Mug untuk yang nggak bisa tidur, tapi bisa menghadapi kenyataan.”

Bro, insomnia tuh kadang kayak dibikin script sama penulis film indie habis nonton terlalu banyak thriller.

komedi ya bro, tentang insomnia

INSOM-NYAH: Ketika Kantuk dan Kewarasan Gak Satu Tim

Jam 12:04. Si Rafi baru niat tidur. Tapi tiba-tiba…

“Eh, gue belum bales story mantan. Kalau gue bales jam segini, dia notice gak ya?” drrt… bales story pake emoji api 🔥 Insomnia level 1: aktifkan mode dramatis.

Jam 1:23. Di kasur, dia rebahan. Tapi mata malah main petak umpet sama kantuk.

“Kenapa kasur keras kayak penolakan ya?” Dia gerak kiri, gerak kanan… posisi tidur malah kayak huruf ‘Q’.

Jam 2:30. Lapar. Buka kulkas, cuma nemu:

  • Sambal sachet
  • Mangga plastik buat dekor
  • Teh celup expired 2024 Dia tetap nyeduh teh celup. Karena di insomnia, semua pilihan hidup kayak soft launch aja.

Jam 3:15. Dia buka YouTube: “How to sleep in 60 seconds.” Video pertama: meditasi suara ombak. Video kedua: suara kipas. Video ketiga: suara ibu-ibu marahin anaknya. Dia ketiduran pas suara ibu-ibu bilang, “Udah tidur sana, besok sekolah!”

Jam 6 pagi, dia bangun. Kantung mata udah bisa dijadiin tote bag. Tapi tetap posting di IG:

“Sleep is for the weak. I’m literally built different.” Sambil upload selfie pakai filter glowing, padahal mata kayak habis ikut seminar gagal.

Moral cerita: insomnia tuh kayak Wi-Fi tengah malam, nyambung terus padahal udah gak dibutuhin.

MALAM-MALAM, KOK OTAK AKTIF?

Vano anak mama lagi insomnia sambil berpikir kayak filsuf—cuma pake piyama.

Jam 01:01. Si Vano udah niat banget tidur. Kamarnya gelap, AC nyala, mata udah setengah tertutup. Tapi otak tiba-tiba kayak acara kuis:

“Kalau keju itu dari susu, kenapa namanya nggak ‘susumu’?!”

Dia buka Notes HP. Judul catatan: “Pertanyaan yang bikin hidup lebih absurd dari skripsi”

Jam 02:08. Denger suara nyamuk, langsung ngeluarin sandal. Tapi waktu nyamuk terbang, dia kepikiran:

“Bro… nyamuk itu bisa cari darah tapi gak pernah cari validasi. Kita kalah sama serangga.”

Dia diem… mikir.

“Apakah nyamuk itu representasi cinta yang datang tanpa izin?”

Jam 03:00. Dia akhirnya ketiduran sebentar. Tapi cuma 7 menit. Bangun-bangun langsung nge-tweet:

“Tidur sebentar kayak hubungan toxic—nyaman tapi gak sehat.”

Jam 04:10. Dia nyeduh kopi biar bisa… gak tidur lebih lama lagi.

“Ironis sih… insomnia bikin gue minum kopi padahal tujuannya biar gak tidur. Gue kayak korban pilihan gue sendiri.”

Jam 06:00. Cahaya matahari masuk. Dia bangun, ngaca. Mata bengkak. Tapi tetap posting story:

“Inner peace is a mindset, not eyebags.”

Bro, insomnia tuh kadang kayak seminar motivasi internal—panas, rame, tapi gak dapet sertifikat tidur.

Tidurku Tertukar dengan Pikiran Mantan

Jam 00:15. Si Aldi lagi rebahan sambil scroll TikTok. Feed-nya isinya cuma dua:

  1. Video kucing joget.
  2. Motivasi cinta dari cowok rambut belah tengah.

Tiba-tiba dia lihat video mantan yang lagi nari TikTok pakai caption:

“Healing itu tentang aku, bukan kamu.”

Otak Aldi langsung kebuka portal kenangan:

“Kok dia bisa joget… sementara aku masih kejebak di zona insomnia?”

Jam 01:45. Dia niat tidur. Tapi waktu tutup mata, muncul bayangan mantan bilang:

“Kamu tuh kayak bantal… nyaman tapi nggak pernah bikin aku tidur tenang.” 😭

Dia langsung duduk, buka Notes, dan nulis skenario sinetron:

Judul: Tertidur di Pelukan Rindu
Episode 1: Kasur Ini Pernah Jadi Saksi
Episode 2: Aku dan Bantal yang Menyimpan Namamu
Episode 3: Selimut Ini Sudah Lelah Menutupi Luka

Jam 03:00. Dia nangis pelan. Tapi gak mau terlihat lemah, jadi dia tutup mata sambil bilang:

“Biar ngorok gue yang ngomong kalau gue kuat.”

Jam 04:20. Akhirnya dia tertidur… tapi mimpi mantan lagi nari TikTok di depan kipas angin. Kipasnya bisik pelan:

“Move on, bro… atau gue nyala mode tornado.”

Besok pagi, Aldi bangun dengan energi galau dan muka bengkak. Tapi tetap upload story:

“Bukan karena mantan… ini karena kipas yang terlalu jujur.”

INSOMNIA LEVEL DEWA: Ketika Pikiran Nyasar ke Planet Lain

Jam 00:00. Si Bimo niat tidur abis nonton anime. Tapi otaknya malah buka tab baru:

“Kalau burung bisa terbang, kenapa kita cuma bisa rebahan?”

Jam 01:30. Dia lihat bayangan sendiri di langit-langit. Otak langsung mikir:

“Gue literally kayak superhero yang gak punya kekuatan—cuma cape.”

Jam 02:02. Dia nyalain kipas angin. Tapi suara kipas kayak bisik-bisik dosen pas ujian:

“Belajar gak? Tidur nggak? Hidup lo mau ke mana?”

Jam 03:13. Dia ngidam martabak, tapi gak ada. Jadi dia gigit bantal… dan langsung mikir:

“Ini bantal rasanya kayak keputusan hidup—lembek tapi bikin kenyang emosi.”

Jam 04:04. Dia chatting ke temennya:

“Bro, lo pernah mimpi mantan ngajak healing ke planet Mars?”

Temennya bales:

“Lo insomnia atau nyasar ke timeline multiverse?”

Jam 05:00. Bimo akhirnya tidur. Tapi mimpinya malah jadi talkshow: Host: “Selamat datang di acara Tidur yang Tak Tuntas, bersama Bimo yang gagal rebahan!” Bimo: “Saya cuma ingin bantal yang gak penuh kenangan.” Penonton: tepuk tangan sambil nangis

Bro, insomnia tuh kadang bukan kurang tidur, tapi kelebihan teori hidup.

Tidur Jadi Konten — Karena Kantuk Tidak Bisa Menolak Sponsorship

Jam 00:45. Si Nico “content creator by destiny, sleeper by accident,” lagi ngantuk tapi gak bisa tidur. Daripada bengong, dia buka mic dan mulai rekam:

“Hai guys… ini episode 1 podcast gue: ‘Tidur yang Tertunda.’ Hari ini kita bahas… kenapa kasur lebih judgemental daripada mantan.”

Jam 01:23. Dia buka sesi curhat live:

“Temen-temen, kasur gue udah gak percaya sama gue. Dia tahu gue cuma rebahan buat cari validasi, bukan niat tidur.”

Jam 02:02. Dapat sponsor! “Episode ini disponsori oleh Kopi Lelah—karena insomnia itu pilihan gaya hidup.”

Jam 03:10. Masuk email:

“Podcast lo relatable banget. Gue nangis waktu lo bilang ‘Bantal bukan tempat tidur, tapi tempat trauma.’”

Jam 04:00. Nico masih rekam podcast sambil nyender ke tembok.

“Guys… gue udah jadi sleeping influencer. Tidur gue gak sukses, tapi engagement tinggi.”

Jam 05:17. Podcast viral. Trending #1. Caption TikTok: “Ketika insomnia jadi passion dan bantal jadi co-host.”

Bro, insomnia sekarang bukan gangguan—itu genre hidup.

Tidur Ditagih Deadline

Jam 00:30. Si Damar buka laptop, niat mau kirim invoice. Tapi pas buka file, dia malah ke-distract lihat folder “Foto mantan & kopi aesthetic.” Otak langsung nyasar ke masa lalu:

“Gue belum kirim invoice… tapi gue udah lunasin luka.”

Jam 01:10. Dia buka Google Docs… niat bikin invoice. Tapi malah nulis puisi:

“Kau seperti tenggat waktu—datang cepat, tapi aku tetap lambat.”

Jam 02:00. Chat dari klien masuk:

“Mas invoice-nya ditunggu ya.” Dia balas pelan: “Ditunggu… seperti aku menunggu tidur datang. Sama-sama PHP.”

Jam 03:15. Dia coba bikin invoice manual, tapi malah ketiduran sebentar… 4 menit. Bangun-bangun, Excel-nya udah crash, dan dia lupa nama file.

“Apakah invoice itu nyata… atau cuma harapan yang belum diverifikasi?”

Jam 04:07. Klien chat lagi:

“Mas, kalau invoice belum sempat, bisa kirim estimasi aja dulu.” Damar balas: “Estimasi gue cuma satu: kantuk dan beban hidup.”

Jam 05:30. Invoice akhirnya dikirim. Tapi dia juga kirim satu pesan bonus:

“Maaf lambat… insomnia saya punya manajemen waktu sendiri.”

Besok paginya, klien bales:

“Santai aja mas. Saya juga belum tidur. Kita serumpun.”

Bro, insomnia x deadline itu kayak duet toxic.

Nasi Goreng, Tapi Aku Sedih

Jam 03:00 pagi. Si Tono lagi tidur pulas setelah nonton maraton drama Korea. Tiba-tiba… dia duduk di kasur, buka mata setengah, dan dengan suara pelan berkata:

“Nasi gorengnya jangan sedih ya…”

Istrinya bingung.

“Apa, Mas?”

Tono lanjut, matanya masih setengah ngantuk tapi ekspresi serius banget:

“Telurnya tuh harus happy. Nasi goreng itu butuh support system.”

Terus dia diem… lalu tiba-tiba berteriak:

“Di mana kecap manisnya! Aku gak bisa move on tanpa dia!”

Istrinya udah panik, mikir suaminya kerasukan chef galau. Dia coba bangunin pelan, tapi Tono malah minta sendok dan bilang:

“Aku harus nyuapin rasa kecewa ini.”

Akhirnya dia ketiduran lagi sambil meluk bantal, bisik pelan:

“Semua rasa enak itu sementara… seperti perhatian kamu waktu awal pacaran.”

Besok paginya ditanya, Tono jawab:

“Serius?! Gue ngelindur ngomongin nasi goreng? Kirain cuma mimpi tentang mantan dan sambel.”

Bro, ngelindur tuh kayak podcast versi low budget, jujur, absurd, dan kadang lebih relatable dari status orang di story.

Sekarang dongen dari Jawa

“Turu Ora Turu” — Kisah Tragis Mas Wawan Melawan Kantuk Jam Telu”

Jam telu esuk. Mas Wawan lagi gegoleran nang kamar, niat turu. Tapi otake malah mbulet.

“Lha kok aku kelingan cilok? Wong ngantuk kok malah laper.”

Dheweke tangi, nyeduh kopi sachet, ngetok meja:

“Kopi iki rasane ora ngangkat… malah mbucal ati sing wis legi amarga kenangan mantan.”

Jam 03:30, Mas Wawan ngelindur—tiba-tiba ngomong:

“Bu, ayamku kok mlebu mimpi. Ndekem nang sepur, nggendong angklung!”

Ibu’e bingung, malah ngetok sendok sambil ngucap:

“Wawan, turu opo lagi casting sinetron mimpi?”

Jam 04:12, dia ngepost status FB:

“Turu kok mung dadi wacana. Rasane kayak nunggu undangan manten sing ora tekan-tekan.”

Jam 05:00, cah srengenge mulai nyawang. Mas Wawan isih melek, ngelus-elus bantal:

“Bantal iki ora empuk, tapi wes ngerti sedhihku. Kaya mas-mas warung kopi, ngerti tanpa tak critani.”

Besok pagine, Mas Wawan tuku mug, tulisane:

“Ngantuk iku cita-cita, turu iku harapan, mantan iku masa lalu.”