Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

Saya punya teman dari Malaysia dan Filipina, mereka menjual barang mainan. Ketika mereka jual di marketplace seperti Shopee, semakin kesini makin sepi. Karena invasi harga murah dari Indonesia?

Disarankan minum es kobokan dulu. Artikel ini pedasnya level “ayam geprek sambal setan dicampur inflasi”.
Dari Malaysia sampai Filipina, bahkan Singapura yang katanya “negara paling siap digital”, tiba-tiba heboh dengan satu pertanyaan:
“Kenapa seller Indonesia makin hari makin mendominasi marketplace kami?”
Orderan mereka makin sepi, rating makin kering, dan sisi psikologis mereka mulai goyang ketika melihat:
Kalau dulu barang dari China yang bikin pedagang lokal stres,
sekarang malah Indonesia yang jadi “China versi Asia Tenggara”.
Mari kita bedah satu per satu. Bersiaplah, karena ini versi savage.
Malaysia dan Filipina bilang:
“Kenapa mainan dari Indonesia murah sangat?”
Jawabannya simpel:
Karena di Indonesia pabrik mainan bukan hal spesial — itu hal normal.
Dari Cikarang sampai Cikupa, dari Bandung sampai Ungaran,
pabrik-pabrik kecil bertebaran seperti minimarket.
Bahkan pabrik rumahan di Tangerang bisa produksi:
Ini hal yang negara tetangga tidak punya dalam jumlah besar.
Mereka masih mengandalkan impor dari China…
Sementara Indonesia:
“Kenapa harus impor kalau bisa bikin KW Premium Lokal kualitas supranatural?”
Kalau dulu kirim barang ke Malaysia harus Anda pertimbangkan:
Sekarang?
Shopee, TikTok, dan kawan-kawan sudah membuat jalur neraka kapitalisme yang sangat efisien:
Akibatnya ongkir Indonesia → Malaysia bisa lebih murah daripada ongkir Malaysia → Malaysia (ya, benar).
Singapura lebih parah:
Pembeli Singapura melihat harga Indonesia + ongkir = masih lebih murah daripada harga seller Singapura sendiri.
Ini fakta objektif.
Seller Indonesia bukan hanya pedagang.
Mereka adalah kombinasi pedagang + pasukan tempur + psikopat margin tipis.
Karakter khas seller Indonesia:
Bandingkan dengan seller Malaysia:
“Margin kurang RM3, saya tak jadi jual lah…”
Dengan seller Filipina:
“I need at least PHP 40 profit…”
Dengan seller Singapura:
“$2 profit is not worth my time.”
Seller Indonesia jawab:
“Bro… kita dari Indonesia. Kita hidup dengan COD barbar dan pembeli yang tanya jam 2 pagi. Ini bukan apa-apa.”
Pasar Indonesia melatih mental pedagang sampai level final boss.
Semua marketplace besar punya prinsip:
“Kalau bisa dapat harga murah, buat apa promosi yang mahal?”
Dan siapa yang menyediakan harga paling rendah?
Ya, tetangga kalian: Indonesia.
Tidak peduli pembeli ada di:
Kalau ada opsi:
Produk Malaysia = RM 18
Produk Indonesia = RM 8
Free ongkir pula…
Pembeli:
“Saya pilih Indonesia ah.”
Singapura masuk daftar karena satu hal:
Konsumen kaya, tapi mental bargain hunter tetap melekat.
Dan seller Singapura sering kaget:
“How come Indonesia seller sells this at $1.20? My cost price already $1.40.”
Jawabannya sederhana:
Karena cost Indonesia itu $0.30, bro.
Bahkan dengan ongkir:
Indonesia → Singapore = tetap murah.
Singapore → Singapore = masih mahal.
Ironi kapitalisme modern.
Di Malaysia/Filipina, banyak seller mainan:
Sementara Indonesia:
Akhirnya harga barang di Indonesia bisa:
Seller Filipina mengeluh:
“Indonesian sellers are like… impossible to compete with.”
Betul.
Karena Anda melawan ekosistem ekonomi dari negara dengan:
Yang terjadi sebenarnya sederhana:
Konsumen ingin yang termurah.
Dan Indonesia menyediakan itu.
Dulu Malaysia selalu bangga:
“Saya beli from Malaysian seller, support local.”
Sekarang:
“Support local tapi kalau selisih RM 6… sorry ya.”
Filipina pun begitu:
“Same product but Indonesian is PHP 120 cheaper? Bye local.”
Singapura lebih savage:
“Cheap is good. Who cares where it comes from?”
Kenyataan kapitalisme:
Pembeli tidak punya nasionalisme ketika harga beda jauh.
Tidak.
Indonesia tidak melakukan invasi.
Indonesia hanya melakukan hal yang sama yang China lakukan 15 tahun lalu:
Kalau negara lain tidak ikut berkembang?
Ya tenggelam.
Ini bukan invasi.
Ini evolusi.
Seller Singapura itu kuat, tapi sangat berbeda kultur:
Sementara Indonesia:
Jadi ketika sama-sama masuk marketplace yang sama?
Singapura: $8
Indonesia: $2
Pembeli: “Huh?”
Apa mau bilang apa lagi?
Kalau mau jujur, tiga negara ini TIDAK BISA menang melawan Indonesia di:
Karena ini kategori yang pabriknya paling banyak di Indonesia.
Strategi realistis:
Area ini sudah jadi “tanah kekuasaan Indonesia”.
Indonesia unggul harga, bukan lisensi.
Seller Singapura paling bisa ini.
Malaysia & Filipina bisa belajar dari pengalaman mereka.
Seller lokal selalu unggul di aftersales.
Indonesia kuat di harga,
tapi lemah di personal live interaction untuk pasar luar negeri.
Mengapa seller Indonesia menguasai marketplace Malaysia, Filipina, dan Singapura?
Karena:
Indonesia sekarang ibarat “China mini versi Asia Tenggara”
dan tiga negara tetangga mau tak mau harus menyesuaikan diri.
Siapa yang adaptif → aman.
Siapa yang baca artikel ini tapi tetap ngeluh → wassalam.