Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

Sebuah lagu tentang obsesi, keinginan yang tak terpenuhi, dan cinta yang terasa seperti kejahatan sempurna yang memenjarakan jiwa.
I gave away the world for you to
Hear me say
Don’t throw me away
(Don’t throw me away)
And there’s no way out
I gotta hold you somehow
All I wanna do is touch you
Kuberikan dunia untukmu agar
Mendengarku berkata
Jangan buang aku
(Jangan buang aku)
Dan tidak ada jalan keluar
Aku harus memelukmu bagaimanapun caranya
Yang ingin kulakukan hanyalah menyentuhmu
I wanna I wanna I wanna touch you
You wanna touch me too
But all I have is time
Our love’s the perfect crime
I wanna I wanna I wanna touch you
You wanna touch me too
And when they set me free
Yeah, just put your hands on me
Aku ingin aku ingin aku ingin menyentuhmu
Kau ingin menyentuhku juga
Tapi yang kumiliki hanyalah waktu
Cinta kita adalah kejahatan yang sempurna
Aku ingin aku ingin aku ingin menyentuhmu
Kau ingin menyentuhku juga
Dan ketika mereka membebaskanku
Ya, letakkan saja tanganmu padaku
“I Wanna” memiliki struktur yang dibangun dengan repetisi untuk mencerminkan sifat obsesif dari liriknya. Pengulangan “I wanna I wanna I wanna” menjadi hook utama yang menancap di pikiran pendengar.
Intro (Gitar dengan distorsi sedang, atmosfer gelap):
Em C G D (progresi emosional dengan nuansa gelap)
Verse 1 & 2 (Vokal dengan sedikit efek echo, instrumentasi minimal):
Em C
I never thought that I was so blind
G D
I can finally see the truth…
Pre-Chorus (Ketegangan meningkat, drum mulai masuk):
C G
But can you hear me say?
D Em
Don’t throw me away…
Chorus (Energi penuh, distorsi gitar, vokal intens):
C G
I wanna I wanna I wanna touch you
D Em
You wanna touch me too…
Bagian “perfect crime” (mungkin dengan perubahan dinamika):
Am C
Every day, but all I have is time
G D
Our love’s the perfect crime…
Bridge (Dinamika menurun, lebih introspektif):
C Em
Tonight, I’m weak (Tonight, I’m weak)
G D
It’s just another day without you…
Final Chorus & Outro (Intensitas maksimal, lalu meredup):
C G
I wanna I wanna I wanna touch you
D Em
You wanna touch me too…
[Diulang dengan variasi lirik, lalu meredup di bagian akhir]
Lagu “I Wanna” mengeksplorasi psikologi obsesi dan keinginan patologis. Narator terjebak dalam siklus keinginan yang tak terpenuhi, mengubah cinta menjadi “kejahatan sempurna” yang memenjarakan dirinya sendiri dan objek keinginannya.
| Tema Utama | Bukti dari Lirik | Analisis Psikologis |
|---|---|---|
| Obsesi Patologis | “I wanna I wanna I wanna touch you” (pengulangan), “All I wanna do is touch you” | Pengulangan kompulsif mencerminkan pola pikir obsesif. Narator tidak bisa menghentikan pikiran tentang menyentuh orang ini, tanda kecanduan emosional atau obsesi. |
| Cinta sebagai Kejahatan | “Our love’s the perfect crime”, “Take everything that I know you’ll break” | Metafora kejahatan mengubah hubungan dari sesuatu yang positif menjadi destruktif. “Perfect crime” menyiratkan sesuatu yang terlarang, rahasia, dan merusak. |
| Perasaan Terperangkap | “There’s no way out”, “when they set me free”, “I gotta hold you somehow” | Narator merasa terperangkap dalam keinginannya sendiri. Metafora penjara (“set me free”) menunjukkan kurangnya kebebasan emosional. |
| Pengorbanan Diri yang Tidak Sehat | “I give my life away”, “I gave away the world for you” | Narator rela mengorbankan segalanya untuk orang ini, tanda hubungan tidak seimbang dan mungkin manipulatif. |
| Kebutuhan Fisik yang Mendesak | “Just put your hands on me”, “All I wanna do is touch you” | Fokus pada sentuhan fisik daripada koneksi emosional menunjukkan keinginan primal yang mungkin tidak sehat atau sepihak. |
1. Pengakuan atas Ilusi (Verse 1)
Lagu dibuka dengan pengakuan: “I never thought that I was so blind / I can finally see the truth.” Namun ironisnya, “kebenaran” yang dilihat narator mungkin adalah ilusi baru—keyakinan bahwa hubungan ini adalah “cinta” padahal mungkin obsesi. “It’s never gonna be the truth / So far for you” menunjukkan kesadaran bahwa perasaannya tidak akan pernah dibalas.
2. Permohonan dan Penjara Emosional (Pre-Chorus)
“Don’t throw me away” adalah permohonan yang putus asa, menunjukkan rasa tidak berharga diri. “There’s no way out / I gotta hold you somehow” menciptakan citra seseorang yang terjebak dan mencengkeram erat sebagai respons terhadap ketakutan akan ditinggalkan.
3. Manifestasi Obsesi (Chorus)
Chorus adalah inti obsesi: pengulangan “I wanna I wanna I wanna” yang kompulsif. “Our love’s the perfect crime” adalah metafora yang mengganggu—mengubah hubungan menjadi sesuatu yang kriminal, terlarang, dan mungkin merusak. “All I have is time” menunjukkan bagaimana obsesi telah mengonsumsi seluruh keberadaannya.
4> Pengorbanan Diri yang Sadar (Verse 2)
“Take everything that I know you’ll break / And I give my life away” menunjukkan kesadaran akan destruktivitas hubungan tetapi ketidakmampuan untuk berhenti. Ini adalah pola klasik dalam hubungan abusive atau obsesif—mengetahui sesuatu buruk tetapi tetap melanjutkan.
5. Kelemahan dan Insomnia (Bridge)
“Tonight, I’m weak / It’s just another day without you / And I can’t sleep” menunjukkan dampak fisik dari obsesi ini. Kelemahan dan insomnia adalah gejala umum dari tekanan emosional dan ketergantungan patologis.
6> Eskalasi dan Resignasi (Final Chorus & Outro)
Pengulangan chorus dengan sedikit variasi menunjukkan siklus obsesi yang tak berujung. Pengurangan lirik di bagian akhir (“But all I have is time”) menekankan bagaimana waktu telah menjadi satu-satunya yang tersisa—hidup yang dikonsumsi oleh keinginan yang tak terpenuhi.
“I Wanna” dapat dibaca sebagai eksplorasi limerence—kondisi psikologis di mana seseorang mengalami obsesi romantis yang intens terhadap orang lain, seringkali tanpa landasan hubungan timbal balik. Ciri-ciri limerence yang muncul dalam lagu:
Secara keseluruhan, “I Wanna” adalah potret gelap tentang keinginan yang menjadi patologis. Narator terjebak dalam siklus obsesi di mana batas antara cinta dan kejahatan, kebebasan dan penjara, serta kenyataan dan ilusi menjadi kabur. Lagu ini menangkap momen ketika keinginan berubah dari perasaan manusiawi menjadi penjara emosional yang sempurna.
“I Wanna” adalah lagu dari album The All-American Rejects yang berjudul “The All-American Rejects” (2002/2003) – album debut mereka. Lagu ini menunjukkan tema-tema gelap yang akan terus dieksplorasi band dalam karya-karya selanjutnya.
“I Wanna” berbagi tema dengan beberapa lagu lain dalam album debut mereka, tetapi dengan pendekatan yang lebih gelap dan obsesif:
| Lagu | Tema Serupa | Perbedaan Pendekatan | Tone/Energi |
|---|---|---|---|
| “I Wanna” | Keinginan, obsesi, hubungan destruktif | Fokus pada obsesi patologis dan metafora kejahatan | Intens, gelap, dengan energi tertekan |
| “Swing, Swing” | Patah hati, penolakan | Pendekatan lebih melodramatik vs. pendekatan obsesif dan gelap | Melankolis, catchy, dengan chorus yang anthemic |
| “The Last Song” | Hubungan yang berakhir, penyesalan | Fokus pada akhir yang pasti vs. keinginan untuk melanjutkan yang obsesif | Emosional, dramatis, dengan nuansa finalitas |
| “My Paper Heart” | Hati yang hancur, kerapuhan | Metafora kerapuhan vs. metafora kejahatan dan penjara | Rentan, introspektif, dengan instrumentasi akustik |
| “Time Stands Still” | Waktu, momen yang membeku | Fokus pada stagnasi waktu vs. tekanan waktu yang obsesif | Nostalgik, reflektif, dengan tempo sedang |
Berdasarkan tema lagu, video musik “I Wanna” mungkin akan menampilkan: