Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

Lirik Lengkap, Terjemahan, Analisis Makna & Informasi Lagu
“Concrete” adalah lagu dari album kedua As It Is, “Okay” (2017). Lagu ini, seperti yang dijelaskan dalam berbagai sumber, adalah studi mendalam tentang keputusasaan, ketidakmampuan untuk berubah, dan perasaan terjebak dalam identitas diri yang kaku . Metafora “beton” (concrete) digunakan untuk mewakili keadaan emosional yang telah mengeras dan tidak dapat diubah.
Judul: Concrete
Artis: As It Is
Album: Okay (2017)
Posisi: Track #3 (dari 11 lagu)
Status: Bukan single, tetapi menjadi favorit penggemar
Penulis: Patty Walters, Benjamin Biss, dll. (anggota band)
Asal: Brighton, Inggris
Genre: Pop-Punk, Emo, Alternative Rock
Era Album “Okay”: Album ini menandai perkembangan sonik dan lirik band menuju tema yang lebih gelap dan introspektif dibandingkan album debut mereka, “Never Happy, Ever After”.
• Perasaan terjebak dan tidak mampu berubah
• Permanensi sifat-sifat negatif diri
• Konflik antara kebutuhan akan cinta dan ketidakmampuan untuk memenuhinya
• Metafora kekakuan dan ketidakfleksibelan emosional (“beton”)
• Keputusasaan dan penerimaan nasib yang tidak menyenangkan
Meskipun sumber yang ditemukan tidak menyertakan kunci gitar resmi untuk lagu ini, analisis terhadap karakteristik lagu As It Is dan album “Okay” memberikan estimasi yang baik untuk dimainkan.
Estimasi Kunci Dasar: Nuansa lagu yang gelap dan introspektif sangat cocok dengan kunci minor. Lagu ini kemungkinan besar dimainkan di A Minor atau E Minor.
Progresi Akor yang Direkomendasikan:
Untuk menangkap nuansa emosional lagu, coba progresi pop-punk/emo klasik ini:
• Verse (Reflektif): Am – C – G – F (i – III – VII – VI)
• Chorus (“My concrete’s set…”): C – G – Am – F (III – VII – i – VI) dengan energi yang lebih tinggi dan distorsi.
Karakter Bermain:
• **Intro dan verse** mungkin dimulai dengan arpeggio atau riff gitar yang jernih dan melankolis.
• **Pre-Chorus** (“I tell myself that I’ll find my way back home…”) membangun ketegangan menuju chorus.
• **Chorus** adalah bagian yang paling vokal dan emosional, dengan power chords dan strumming penuh untuk menegaskan perasaan “terjebak”.
• **Bridge (“I’m too far gone to change for anyone”)** adalah bagian yang intens dan berulang, sering kali dengan vokal yang lebih keras dan musik yang lebih minimalis sebelum kembali ke chorus terakhir.
1. Dengarkan dan Analisis: Putar lagu aslinya dari album “Okay” dan coba identifikasi nada dasarnya dengan gitar. Mulailah dari kunci A Minor.
2. Cari Cover Penggemar: Platform seperti YouTube sering memiliki cover atau tutorial yang dibuat oleh penggemar. Cari dengan kata kunci “As It Is Concrete guitar cover” atau “Concrete As It Is guitar tutorial”.
3. Eksplorasi Platform Chord: Periksa situs seperti Ultimate Guitar untuk melihat apakah ada pengguna yang telah mengunggah transkripsi chord mereka.
4. Eksperimen dengan Capo: Jika kunci asli terlalu rendah/tinggi, gunakan capo untuk menyesuaikan.
5. Perhatikan Nuansa Album “Okay”: Album ini memiliki produksi yang lebih berat dan gelap dibandingkan album debut. Saat memainkan “Concrete”, cobalah untuk menangkap nuansa keputusasaan dan kekakuan emosional yang menjadi tema lagu.
Lirik berikut diverifikasi dari sumber resmi Genius Lyrics. Terjemahan dibuat untuk memahami konteks dan nuansa setiap baris.
[Verse 1]
[Chorus]
[Verse 2]
[Chorus]
[Bridge]
[Chorus – Final, Repeated x2]
“Concrete” adalah eksplorasi yang kuat tentang perasaan terjebak dalam identitas diri yang kaku dan tidak mampu berubah. Metafora beton (concrete) yang telah mengeras menjadi simbol utama untuk keadaan emosional ini.
1. Metafora “Concrete” sebagai Permanensi dan Kekakuan:
Metafora sentral lagu ini adalah beton yang telah “set” (mengeras). Beton, sekali mengeras, menjadi permanen, kaku, dan hampir tidak mungkin diubah tanpa menghancurkannya. Ini mewakili bagaimana narator melihat sifat-sifatnya sendiri—terjebak dalam pola pikir dan perilaku yang merusak diri sendiri yang telah menjadi bagian permanen dari identitasnya. Pernyataan “I’m stuck this way, now I can never change” adalah pengakuan keputusasaan terhadap kemungkinan transformasi.
2. Kontradiksi Diri dan Ketidakcocokan dalam Hubungan:
Lagu ini dimulai dengan pengakuan bahwa baik narator maupun pasangannya tidak jujur: “You don’t say what you mean when you say I’m what you need” dan “I don’t say what I mean.” Ada pengakuan bahwa narator bukanlah “tempat” yang diinginkan pasangannya, melainkan hanya “tempat-tempat di antaranya”—sebuah penghentian sementara, bukan tujuan akhir. Perasaan “complete but uncomfortable” (utuh tapi tidak nyaman) menangkap paradoks merasa seperti diri sendiri namun tidak bahagia dengan diri itu.
3. Sindrom “Greener Grass” dan Konsekuensi yang Menghancurkan:
Narator mengakui kecenderungannya untuk mencari hal yang lebih baik di tempat lain (“greener grass”), tetapi selalu menemukan bahwa pilihan itu membawa penderitaan (“blankets paths of broken glass”). Ini menunjukkan pola merusak diri di mana upaya untuk menemukan sesuatu yang lebih baik justru menyebabkan lebih banyak rasa sakit. Pengakuan “getting lost is so easy on your own” menggarisbawahi isolasi dan kebingungan yang menyertai pola ini.
4. Ketidakcukupan Cinta dan Harapan:
Baris “It takes more than love to keep you smiling, more than hope to keep you trying” adalah pengakuan yang tragis. Narator menyadari bahwa cinta dan harapan saja tidak cukup untuk mempertahankan hubungan yang sehat. Ini diperparah oleh pengakuan bahwa mereka memiliki “separate principles” (prinsip yang terpisah), yang membuat mereka “inseparable” (tak terpisahkan) menjadi mustahil.
5. Keputusasaan Total: “Too Far Gone” dan “Empty Heart Full of Broken Parts”:
Pengulangan “I’m too far gone to change for anyone” di bridge adalah klimaks dari keputusasaan narator. Ini bukan hanya kesulitan berubah—ini adalah keyakinan bahwa tidak ada kemungkinan untuk perubahan, untuk siapa pun. Frasa “empty heart full of broken parts” adalah paradoks yang kuat—hatinya kosong dari emosi positif tetapi sekaligus penuh dengan puing-puing emosional yang menghalangi fungsi normal.
6. Hubungan dengan Album “Okay” Secara Keseluruhan:
“Concrete” cocok dengan tema album “Okay”, yang mengeksplorasi perjuangan kesehatan mental, identitas, dan penerimaan diri. Lagu ini mewakili titik nadir dalam perjalanan itu—saat seseorang merasa begitu terjebak dalam pola pikir yang merusak sehingga perubahan tampak mustahil. Metafora beton yang mengeras mencerminkan bagaimana masalah kesehatan mental dapat terasa seperti bagian permanen dari diri seseorang yang tidak dapat diubah.
Singkatnya, “Concrete” adalah potret suram tentang seseorang yang telah menerima bahwa mereka “terjebak” dalam keadaan emosional yang kaku dan merusak diri sendiri. Lagu ini tidak menawarkan solusi atau harapan, tetapi memberikan ekspresi yang jujur tentang perasaan tidak mampu berubah yang dialami banyak orang dalam perjuangan kesehatan mental mereka. Ini adalah pengakuan bahwa terkadang, apa yang melindungi kita (seperti beton yang keras) justru menjadi penjara kita.