Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

All Time Low | Track dari album Future Hearts (Dirilis: 3 April 2015)
Lirik asli dari Genius.com. Makna lagu berdasarkan penjelasan Alex Gaskarth di Kerrang! dan interpretasi komunitas.
Konteks Utama: Vokalis Alex Gaskarth menjelaskan bahwa lagu ini adalah “a big middle finger to anyone that’s f–ked us over in the past” (salam satu jari tengah besar untuk siapapun yang telah mengacaukan kami di masa lalu). Lagu ini juga terinspirasi dari fabel klasik “The Boy Who Cried Wolf” karya Aesop, tentang seseorang yang berpikir telah memperdaya orang lain, padahal sebenarnya ketahuan.
Who’s gonna listen when you run out of lies?
Siapa yang akan mendengarkan saat kebohonganmu habis?
Who’s gonna hear you when your words seem worthless?
Siapa yang akan mendengarmu saat kata-katamu tak berarti?
Who’s gonna save you when you’re out of time?
Siapa yang akan menyelamatkanmu saat waktumu habis?
Who’s gonna want you when you’re on your knees begging?
Siapa yang akan menginginkanmu saat kau berlutut memohon?
Oh, please take me at my word, I’m desperate
Oh, tolong percaya kata-kataku, aku putus asa
I swear I never meant to hurt no one, no
Aku bersumpah tak pernah bermaksud menyakiti siapapun
Oh, please stay, for what it’s worth, I’m desperate
Oh, tolong tetaplah, betapapun tak berharganya ini, aku putus asa
You’re on your own
Kau sendirian
**Interpretasi:** Bagian ini diperkirakan meniru suara si pembohong yang kini memohon ampun dan pengampunan. Namun, narator justru membalasnya dengan dingin: “You’re on your own” (Kau sendirian).
So don’t you call my name
Jadi jangan panggil namaku
I will take you down
Aku akan menjatuhkanmu
Should have known that you’ve been dancing with a wolf
Seharusnya tahu bahwa kau telah menari dengan serigala
I’m not your friend, you burned the bridge
Aku bukan temanmu, kau telah membakar jembatannya
I’ll chew you up and spit you out
Aku akan mengunyahmu dan meludahimu keluar
There’s no love for a liar, no love for a liar
Tidak ada cinta untuk pembohong, tidak ada cinta untuk pembohong
Fool me once, it’s shame on you
Bodohi aku sekali, itu memalukan bagimu
Fool me twice and let the wolves come crashing through
Bodohi aku dua kali, dan biarkan serigala-serigala datang menerobos
*Terjemahan dibuat untuk menangkap makna dan nuansa lirik. Sumber lirik: Genius.com.
Dalam wawancara dengan Kerrang!, Alex Gaskarth memberikan penjelasan yang sangat gamblang dan tegas tentang lagu ini. Dia menyebutnya sebagai “a big middle finger to anyone that’s f–ked us over in the past” dan sebuah pesan untuk “anyone who thinks screwing people out there is a way to get what you want”. Pernyataan ini mengonfirmasi bahwa lagu ini adalah **lagu tentang balas dendam dan penegasan kembali kekuatan**. Ini adalah respon band terhadap mereka yang telah mengkhianati, memanfaatkan, atau merugikan mereka—baik dalam konteks hubungan personal maupun mungkin tekanan industri musik. Gaskarth menekankan bahwa All Time Low selalu berusaha menjaga hal-hal tetap positif dan melihatnya membuahkan hasil, sehingga lagu ini adalah pernyataan bahwa pengkhianatan **tidak akan dibiarkan berlalu begitu saja**.
Genius.com mencatat bahwa lagu ini terinspirasi oleh fabel klasik Aesop, The Boy Who Cried Wolf. Dalam fabel itu, seorang penggembala berulang kali berbohong kepada desanya tentang serangan serigala demi perhatian. Ketika serigala benar-benar datang, tak ada yang percaya atau datang menolongnya, karena dia telah kehilangan kredibilitas. “Dancing with a Wolf” **membalikkan perspektif fabel ini**. Di sini, narator-lah yang telah menyadari kebohongan si “penggembala” (orang yang dikhianati). Metafora “dancing with a wolf” bisa berarti bergaul dengan bahaya, terlibat dalam kelicikan, atau percaya bahwa kamu bisa mengakali orang lain tanpa konsekuensi. Lagu ini menyampaikan bahwa si pembohong akhirnya akan ditinggalkan sendirian (“You’re on your own“) tepat seperti akhir dari fabel tersebut.
Lagu ini dibangun dengan struktur naratif yang menarik yang menciptakan semacam **dialog tidak langsung**. Verse 1 dan 2 merupakan serangkaian pertanyaan retoris yang ditujukan kepada si pengkhianat, meramalkan kesepian dan konsekuensi yang akan mereka hadapi. Pre-Chorus kemudian **diduga kuat merupakan suara si pengkhianat yang sedang memohon-mohon dan berdalih**. Namun, chorus yang dipenuhi dengan penolakan keras (“don’t you call my name“, “I’m not your friend“, “no love for a liar“) adalah **jawaban tegas dan final dari sang narator**. Struktur ini memperkuat tema utama: **batasan telah dilanggar, kepercayaan telah hancur, dan tidak ada ruang untuk rekonsiliasi**. Narator tidak lagi berada dalam posisi yang lemah; dia kini yang berkuasa dan mengucapkan selamat tinggal.
Dalam keseluruhan narasi album *Future Hearts* yang membahas tentang menghadapi masa depan, “Dancing with a Wolf” memainkan peran penting sebagai lagu tentang **mengatasi luka masa lalu dan menegaskan batasan**. Jika lagu-lagu seperti “Missing You” menawarkan dukungan, atau “Cinderblock Garden” berbicara tentang membangun cinta dari kekacauan, maka “Dancing with a Wolf” adalah lagu tentang **memotong racun dan bangkit dari pengkhianatan**. Bridge yang sederhana namun kuat (“Fool me once… Fool me twice…“) merangkum filosofi ini: kesalahan bisa dimaafkan, tetapi pengulangan pola pengkhianatan yang sama tidak akan ditoleransi. Lagu ini adalah pernyataan bahwa untuk memiliki “future hearts” (hati masa depan) yang sehat, seseorang harus berani **menghadapi dan meninggalkan orang-orang yang merugikan di masa lalu**.