Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

“Nightmares” adalah lagu yang mengupas sisi paling melankolis dan personal dalam album Last Young Renegade. Alex Gaskarth menggambarkannya sebagai percakapan dengan diri kecilnya sendiri, tentang bagaimana ketakutan masa lalu yang berusaha dikunci rapat-rapat ternyata terus menghantui kehidupan masa kini. Lagu ini berfungsi sebagai pasangan gelap (dark counterpart) dari lagu “Good Times” dalam album yang sama, di mana nostalgia yang indah tidak dapat dipisahkan dari bayangan-bayangan menyakitkan yang menyertainya .
| LIRIK ASLI (ENGLISH) | TERJEMAHAN (BAHASA INDONESIA) |
|---|---|
|
VERSE 1
|
|
| There’s a little house on a perfect little hill | Ada sebuah rumah kecil di bukit kecil yang sempurna |
| Just short of a fairy tale | Hampir seperti dongeng |
| There’s a little child with a million ways to feel | Ada seorang anak kecil dengan sejuta cara untuk merasa |
| Caught up in a hurricane | Terjebak dalam badai |
| Paper thin walls | Dinding yang tipis seperti kertas |
| Angry words from down the hall | Kata-kata marah dari ujung lorong |
| Something changed them | Sesuatu mengubah mereka |
| I think about him every now and again | Aku memikirkan dirinya (si anak kecil) sesekali |
|
CHORUS
|
|
| Now there’s a ghost in the back of this room | Kini ada hantu di sudut ruangan ini |
| And I don’t like it | Dan aku tak menyukainya |
| I fall asleep with my covers pulled up | Aku tertidur dengan selimut ditarik sampai atas |
| And try to fight it | Dan berusaha melawannya |
| I gotta say it’s hard to be brave | Harus kukatakan, sulit untuk menjadi berani |
| When you’re alone in the dark | Saat kau sendirian dalam kegelapan |
| I told myself that I wouldn’t be scared | Aku berkata pada diriku bahwa aku tak akan takut |
| But I’m still having nightmares | Tapi aku masih mengalami mimpi buruk |
| (I’m wide awake, I’m wide awake) | (Aku terjaga, aku terjaga) |
| I’m still having nightmares | Aku masih mengalami mimpi buruk |
|
VERSE 2
|
|
| Every little thing got me coming back around | Setiap hal kecil membuatku kembali berputar |
| Digging up old memories | Menggali kenangan lama |
| Always used to be the one to let it go | Dulu selalu menjadi orang yang bisa melepaskannya |
| Kept my fears in a suitcase | Menyimpan ketakutanku dalam sebuah koper |
| I locked them away | Kukunci mereka jauh-jauh |
| In a place they wouldn’t find | Di tempat yang tak akan mereka temukan |
| They still haunt me | Mereka masih menghantuiku |
| I think about it every now and again | Aku memikirkannya sesekali |
|
CHORUS (ULANG)
|
|
| Now there’s a ghost in the back of this room… | Kini ada hantu di sudut ruangan ini… |
*Lirik diambil dari sumber resmi Genius . Terjemahan dibuat untuk menjaga makna kontekstual dan kejelasan.
“Aku membayangkan sebuah percakapan dengan diriku yang masih kecil, betapa mencerahkannya hal itu, dan apa yang mungkin kupelajari tentang ketakutanku dulu versus sekarang. Kita tumbuh melampaui banyak ketakutan kita, tetapi beberapa tidak pernah berubah… Selama bertahun-tahun aku telah membawa-bawa bagasi yang tak diinginkan. Aku telah melakukan pekerjaan yang baik dengan mendorong segala sesuatunya ke satu sisi, alih-alih menghadapinya langsung, sehingga semua masalah ini menumpuk dan menjadi luar biasa. Lagu ini adalah puncak dari emosi-emosi itu.”
Inti lagu ini adalah percakapan imajiner antara versi dewasa penulis dengan dirinya yang masih anak-anak. “Rumah kecil di bukit” dan “kata-kata marah” melambangkan masa kecil yang tampak ideal di luar, tetapi rapuh dan penuh gejolak di dalam (“dinding tipis kertas”). “Badai” mewakili kekacauan emosional yang dialami anak itu .
“Hantu” adalah metafora kuat untuk kenangan dan trauma masa lalu yang terus menghantui masa kini, muncul saat paling rentan—saat sendirian dalam gelap. Sementara itu, “mengunci ketakutan dalam koper” menggambarkan upaya sia-sia untuk menekan dan melupakan masalah, alih-alih menyelesaikannya .
Dalam konteks album Last Young Renegade, lagu ini sengaja dibuat sebagai sisi berlawanan dari “Good Times“. Jika “Good Times” merayakan nostalgia yang manis, “Nightmares” mengakui bahwa kenangan indah tidak bisa dipisahkan dari rasa sakit yang ikut membentuk kita. Kedua lagu ini menunjukkan bahwa masa lalu memiliki dua sisi yang tak terpisahkan .
Bagian dari album studio ketujuh All Time Low, Last Young Renegade, yang dirilis pada 2 Juni 2017. Lagu ini bukan single, tetapi track penting yang memperdalam tema album .
Memiliki nuansa yang lebih melankolis, lembut, dan atmosferik dibandingkan lagu-lagu pop-punk khas mereka. Suasana musiknya mencerminkan secara langsung perasaan tertekan dan introspektif yang digambarkan dalam lirik .
Ditulis oleh Alex Gaskarth bersama Nicholas Furlong, Andrew Goldstein, Dan Book, dan Colin Brittain . Gaskarth sebagai vokalis utama adalah pengarang utama konsep lirik yang sangat personal ini.
Memperkuat tema sentral album tentang pertumbuhan, transisi ke kedewasaan, dan menghadapi bayangan masa lalu. Lagu ini adalah pengingat bahwa menjadi “renegade” (pemberontak) muda juga berarti berurusan dengan hantu-hantu pribadi .
Untuk memahami perjalanan emosional yang lengkap, dengarkan tiga lagu yang saling terkait dalam album ini: “Good Times” (nostalgia yang pahit-manis), “Nightmares” (bayangan gelap masa lalu), dan “Afterglow” (penerimaan dan harapan untuk melanjutkan). Ketiganya membentuk narasi yang kohesif tentang bagaimana masa lalu membentuk kita.