Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

All Time Low | Single ketiga dari album Dirty Work (2011)
Lirik asli bersumber dari Genius.com. Analisis berdasarkan komentar Alex Gaskarth dan interpretasi komunitas.
Catatan Penting: “Time-Bomb” adalah lagu yang mengangkat tema hubungan yang intens namun mudah meledak. Terjemahan berikut merupakan sintesis dari berbagai sumber yang ada untuk memberikan makna yang akurat.
From the get-go, I knew this was hard to hold
Sedari awal, aku tahu ini sulit digenggam
Like a crash, the whole thing spun out of control
Laksana tabrakan, semuanya berputar tak terkendali
Oh, on a wire, we were dancing
Oh, di atas kawat, kita menari
Two kids, no consequences
Dua anak, tanpa konsekuensi
It was like a time bomb set into motion
Rasanya seperti bom waktu yang sudah diaktifkan
We knew that we were destined to explode
Kami tahu kami ditakdirkan untuk meledak
And if I had to pull you out of the wreckage
Dan jika aku harus menarikmu keluar dari reruntuhan
You know I’m never gonna let you go
Kau tahu aku takkan pernah melepaskanmu
“Got my heart in your hands, like a time bomb ticking / It goes off; we start again / When it breaks, we fix it / Got your heart in my hands, like a time bomb ticking / We should know better / But we won’t let go”
“Hatiku ada di tanganmu, seperti bom waktu berdetak / Ia meledak; kita mulai lagi / Saat rusak, kita memperbaikinya / Hatimu ada di tanganku, seperti bom waktu berdetak / Seharusnya kita lebih tahu / Tapi kita takkan melepaskan”
“Time-Bomb” bercerita tentang dinamika unik sebuah hubungan romantis, yang oleh Alex Gaskarth sendiri dijelaskan sebagai tentang “two people torn apart by their own infatuation with one another” (dua orang yang terpisah oleh ketertarikan mereka satu sama lain). Ini adalah hubungan yang sejak awal sudah dipenuhi intensitas dan ketidakstabilan yang tinggi, namun kedua pihak memilih untuk tetap bertahan di dalamnya.
Narator dalam lagu ini menyadari sejak awal bahwa hubungan ini “hard to hold” (sulit digenggam) dan akan “spun out of control” (berputar tak terkendali). Mereka menggambarkannya sebagai “a time bomb set into motion” (bom waktu yang sudah diaktifkan) yang mereka tahu “destined to explode” (ditakdirkan untuk meledak). Ini bukanlah hubungan yang polos, melainkan hubungan yang dijalani dengan kesadaran penuh akan risiko kehancurannya. Metafora “on a wire, we were dancing” (di atas kawat, kita menari) dengan sempurna menggambarkan ketegangan dan risiko tinggi yang terus-menerus mereka hadapi.
Meski menyadari hubungan mereka seperti “bom waktu”, narator menyatakan komitmen yang kuat: “if I had to pull you out of the wreckage, you know I’m never gonna let you go” (jika aku harus menarikmu keluar dari reruntuhan, kau tahu aku takkan pernah melepaskanmu). Komitmen ini diperkuat di bagian bridge: “We should know better, but we won’t let go” (Seharusnya kita lebih tahu, tapi kita takkan melepaskan). Ini menunjukkan paradoks hubungan semacam ini—mereka tahu hubungan ini tidak sehat atau berisiko, tetapi daya tarik, hasrat, atau ikatan emosional begitu kuat sehingga mereka memilih untuk tetap bertahan dan “fix it” (memperbaikinya) setiap kali ada masalah.
Lagu ini juga mengungkapkan penerimaan atas kerentanan dalam hubungan. Mereka menyebut diri mereka “two kids stupid and fearless” (dua anak bodoh dan tak kenal takut). Frasa “Wouldn’t have it any other way” (Tak ingin seperti yang lainnya) pada chorus menunjukkan bahwa meski berbahaya, mereka tidak ingin hubungan ini berjalan dengan cara lain. Mereka memilih untuk “stay in” (tetap di dalam) badai karena percaya “every storm that comes also comes to an end” (setiap badai yang datang juga akan berakhir). Ini adalah gambaran tentang cinta yang memilih untuk hidup dalam ketegangan saat ini, alih-alih menghindari rasa sakit di masa depan.
Beberapa penggemar menawarkan interpretasi alternatif yang menarik. Lagu ini bisa juga dilihat sebagai metafora untuk persahabatan erat antara anggota band, khususnya Alex Gaskarth dan Jack Barakat yang sudah berteman sejak kecil. “Two kids” bisa merujuk pada mereka, sementara perjuangan “memperbaiki” dan “tidak melepaskan” dapat mencerminkan komitmen mereka untuk menjaga persahabatan dan band melewati pasang surut karier, tekanan kesuksesan (“spun out of control“), dan segala “kekacauan” yang mungkin terjadi dalam industri musik.