Lirik & Terjemahan Bahasa Indonesia
Pasien
“Doctor, doctor, could you please just give me something for the state I’m in”
Dokter
“I can’t prescribe what you want me to. You need some sleep, you better leave”
Intro / Pembukaan Sesi
Hmm. So, tell me about your mother
Hmm. Jadi, ceritakan tentang ibumu
Verse 1: Permohonan Pasien
Doctor, doctor
Could you please just give me something for the state I’m in
I’m having trouble and society believe I got it wrong again
I’m one month sober I don’t think I’m getting over my predicament
But if I jumped out of the window what would she say
Dokter, dokter
Bisakah kau berikan aku sesuatu untuk kondisi yang kualami
Aku sedang bermasalah dan masyarakat percaya aku salah lagi
Aku sudah satu bulan sober dan kurasa aku tidak bisa mengatasi masalahku
Tapi jika aku melompat dari jendela, apa yang akan dia katakan
Chorus 1: Pengakuan Pengkhianatan
It’s not on me, it’s all on you
We can’t deny the things we do
I can’t believe her pretty feet walked over me
All over me
Ini bukan salahku, ini semua salahmu
Kita tak bisa menyangkal hal-hal yang kita lakukan
Aku tak percaya kaki cantiknya menginjak-injakku
Seluruh diriku
Verse 2: Dialog dengan Dokter
Help me, help me doc
It seems to be an awful lot for me to understand
I know I’m not a specimen
The troubles and the mess I’m in
I should be dead
He said, listen son
I think you’ve had all your fun
It’s time to be a man
So you better quit your bitching
Think about what the people would say
Tolong aku, tolong aku dok
Tampaknya terlalu banyak untuk kumengerti
Aku tahu aku bukan spesimen
Masalah dan kekacauan yang kualami
Seharusnya aku mati
Dia berkata, dengar nak
Kurasa kau sudah cukup bersenang-senang
Sudah waktunya menjadi pria
Jadi lebih baik kau berhenti mengeluh
Pikirkan apa yang akan orang katakan
Chorus 2: Frustrasi dengan Sistem
It’s not on me, it’s all on you
I can’t prescribe what you want me to
You need some sleep, you better leave
You walked over me
All over me
Ini bukan salahku, ini semua salahmu
Aku tak bisa meresepkan apa yang kau inginkan
Kau butuh tidur, lebih baik kau pergi
Kau menginjak-injakku
Seluruh diriku
Bridge: Penantian dan Kekosongan
Wait until tomorrow, and it’s gone
So long
Wait until tomorrow, so long
It’s gone
Wait until tomorrow
You beg and steal and borrow ‘til it’s gone
Tunggu sampai besok, dan itu hilang
Selamat tinggal
Tunggu sampai besok, selamat tinggal
Itu hilang
Tunggu sampai besok
Kau memohon dan mencuri dan meminjam sampai habis
Verse 3: Monolog Kecanduan
(He don’t got a lot but he’s got all he needs)
I need someone to love
(And all he’s got well it’s all that he needs)
Somebody help me ‘cause I could hear the voices in the tube
To get me through anything I do and anything will do good by me
A little pill, a little thrill, should I take it I think I will
And anything will do good so as long as it’s always too good
Either way I don’t give a damn what you people all say
All now boy
Oh, oh, oh, oh
(Dia tak punya banyak tapi punya semua yang dibutuhkan)
Aku butuh seseorang untuk dicintai
(Dan semua yang dimilikinya adalah semua yang dibutuhkannya)
Tolonglah aku karena aku bisa mendengar suara-suara dalam tabung
Untuk membantuku melalui apapun yang kulakukan dan apapun akan baik bagiku
Sedikit pil, sedikit sensasi, haruskah aku meminumnya kurasa akan kulakukan
Dan apapun akan baik asalkan selalu terlalu baik
Bagaimanapun aku tak peduli apa yang kalian semua katakan
Sekarang juga nak
Oh, oh, oh, oh
Final Choruses: Balas Dendam & Resolusi
It’s not on me, it’s all on you
I can’t deny the things I do
I can’t believe her pretty feet walked over me
All over me, yeah
It’s not on me (It’s not on me)
It’s all on you (It’s all on you)
Here comes the time to speak the truth
And you can see
Me when I leave
Walked over you
All over you
Ini bukan salahku, ini semua salahmu
Aku tak bisa menyangkal hal-hal yang kulakukan
Aku tak percaya kaki cantiknya menginjak-injakku
Seluruh diriku, ya
Ini bukan salahku (Bukan salahku)
Ini semua salahmu (Semua salahmu)
Saatnya tiba untuk berbicara benar
Dan kau bisa melihat
Aku saat pergi
Menginjak-injakmu
Seluruh dirimu
Tingkat Keputusasaan & Krisis Identitas: 92%
Struktur Musik & Perkiraan Chord
“Walk Over Me” memiliki struktur yang tidak konvensional, menyerupai drama panggung dengan percakapan antara pasien dan dokter, diiringi oleh musik rock yang intens dan gelap.
Struktur Lagu: Intro – Verse 1 – Chorus – Verse 2 – Chorus – Bridge – Verse 3 – Final Choruses – Outro
Intro (Suara terapi, suasana tegang):
Dm C Bb F (progresi dengan nuansa tertekan dan gelap)
Verse 1 (Vokal seperti berbicara, musik minimal):
Dm C
Doctor, doctor could you please just give me something…
Bb F
I’m one month sober I don’t think I’m getting over my predicament…
Chorus (Ledakan emosi, distorsi penuh):
Bb F
It’s not on me, it’s all on you
C Dm
I can’t believe her pretty feet walked over me…
Bridge (Perubahan dinamika, lebih psikedelik):
C Bb
Wait until tomorrow, and it’s gone
F Dm
Wait until tomorrow, you beg and steal and borrow…
Verse 3 (Monolog dengan efek suara, musik berlapis):
Dm C
I need someone to love
Bb F
Somebody help me ‘cause I could hear the voices in the tube…
Outro (Klimaks dengan reversal peran):
Dm C Bb F (berulang dengan vokal yang semakin intens)
Analisis Gaya Musik: “Walk Over Me” menampilkan gaya rock eksperimental yang jarang ditemukan dalam katalog The All-American Rejects. Lagu ini menggunakan dinamika dramatis untuk merepresentasikan pergulatan mental—dari bagian yang tenang seperti percakapan terapi hingga ledakan emosional di chorus. Efek suara “voices in the tube” dan struktur tidak linear mencerminkan pikiran yang kacau dan terfragmentasi. Penggunaan metafora musik untuk menggambarkan “berjalan di atas” seseorang mungkin diwujudkan melalui ritme yang menindas atau progresi chord yang merasa seperti tekanan yang terus meningkat.
Analisis Makna & Tema Psikologis
Lagu “Walk Over Me” adalah eksplorasi gelap tentang kegagalan sistem pendukung mental, kecanduan, dan siklus penyalahgunaan. Melalui narasi sesi terapi yang kacau, lagu ini mengkritik bagaimana masyarakat menangani masalah kesehatan mental dan bagaimana individu bisa terjebak dalam siklus menjadi korban dan kemudian menjadi pelaku.
Metafora Sentral: “Walked Over Me” / “Walked Over You”
Frase ini bekerja dalam beberapa level: secara harfiah tentang dikhianati dalam hubungan, metaforis tentang diperlakukan buruk oleh sistem kesehatan mental, dan secara psikologis tentang perasaan tidak berdaya. Yang menarik, di akhir lagu terjadi reversal: dari “walked over me” menjadi “walked over you”—menunjukkan siklus penyalahgunaan.
| Tema Utama |
Bukti dari Lirik |
Analisis Psikologis |
| Medicalization of Distress |
“Could you please just give me something for the state I’m in”, “I can’t prescribe what you want me to” |
Kritik terhadap kecenderungan untuk mengobati masalah psikologis dengan obat daripada terapi. Pasien mencari solusi cepat (“something”), dokter menolak meresepkan tanpa pemahaman mendalam. |
| Addiction and Sobriety |
“I’m one month sober”, “A little pill, a little thrill, should I take it I think I will” |
Konflik antara pencapaian sobriety (1 bulan bersih) dengan godaan untuk kembali ke zat. “Little pill, little thrill” menunjukkan bagaimana kecanduan dimulai—dari yang kecil menjadi kebutuhan. |
| Failed Therapeutic Alliance |
“Help me, help me doc” vs. “So you better quit your bitching” |
Hubungan terapis-pasien yang gagal total. Alih-alih empati, dokter merespons dengan kekasaran dan minimisasi (“it’s time to be a man”). Ini mencerminkan pengalaman banyak orang dengan profesional kesehatan mental yang tidak empatik. |
| Societal Judgment |
“Society believe I got it wrong again”, “Think about what the people would say” |
Tekanan dari penilaian sosial yang memperparah masalah mental. Pasien sudah merasa dikutuk oleh masyarakat, dan dokter malah menggunakan ancaman penilaian sosial sebagai “pengobatan”. |
| Cycle of Abuse |
“Walked over me” → “Walked over you” |
Transformasi dari korban menjadi pelaku. Narator yang awalnya merasa “diinjak-injak” kemudian membayangkan “menginjak” orang lain. Ini adalah pola umum dalam trauma—korban sering mereproduksi perilaku yang mereka alami. |
Analisis “Voices in the Tube”: Metafora Kecanduan
“I could hear the voices in the tube” – Interpretasi Multi-Lapis:
- Literal: Halusinasi auditori dari gangguan mental atau efek obat
- Metaphorical: “Tube” sebagai slang untuk televisi—suara masyarakat/media yang menghakimi
- Medical: Tabung intravena atau peralatan medis yang memberikan obat
- Psychological: Pikiran intrusif yang “terjebak” dalam “tabung” pikiran sendiri
- Addiction: “Tube” sebagai slang untuk pipa untuk merokok zat terlarang
Siklus Kecanduan dan Pemulihan
Lagu ini menggambarkan siklus kecanduan yang umum:
- Pencapaian Pemulihan: “One month sober” – periode bersih dari zat
- Trigger Emosional: Kegagalan terapi dan perasaan dikhianati (“walked over me”)
- Rationalization: “Anything will do good by me” – rasionalisasi untuk menggunakan
- Relapse: “Should I take it I think I will” – keputusan untuk kembali menggunakan
- Repeat: Siklus dimulai kembali
Analisis Toksik Maskulinitas dalam Terapi
Respons dokter mengandung unsur toksik maskulinitas yang merusak:
Dokter:
“It’s time to be a man” – Menekan ekspresi kerentanan dengan stereotip maskulinitas
Dokter:
“Quit your bitching” – Minimisasi penderitaan dengan bahasa yang merendahkan
Dokter:
“Think about what the people would say” – Menggunakan rasa malu sebagai alat kontrol
Ketiga respons ini mencerminkan bagaimana sistem kesehatan mental (dan masyarakat luas) sering menegakkan norma gender yang berbahaya, yang justru memperburuk masalah mental pria.
Transformasi dari Korban ke Pelaku
Perkembangan paling signifikan dalam lagu ini adalah transformasi narator:
| Fase Awal: Korban |
Fase Akhir: Pelaku |
| “I can’t believe her pretty feet walked over me” |
“Walked over you” |
| Mencari bantuan (“Help me, help me doc”) |
Menolak bantuan (“I don’t give a damn what you people all say”) |
| Peduli dengan penilaian orang lain (“what would she say”) |
Tidak peduli dengan penilaian (“I don’t give a damn”) |
| Merasa tidak berdaya terhadap sistem |
Mengambil kendali dengan menjadi pelaku |
| Menginternalisasi rasa bersalah (“society believe I got it wrong”) |
Mengeksternalisasi kesalahan (“it’s all on you”) |
Ironi Struktural: “Walk Over Me” dimulai dengan perintah terapi klasik “tell me about your mother” (merujuk pada psikoanalisis Freudian) tetapi segera menjadi jelas bahwa terapi tradisional tidak bekerja untuk narator. Justru, terapi itu sendiri menjadi bagian dari masalah—ruang di mana dia kembali “diinjak-injak”. Lagu ini kemudian menjadi metafora untuk bagaimana sistem yang seharusnya menyembuhkan justru bisa melukai, dan bagaimana korban bisa berubah menjadi pelaku dalam siklus penyalahgunaan yang tidak berakhir.
Konteks Album & Perbandingan
“Walk Over Me” adalah track dari album ketiga The All-American Rejects, “When the World Comes Down” (2008). Lagu ini menonjol sebagai salah satu trek paling gelap dan eksperimental dalam album yang secara keseluruhan mengeksplorasi tema kecemasan eksistensial, hubungan yang rusak, dan pencarian makna.
Album
When the World Comes Down (2008)
Posisi dalam Album
Track 10 dari 12
Gaya Musik
Experimental Rock / Alternative Rock
Perbandingan dengan Lagu Lain dalam Album “When the World Comes Down”
“Walk Over Me” berdiri sebagai trek paling gelap dalam album yang sudah gelap:
| Lagu |
Tema Serupa |
Perbedaan Pendekatan |
Tone/Energi |
| “Walk Over Me” |
Masalah mental, keputusasaan |
Struktur drama terapi, narasi gelap eksperimental |
Gelap, intens, putus asa |
| “Gives You Hell” |
Kemarahan, pembalasan |
Energi tinggi catchy vs. eksperimen gelap |
Agresif, catchy, penuh energi |
| “Another Heart Calls” |
Komunikasi yang gagal, hubungan |
Duet melankolis vs. monolog terapi gelap |
Melankolis, intim, reflektif |
| “Mona Lisa” |
Kecantikan dan penderitaan |
Metafora artistik vs. konfrontasi langsung |
Puitis, misterius, contemplative |
| “Real World” |
Kritik sosial, realitas |
Kritik sosial luas vs. pengalaman personal |
Sinis, reflektif, sedikit sinis |
Posisi dalam Narasi Album: Dalam alur album “When the World Comes Down”, “Walk Over Me” muncul menjelang akhir album, setelah lagu-lagu tentang hubungan yang rusak dan sebelum lagu penutup. Ini menempatkannya sebagai titik nadir emosional—momen paling gelap sebelum kemungkinan resolusi atau penerimaan. Posisinya sebagai track 10 dari 12 memberinya peran sebagai klimaks dari tema kegelapan album.
Perbandingan dengan Lagu-Lagu tentang Kesehatan Mental Lainnya
| Lagu & Artis |
Tema Kesehatan Mental |
Perbedaan Pendekatan |
Tone/Energi |
| “Walk Over Me” – The All-American Rejects |
Kegagalan terapi, kecanduan, siklus penyalahgunaan |
Struktur drama terapi, kritik sistemik |
Gelap, intens, putus asa |
| “1-800-273-8255” – Logic ft. Alessia Cara, Khalid |
Pencegahan bunuh diri, harapan |
Pesan positif, nomor hotline aktual |
Emosional, hopeful, uplifting |
| “Heavy” – Linkin Park |
Depresi, beban emosional |
Pengakuan kerentanan, tidak menyalahkan sistem |
Melankolis, berat, introspektif |
| “Anxiety” – Julia Michaels ft. Selena Gomez |
Gangguan kecemasan |
Pengalaman personal, relatable |
Vulnerable, honest, pop |
| “Sober” – Demi Lovato |
Kecanduan, relapse |
Pengakuan pribadi, perjuangan pemulihan |
Raw, emotional, confessional |
| “Numb” – Linkin Park |
Depersonalisasi, tekanan |
Metafora “mati rasa”, tekanan eksternal |
Agresif, frustasi, intense |
Signifikansi dalam Diskografi The All-American Rejects
- Eksperimen Terbesar: “Walk Over Me” mungkin adalah lagu paling eksperimental dalam katalog The All-American Rejects, menyimpang jauh dari formula pop punk/pop rock mereka yang biasa.
- Kedalaman Lirik Tertinggi: Lagu ini mengeksplorasi tema paling gelap dan kompleks—kesehatan mental, kecanduan, kegagalan sistem—dengan keberanian yang jarang ditemukan dalam musik mainstream.
- Keberanian Struktural: Strukturnya yang seperti drama panggung dengan dialog antara pasien-dokter menunjukkan kesediaan band untuk mengambil risiko artistik.
- Puncak Tema Gelap: Jika lagu-lagu sebelumnya tentang patah hati remaja, “Walk Over Me” adalah tentang keputusasaan eksistensial dewasa—perkembangan alami bagi band yang matang.
Resonansi dengan Pendengar: Mengapa Lagu Ini Begitu Powerful
“Walk Over Me” memiliki resonansi khusus bagi pendengar yang:
- Pengalaman dengan Sistem Kesehatan Mental: Banyak yang merasakan kegagalan sistem seperti digambarkan dalam lagu—dokter yang tidak empatik, minimisasi penderitaan, tekanan untuk “sembuh cepat”.
- Perjuangan dengan Kecanduan: Penggambaran konflik antara sobriety dan godaan, antara ingin sembuh dan ingin melarikan diri, sangat relatable bagi mereka yang berjuang dengan kecanduan.
- Siklus Penyalahgunaan: Transformasi dari “walked over me” ke “walked over you” menangkap pola tragis bagaimana korban sering menjadi pelaku.
- Frustrasi dengan Toxic Masculinity: Adegan di mana dokter mengatakan “it’s time to be a man” mengkritik cara masyarakat (dan profesional) menekan ekspresi emosi pria.
- Pengalaman dengan Terapi yang Gagal: Banyak yang mengalami terapi tidak membantu atau bahkan melukai, seperti digambarkan dalam lagu.
Relevansi Kontemporer: Di era meningkatnya kesadaran kesehatan mental, “Walk Over Me” tetap relevan sebagai kritik terhadap sistem yang masih sering gagal. Lagu ini mengingatkan kita bahwa meski ada kemajuan dalam destigmatisasi, masih banyak orang yang mengalami apa yang digambarkan narator—dikirim ke profesional hanya untuk dihadapkan pada minimisasi, penghakiman, dan resep kosong untuk “menjadi pria” atau “berhenti mengeluh”.
Secara keseluruhan, “Walk Over Me” adalah karya yang ambisius dan berani—sebuah lagu yang menggunakan struktur musik untuk mengeksplorasi kegagalan sistem, siklus penyalahgunaan, dan keputusasaan manusia dengan kejujuran yang menghancurkan namun perlu. Lagu ini berfungsi baik sebagai potret personal pergulatan mental maupun sebagai kritik sosial terhadap bagaimana masyarakat menangani penderitaan psikologis.